Coba kita bandingkan shalat dengan mengendarai mobil. Pada mulanya, mengendarai mobil itu terasa amat sulit. Saat kita
mencoba duduk di belakang kemudi, kita serasa berada di ruangan yang sangat besar dan mata kita hanya mampu melihat lurus ke
depan. Logika otak kiri mulai mengarahkan tangan dan kaki dengan perhitungan, bahwa untuk berjalan harus memasukkan gigi satu,
dilanjutkan gigi dua, tiga, empat atau lima.
Sekaligus kita harus berhati-hati menjaga agar roda mobil tidak terperosok ke lobang atau parit. Otak kiri kita sesuai fungsinya
bekerja berdasarkan peraturan membawa mobil yang telah ditetapkan. Namun saat kita hendak memasukkan gigi satu, perintah otak
untuk menginjak kopling terasa tidak seimbang sehingga mobil bergerak melompat. Perhitungan otak kiri dalam kondisi seperti ini
memerintahkan kaki untuk menginjak rem. Lagi-Iagi remnya diinjak dengan logika sehingga mobil berhenti mendadak.
Pengguna otak kiri terlihat tegang saat memegang stir. Tubuhnya tegak dan kaku, matanya menatap ke depan, hampir tidak
berani berkedip. Pikirannya mengira jalanan dibuat terlalu sempit sehingga ia berjalan di tengah-tengah, karena khawatir rodanya
terporosok ke parit.
Sekarang marilah kita padukan potensi otak kiri dan kanan kita dalam mengendarai mobil. Perhitungan otak kiri kita jadikan
sebagai acuan ilmu pengetahuan untuk menjalankan mobil. lnjak kopling, masukkan gigi satu lalu lepaskan pedal kopling pelanpelan,
dengan perasaan. Mula-mula agak kaku dan masih terasa tersendat-sendat. Cobalah terus dirasakan sehingga terjadi
perpaduan antara otak kiri dan otak kanan. Otak kiri akan mengikuti otak kanan yang jauh lebih cerdas, yang mengetahui keadaan di
sisi kiri dan kanan mobil kita. Otak kanan mampu menghitung kapan harus masuk menyalip mobil di depannya dan bagaimana
mengerem dengan tepat tanpa membuat orang terjungkal. Otak kanan kita tidak liar lagi karena telah terpadu dengan otak kiri yang
mampu mengikuti kemana imajinasi pikiran melayang. Dengan sentuhan emosi dan perasaan, membawa mobil menjadi lebih halus
dan seimbang. Inilah yang dinamakan dekonsentrasi bukan konsentrasi. Hasilnya adalah sebuah relaksasi yang menjadikan orang
mampu untuk bekerja lama dan menikmatinya. Sebaliknya kalau otak kiri dan kanan tidak bersinergi maka yang dihasilkan adalah
rasa tidak nyaman dan tegang.
Selama ini kita shalat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri (hukum-hukum fiqh) yang kenyataannya adalah
menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh. Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak
kanan dibiarkan liar oleh karena telah berprinsip:"Yang penting sudah memenuhi syarat sahnya shalat". Padahal Rasulullah telah
memperingatkan, bahwa di dalam shalat atau ibadah apa pun kesadaran spiritual (otak kanan) harus diaktifkan, yaitu merasakan
kehadiran Allah dihadapan kita (ihsan). Hasilnya tentu akan sangat berbeda kalau dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan
hanya memenuhi syarat rukunnya saja. Pengguna otak kanan akan memahami dengan emosinya, bagaimana Allah hadir
menyambut dan memberikan jawaban-jawaban atas permohonannya, serta mampu merasakan rahmat dan ketenangan yang
mengalir secara langsung ke dalam hatinya. Keadaan ini tidak akan bisa diterima oleh perhitungan logika, karena logika tidak
memiliki alat ukur untuk menangkap sisi ini, seperti tidak mampunyai otak kiri menangkap naluri berbisnis, naluri memimpin, naluri
bertempur, yang semuanya timbul dari aktivitas otak kanan yang bersifat intuitif.
Bila pikiran dan cara
berfikir sudah seimbang,
tubuh dan jiwa akan
mengikuti kehendak
pikiran. Ini adalah
sinergi yang diharapkan
dapat menampilkan
kualitas shalat kita
secara optimal.
Niat
Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat.Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya
(HR Bukhari Muslim)
Niat adalah kesadaran untuk mempersatukan kegiatan otak kiri dan otak kanan sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning)
dalam shalat maupun ibadah yang lainnya. Dewasa ini di kalangan masyarakat awam kata "niat" berubah pengertiannya menjadi
"membaca niat", misalnya: aku berniat shalat, aku berniat wudhu' dan lain-lain. Niat dengan pengertian ini tidak
tidak akan membawa
dampak apa-apa terhadap perbuatan yang dilakukan. Seperti halnya ketika seseorang mengangkat karung berisi beras 50 kg , tidak
mungkin ia hanya mengatakan : "Aku berniat mengangkat sebuah karung berisi beras seberat 50 kg". la akan mengangkat dengan
serius. Bersamaan dengan itu, pikirannya berpadu dalam satu kemauan penuh. Berbeda dengan orang mengangkat dengan
sekedarnya. Sikapnya tampak tidak ada semangat sehingga kita mengatakan "Gimana sih, ngangkat kok nggak niat''. Artinya
teguran itu menunjukkan, bahwa niat merupakan pekerjaan yang penuh kesadaran antara pikiran, hati dan perbuatan. Jika ketiganya
telah bekerja sama, maka terjadilah kekuatan yang menghasilkan sebuah tindakan yang baik.
Rahasia kehebatan gerak meditasi tai chi ada pada perpaduan antara gerak yang telah dipola dengan emosi sehingga menghasilkan
energi (chi), yaitu selarasnya kekuatan otak kiri dan otak kanan. Dalam keadaan pasrah (sung), perhitungan dan aturan yang
ditimbulkan oleh otak kiri mengikuti imajinasi otak kanan yang melayang bebas menuju prinsip kekosongan (tao) tanpa keluar dari
gerak yang telah ditetapkan. Perpaduan yang seimbang ini diungkapkan dalam bentuk simbol Yin dan Yang
Kedua unsur yang berbeda tersebut bagaikan dua kutub kekuatan yang sating bertentangan, tetapi keduanya berada dalam satu
magnet yang utuh. Kekuatan dari Yin akan menarik kekuatan dari Yang ataupun sebaliknya.
Dalam pelajaran tai chi, terdapat dua pengertian yang saling bertentangan, besar dan kecil, kuat dan lemah, bahkan ada yang
cepat dan yang lambat. Untuk yang besar pasti menguasai yang kecil akan tetapi si kecil pun harus dapat menguasai yang besar,
yang lambat harus dapat menguasai yang cepat atau yang lemah dapat menguasai yang kuat. Pengertian tai chi disini mengandung
arti positif ataupun negatif. Pengertian negatif disini bukantah sebagai sesuatu yang rendah atau yang tidak diinginkan, akan tetapi
hanya untuk menunjukkan adanya suatu perbedaan yang pokok saja. Sebenarnya baiik Yang maupun Yin keduanya mempunyai
kebaikan juga keburukan.
Di atam raya dan di kehidupan yang nyata, kedua tenaga ini bekerja secara bersama. Keduanya secara bergantian membentuk
suatu keseimbangan guna memberikan suatu kehidupan yang stabil dan sating berhubungan sebagai mata rantai kehidupan.
Eksistensi masing-masing saling bergantung satu dengan yang Iainnya dan masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Orang
yang berprinsip secara tai chi datam kehidupannya sehari-hari, biasanya menjadi orang yang arif, berhati mulia, senang dan bahagia
karena adanya daya tarik yang harmonis di datam tubuhnya dan jiwanya. Untuk mendapatkannya, dipertukan kesadaran penuh
(niat) atau ie (sadar l ngeh) dan sikap sung (pasrah / sumeleh) sehingga kedua kutub tadi akan saling bersinergi dan berpadu
menjadi suatu kekuatan dahsyat. Inilah yang dikatakan oleh Jung sebagai penyatuan dari ego jantan dan betina, animus dan anima,
sehingga didapatkan kondisi jiwa yang tidak terpecah.
Barangkali kita dapat mengambil pelajaran dari prinsip tai chi yang menggabungkan kekuatan gerak dan emosi (perasaan)
dengan dibarengi niat. Di dalam Islam, niat ini merupakan landasan yang paling penting dalam setiap perbuatan ibadah yang kita
lakukan.
Sering kati kita mendengar kata "niat" untuk mengawati setiap perbuatan. Niat merupakan landasan moral dari sebuah perbuatan,
karena niat akan menentukan "nilai" baik atau buruk dan diterima atau tidaknya suatu perbuatan. Niat merupakan dasar dan bentuk
bagi sebuah perbuatan, dimana perbuatan itu sendiri adalah juga isi dari sebuah niat.
Sebagai dasar dan bentuk, ia baru dapat dipahami dengan jelas bila isinya diikutsertakan bersama. Keduanya saling mengisi dan
merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Paduan antara nilai etis dan perbuatan sebagai pelaksanaannya menghasilkan
sesuatu yang disebut moral. Di dalam istilah fikih, niat diartikan qashdu syai muqtarinan bifi'lihi, melakukan suatu perbuatan dengan
kesadaran penuh (consiousnes).
Rasulullah menegaskannya dalam sebuah hadits mutawatir sebagai berikut
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya".
(HR Bukhari Mus(im)
Hal ini juga tercantum dalam riwayat Rasulullah ketika hijrah, yang mengungkapkan pentingnya masalah niat seperti hadits berikut:
"Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) k.arena Allah dan Rasulullah, maka hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah
dan Rasulullah. Dan barang siapa hijrahnya didasari (niat) kerena kekayaan dunia yang akan didapat atau karena
perempuan yang akan dikawini, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia hijrah kepadanya."(Muttafaqun Alaih)
Walaupun sudah dinyatakan bahwa perbuatan merupakan obyek dari etika, namun yang masih perlu diperhatikan selanjutnya ialah
perbuatan apa saja yang bisa dan boleh dihubungkan dengan nilai etis?
Perbuatan jika ditinjau dari sudut suasana bathin, subyeknya ada dua macam:
1. Perbuatan oleh diri sendiri yaitu tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri dalam situasi bebas. Perbuatan
ini dibagi dua, yaitu perbuatan sadar dan perbuatan tidak sadar.
2. Perbuatan oleh orang luar, yaitu tindakan yang dilakukan karena pengaruh orang lain.
Perbuatan sadar dimaksudkan sebagai tindakan yang benar-benar dikehendaki oleh pelakunya, yaitu tindakan yang telah
dipilihnya berdasarkan pada kemauannya sendiri, kemauan bebasnya. Jadi perbuatan ini merupakan tindakan yang dilakukan
tanpa tekanan atau ancaman.
Perbuatan tak sadar ialah tindakan yang terjadi begitu saja diluar kontrol sukmanya, tanpa tekanan atau paksaan. Perbuatan
tak sadar ini bisa terjadi pada saat subjek dalam keadaan sadar, sehingga perbuatan tersebut dinamakan gerak refleks.
Keadaan ini biasa juga terjadi ketika kita melaksanakan ibadah shalat, dimana pada waktu mengucapkan surat maupun pujian
kepada Allah kita tidak menyadarinya. Uniknya, secara refleks mulut mengucapkan ayat demi ayat serta tubuh melakukan
gerakan-gerakan shalat tanpa kekeliruan sama sekali. Padahal kita tidak menyadarinya sampai shalat berakhir.
Perbuatan yang terjadi akibat pengaruh orang luar, mempunyai,corak yang berlainan dan sangat tergantung dari pihak yang
mempengaruhinya. Kuat lemahnya alasan dari pihak luar, akan menentukan bentuk pengaruh yang terjadi. Pengaruh ini bisa
berupa saran, anjuran, nasihat, tekanan, paksaan, peringatan, ancaman dan lain-lain. Paksaan dan ancaman tidak memberikan
kebebasan memilih kepada subjek. la harus melaksanakan sesuatu diluar keinginannya sehingga is berbuat karena terpaksa.
Dari uraian masalah kesadaran atau niat dalam terminologi fiqh di atas, terlihat perbedaan makna dari istilah niat dengan makna
yang sudah terlanjur beredar dalam masyarakat. Padahal kita ketahui bersama, bahwa didalam melaksanakan sebuah ibadah harus
didahului dengan niat. Hal inilah yang mengusik pemikiran saya untuk mengurai dan mempraktekan bagaimana berniat itu. Apakah
niat itu hanya pada awal suatu perbuatan, sebagai syarat sahnya perbuatan tersebut, atau berniat itu adalah melakukan perbuatan
dengan penuh kesadaran sepanjang perbuatan itu berlangsung (qasdusy syai muktarinan bifi'lihi)?
Mari kita coba dan pelajari ilustrasi perbuatan berikut ini
Ambillah sebuah gelas, kemudian isilah gelas itu dengan air hingga penuh rata sampai bibir gelas tanpa tutup.
Lalu berjalanlah dengan membawa gelas tersebut sepanjang seratus meter dari tempat Anda berdiri. jagalah
agar jangan sampai air tumpah sedikitpun.
Anda akan merasakan bagaimana tubuh Anda bekerja bersamaan dengan kesadaran untuk terus menjaga agar air itu tidak
tumpah, sehingga tubuh akan mengikuti gerak kesadaran Anda Jika perhatian itu lengah sedikit saja, maka air itu akan tumpah.
Sepanjang kejadian tersebut berlangsung, Anda memperhatikan dengan penuh kesadaran (niat) agar objek itu tidak lepas dari
pandangan Anda. Secara otomatis, Anda akan mengabaikan suasana yang hiruk pikuk, karena saa itu perhatian dan pikiran Anda
berada dalam satu kesatuan.
ITULAH NIAT ! Niat bukanlah sebuah bacaan atau mantra tetapi suatu perbuatan yang didalamnya terdapat kesadaran penuh yang
mengalir.
Agama mensyaratkan niat sebagai kontrol nilai, apakah ia berada dalam kesadaran ihsan atau tidak, sehingga kadang kala Allah
menegur kita saat beribadah: mengapa kita melakukannya dengan pikiran terpecah (baca: riya)?. Niat kita terkadang berubah pada
waktu berlangsungnya ibadah kepada Allah. Misalnya pada saat kita melakukan shalat, ditengah kita bersujud ternyata pikirar tidak
turut bersujud malah melayang jauh menuju angan-angan.
Pada uraian di atas, telah dijelaskan bagaimana berniat menurut pengertian figh, yaitu menyengaja melakukan suatu perbuatan
dengan penuh kesadaran. Maka aktivitas otak kiri (logika) dan otak kanan (holistik) berpadu menghasilkan kekuatan (daya) yang luar
biasa. Logika akan turut berkembang, mengikuti terbangnya spiritual kita menuju Zat Yang Maha Tinggi. Ibarat sebuah kereta api
yang memiliki jalur rel (baca: logika/ syariat) namun kereta bisa meluncur bebas dengan kecepatan tinggi (baca: spiritual / hakikat)
walaupun dibatasi ruang geraknya hanya dalam jalur yang ditetapkan. Sama dengan seorang meditator yang menemukan rasa
hening dan tentram setelah memadukan kedua kekuatan dengan sikap meditasi, seorang pengendara mobil yang memadukan
logika mekanik dengan perasaan untuk bisa melaju cepat dengan halus dan seimbang, atau seorang bisnisman yang memadukan
kekuatan ilmu ekonomi.: dengan nalurinya (corporate mystic). Semuanya terjadi karena adanya niat dengan pengertian sebenarnya,
bukan hanya membaca niat.
Niat bukanlah
sebuah bacaan atau
mantra tetapi suatu
perbuatan yang di
daIamnya terdapat
kesadaran penuh yang
mengalir.
Tuma'ninah, sebuah teknik relaksasi dalam shalat
Apabila kamu rukuk letakkanlah kedua telapak tanganmu pada lututmu, kemudian renggangkanlah jari jarimu, lalu diamlah,
sehingga setiap anggota badan (ruas tulang belakang)kembali pada tempatnya
(HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Sebuah riwayat rnenerangkan, bahwa sebelurn shalat Subuh, Rasulullah mempunyai kebiasaan melakukan istirahat dalarn posisi
tiduran miring yang disebut qailulah. Kebiasan ini belau lakukan pula menjelang shalat Dhuhur. Relaksasi sebigaimana Rasulullah
lakukan rnerupakan hal penting bagi orang yang hendak melakukan shalat, karena shalat rnerupakan jalan meditasi atau perjalanan jiwa
menuju Allah sehingga diperlukan persiapan yang serius namun rileks.
Shalat berbeda dengan olah raga, karena shalat sepenuhnya bersifat terapi, baik fisik maupun jiwa. Gerakan tubuh pada saat shalat,
tidak dilakukan dengan hentakkan atau gerakan keras seperti halnya orang olah raga senarn dalarn peregangan otot, akan tetapi
gerakan shalat dilakukan dengan rileks dan pengendoran tubuh secara alarniah, seperti gerakan orang ngulet saat bangun tidur. Orang
tai chi pun melakukan meditasi dengan gerakan ngulet, yaitu gerakan yang telah dipola Mengikuti alur tubuh secara alarni. Di dalarn
tum'aninah, aspek meditasi jelas sekali. Saat berdiri, benar-benar berdiri. Bukan berdiri seperti orang berupacara bendera atau berdiri
seperti orang latihan karate, tetapi berdirilah yang tenang dan kendor agar seluruh organ tubuh berada dalam posisinya secara alami.
Anda bisa merasakannya pada saat Anda berdiri di tepi pantai melihat pemandangan yang indah, debur ombak bergulungan
menghampiri sampai menyentuh kaki Anda. Saat itu tubuh Anda sangat rileks, seluruh organ tubuh menempati posisinya. Anda berdiri
nyaman dan santai, seperti berdirinya anak kecil usia balita.
Kamis, 09 April 2009
sholat2
inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh hanifan, wama ana minal musyrikin.
Aku hadapkan wajahku kepada wajah Zat Yang Menciptakan langit dan bumi seluru selurusnya dan ruhku tidak terhambat
oleh benda-benda (syirk).
Sebuah cara yang sederhana untuk menempatkan ruhani kembali kepada hakikatnya yang sejati. Ruh ingin lepas bebas di saat
terjadi musibah atau persoalan yang sangat sulit dipecahkan, lalu ia berkata : "Sesungguhnya aku berasal dari Allah dan kepada-
Nya aku kembali". Idza ashabathum mushibah gaaluu inna lillahi wa inna ilahi rajiuun.4
Di dalam kehidupan, kita sering menghadapi persoalan yang sulit untuk dipecahkan atau tiba-tiba kita mendapatkan rasa gelisah
dan cemas. Lalu, apa yang kita rasakan ketika hal itu terjadi kepada hati kita? Secara naluriah muncul keinginan kita keluar dari
gelora yang mengguncang dalam dada. Kita akan merasa lega kalau kita pergi ke tempat yang jauh, ke gunung yang tinggi, Ice laut
yang luas, ke rumah teman, atau menghalau perasaan itu dengan pergi berkaraoke. Namun semua itu sifatnya hanya sementara,
(Hedonis) tenang sebentar setelah itu muncul lagi.
Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk bisa meninggalkan persoalan yang terjadi dalam hatinya. Dorongan ini adalah fitrah
manusia. Namun dorongan ini diselewengkan oleh pengertian yang keliru sehingga ruh dianggap senang kalau dibawa ke tempattempat
hiburan di muka bumi ini. Padahal, ia bukan berasal dari negeri materi atau alam-alam rendah (bumi). la adalah ruh suci yang
dihembuskan oleh Tuhan yang berasal dari sisi-Nya yang luas. Maka apabila ia diarahkan kepada Zat Sang Pencipta, ia akan lari
meluncur secepat kilat. la akan merasa senang dan bahagia secara hakiki, karena itulah inti dari perjalanan spiritual manusia.
Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah haditsnya, bahwa shalat itu adalah mi'raj-nya orang-orang mukmin, yaitu naiknya
jiwa (mi'raj) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Mungkin bagi
kita yang awam agak canggung dengan istilah mi'raj, yang kita kenal sebagai sebuah peristiwa luar biasa hebat yang pernah dialami
Rasulullah SAW dan menghasilkan perintah shalat.
4 AI Qur'an surat AI Baqarah 2 : 156.
Mengapa Rasulullah mengatakan bahwa shalat merupakan mi'raj-nya orang-orang mukmin? Adakah kaitannya dengan mi'raj-nya
Rasulullah SAW itu, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha?
Mungkinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW melalui shalat? Apakah kita bisa berjumpa dengan Allah
ketika shalat? Begitu mudahkah berjumpa dengan Allah? Jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Adakah
rahasia dibalik shalat?
Misteri ini hampir tak terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan
bahwa manusia tidak mungkin berjumpa dengan Allah di dunia. Mereka meyakini, bahwa perjumpaan dengan Allah hanya akan
terjadi di akhirat nanti. Akibatnya, mereka tak mau ambit pusing mengenai hakikat shalat atau bahkan mereka menganggap shalat
hanya sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.
Ketika muncul pertanyaan mengenai cara mencapai khusyu' dalam shalat, muncul pula beraneka ragam jawaban. Ada yang
menganjurkan untuk mengerti arti setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat, ada juga yang menganjurkan memandang ke arah
tempat sujud (sajadah) sebagai upaya memfokuskan pikiran agar tidak liar ke sana ke mari, dan beraneka jawaban lainnya. Namun
pada pokoknya, semua cara tersebut harus menyentuh hakikat shalat, yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang
disembah.
Kita sudah lelah mengupayakan dan mengerahkan tenaga untuk mencapai khusyu', akan tetapi tetap saja pikiran kita
menerawang tidak karuan. Tanpa disadari, kita sudah keluar dari "kesadaran shalat". Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa
banyak orang shalat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan shalat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi
karena Allah.
Firman Allah dalam surat Al Ma'un 107 ayat 4-6
Fawailul lil mushallien - Maka kecelakaanlak bagi orang-orang yang shalat,
Allladzina hum an shalaatihin saahun - (yaitu) orang-orang yang lalai akan shalatnya,
Allladzina hum yuraauuna - orang-orang yang berbuat riya'
Pada ayat ke lima, didahului oleh kalimat alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya
yaitu saahun (orang yang lalai, yaitu orang yang shalatnya tidak dilandasi niat tertuju kepada Allah). Celakalah baginya karena dasar
perbuatan shalatnya telah bergeser dari "karena Allah" menjadi "karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)". Atau bagi orang yang
dalam shalatnya tidak menyadari, bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya Yang Maha Agung sehingga pikirannya
melayang liar tanpa kendali. Shalat yang demikian adalah shalat yang shahuun (badannya shalat namun jiwa dan pikirannya tidak
shalat). Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki shalat sebagai jalan untuk mengingat (sadar) akan
Allah sebagaimana firman Nya
..... maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha 20: 14)
..... dan janganlah. kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. Al A'raaf, 7: 205)
Hai orang-orang yang beriman, janganfah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa
yang kalian ucapkan.... (QS. An Nisa', 4: 43)
Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah shalat, yaitu untuk mengingat Allah Azza Wajalla.
Bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan apa yang ia lakukan. Shalat semacam inilah yang
banyak kita lakukan selama ini,sehingga kita tidak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah
dariperbuatan fasik dan mungkar.5
Sebenarnya nabi sudah memberikan penjelasan secara teknis langkah-langkah melakukan
shalat, yaitu melalui pendekatan psikologis untulk membangkitkan kesadaran diri, sehingga realitas spiritual benar-benar terwujud
dengan baik Yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang tentram.
Firman Allah SWT:
.... laa taqrabu shalata wa antum sukaara ...
....janganlah engkau mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)
... (QS. An Nisal´, 4: 43 )
Kalimat laa taqrabu (janganlah kamu mendekati) mempunyai kandungan maksud bahwa kita dilarang mendekati perbuatan shalat.
Sebagian ulama menganggap haram hukumnya jika orang mendekati shalat dalam keadaan tidak sadar. Hal ini dikaitkan dengan
kalimat larangan yang juga menggunakan kata "laa taqrabu" seperti dalam beberapa firman Allah:
laa taqraba haadzihisy syajarah - jangan engkau dekati. pohon ini. (QS. Al Baqarah 2: 3 5)
waa laa taqrabuu fawaahisya - janganlah engkau dekati keburukan. (QS. Al A'nam, 6:151)
Laaa taqrabuz zina - janganlah engkau mendekati zina. (QS. Al Isra', 17: 3 2)
Wala taqrabu maala'l yatiimi -jangan(ah kamu dekati harta anak Yatim. (QS. Al A'nam,. 6: 152)
Larangan (nahyi) ini ditujukan kepada para mushallin agar tidak melakukan shalat jika masihbelum sadar bahwa dirinya sedang
berhadapan dengan khaliq-nya. Bentuk larangan seperti kata laa taqrabuush shalata (jangan engkau mendekati shalat) dan laa
tarabaa hadzihisy syajarata (jangan kalian mendekati pohon ini
5 AI Qur'an surat AI 'Ankabuut 29: 45.
mempunyai sifat yang sama, yaitu larangan untuk mendekati sesuatu (benda) atau perbuatan. Dan itu merupakan syarat mutlak dari
Allah.
Mari kita renungkan. Untuk mendekatinya saja kita dilarang, apa lagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan, Allah telah
memberikan peringatan bahwa shalat kita itu akan sia-sia sehingga shalat tidak lagi menjadi alat atau sarana untuk menciptakan
karakter mukmin yang berakhlak mulia.•Shalat yang demikian (lalai), akan menjemukan dan membuat kita merasa lelah. Shalat tidak
memberikan rasa nyaman, enak dan menyenangkan. Kalau sudah demikian, nafsu kita tidak bisa dikendalikan karena ruh telah
tenggelam. Sang tuan atas tubuh kita, yaitu ruh, telah kehilangan kontak dengan sang pemberi petunjuk, sang pemberi ilmu, dan juru
penerang.
Kita merasakan betapa shalat menjadi beban sejak kecil. Kita selalu ketakutan kalau tidak melaksanakan shalat. Di waktu itu, guru
dan orang tua telah banyak andil menakut-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka,sehingga setiap kali ada
suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu
dengan doktrin tersebut. Kita tidak pernah disadarkan, bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran
dan perasaan hati kita, bahwa shalat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang, bahwa shalat itu merupakan tempat kita
mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuan pikiran. Tetapi doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam
benak kita. Sehingga tidak bisa dipungkiri, bahwa shalat menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan. Kita sudah berupaya
melakukannya dengan serius. Kita sudah menepis khayalan dalam pikiran agar bisa berkonsentrasi menemui Allah. Namun akhirnya
kita merasa tak berdaya untuk bangkit dan berkomunikasi dengan Allah. Padahal Nabi telah mengisyaratkan dalam beberapa
haditsnya:
"Amal yang pertama-tama ditanyai Allak pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima,
maka akan diterimu seluruk amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya.
"Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikat
mereka tidak shalat. "
" Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialak amanat,
dan kececeran yang terakkir ialak shalat. Dan sesungguknya (akan terjadi) orang-orang
melakukun shalat, sedanq mereka tidak berakhlak ".
Peringatan Rasulullah di atas adalah hal yang masuk akal. Apapun pekerjaan itu, baik shalat, bekerja di ladang, maupun bekerja
di kantor, jika tidak dilakukan dengan serius akan menghasilkan pekerjaan yang buruk dan tidak bermanfaat. Pekerjaan shalat
merupakan bukti keseriusan yang tidak dilihat oleh orang. Shalat adalah pekerjaan jiwa, pekerjaan yang didasari oleh rasa ihsan.
Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka pekerjaan yang lainnya akan dilakukan pula dengan serius dan tidak main-main. Shalat
yang khusyu' akan menimbulkan etos bekerja yang profesional dan penuh tanggung jawab. Bukan sekedar ingin dilihat oleh direktur
atau atasan kita, tetapi lebih dari itu. Pekerjaan kita memberikan efek kepuasan yang luar biasa terhadap jiwa, karena ruh kita
bergantung kepada Allah yang telah memberikan jalan rezeki. Berbeda jika kita bekerja karena ingin dilihat orang lain, rasa bahagia
itu tidak mampu menghujam ke dalam bathin kita yang dalam. Malahan kita akan sangat tergantung kepada orang lain sehingga kita
dikendalikan oleh kemauan nafsu yang dangkal. Ruhani kita kering dan mudah cemas, karena orang lain tidak tahu kemauan bathin
kita secara utuh. Biarkan setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah karena Allah, Allah yang mengerti kemauan kita, Allah yang
menurunkan kebahagiaan ke dalam jiwa kita.
Keseriusan untuk melaksanakan shalat dengan baik akan menghasilkan rasa sambung (tuning) atau khusyu'. Secara umum,
praktek ini sudah jarang kita temui di masjid-masjid. Shalat dianggap sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, bukan suatu
kesadaran untuk berkomunikasi dan kembali kepada Allah. Kita telah melupakan, bahwa esensi shalat adalah mi'raj kepada Allah,
sebagai alat penolong dan perjumpaan dengan sang pencipta alam semesta.
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya
Kita sering mendapatkan keluhan dari masyarakat Islam, bahwa shalat itu memang sangat sulit dan berat, apalagi dituntut harus
khusyu'. Namun ayat di atas memudahkan kita untuk lebih mengerti kedalaman spiritualitas shalat dengan sangat sederhana.
Kita disadarkan secara kejiwaan tentang khusyu', bukan diajak berkonsentrasi dan mencari khusyu'. Kita disadarkan bahwa Allah itu
dekat. Allah menyambut setiap doa. Allah memandang dan menurunkan ketenangan secara langsung ke dalam hati kita yang
gelisah. Allah menerangi hati yang gelap. Dalam konteks ini sebenarnya kita tidak dituntut apa-apa kecuali hanya disuruh yakin dan
beriman, karena Allah yang akan lebih banyak berperan terhadap kita.
Kita adalah objek Allah yang sepatutnya mendapatkan penerangan, ketenangan jiwa, dan petunjuk.
Kita tidak dituntut untuk bisa khusyu', meredam marah, berahlak mulia. Kita hanya perlu datang kepada Allah dengan apa adanya,
tidak perlu merekayasa dengan "gaya teater" yang penuh kepura-puraan. Inilah kita! Orang yang gelap yang sedang menunggu
penerangan. Oran lupa yang sedang menunggu peringatan. Orang bodoh yang sedang menunggu pengajaran. Orang gelisah yang
sedang menunggu diturunkan ketenangan. Itu semua adanya di dalam kekuasaai Allah, kehendak Yang Maha Mutlak.
Perasaan khusyu' tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat
shalat kita sedang berhadapan dengan Allah, sedang berkata - kata dengan Allah. Perjumpaan ini yang dipandang tidak mungkin
oleh sebagian orang, bahkan menganggap Allah tidak berada di sini, dekat dengan kita!
Penjelasan pada ayat berikutnya terdapat kata alladzina yadzhunnuuna annahum mulaaquu - rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun, bahwa orang yang khusyu' adalah orang yang mempunya kesadaran ruhani (dzhan) bahwa dirinya sedang bertemu
dengan Tuhannya. Dengan kesadarannya itulah mereka kembali kepada Nya (berserah diri), seperti tercantum dalam lafadz iftitah:
inni wajahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha haniifan musliman wama ana minal musyrikin inna shalati wanusuki
wa mahyaya wa mamati lillahirabbil 'alamin (kuhadapkan muka dan jiwaku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi
dengan keadaan tunduk dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta).
Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepada Nya ruh itu akan kembali, maka perjalanan ruhani kita berhenti atau
terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respons dari Allah itu tidak ada. Padahal pertemuan dengan Allah yang disebutkan di atas
terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung.
Ada sebagian orang menerjemahkan bahwa "bertemu Allah" hariya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai dengan kata yang
tercantum dalam ayat tersebut, sebab pada kalimat-alladzina yadhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun - adalah orang yang (sedang) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya mereka kembali.
Penggunaan isim fail (pelaku atau subjek) pada ayat tersebut menegaskan, bahwa subjek itu melakukan sesuatu pada saat
sekarang atau sedang berlangsung, karena didahului kata yadzhunnuna ( adalah bentuk fiil mudhori '). Di dalam kitab Al Qawaaidul
`Arabiya, Al Muyassarah jilid 1 halaman 79, wa hua fi'lul alladzi yadullu 'ala hadatsin fi zamanin haadhir au mustaqbalin,
menerangkan waktu (zaman) haadhir au istigbal yaitu peristiwa yang dilakukan saat sekarang dan akan datang atau pekerjaan itu
sedang berlangsung. Maka bagi orang yang mengartikan bahwa kembali atau bertemu dengan Allah yang dimaksud adalah nanti di
akhirat saja, sangatlah tidak masuk akal, karena jika pendapatnya demikian akan muncul pertanyaan: Jadi selama ini ketika kita
shalat menghadap kepada siapa? Di manakah Allah saat kita sedang menyembah Nya?
Bagaimana dengan pernyataan Allah dalam surat Thaha, 20 ayat 14:Sesungguhnya Aku ini adalah.Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlak shalat untuk mengingat Aku.
Begitu jelas, bahwa objek persembahan ketika shalat adalah Aku, bukan nama Ku akan tetapi kepada wujud Ku yang hak. Kepada
Dia yang tidak terjangkau oleh pikiran, Yang Tidak Sama Dengan Makhluknya, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Dekat,
Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui Lintasan Hati.
Sebaiknya kita menyandarkan pengertian ini kepada ulama besar agar kita merasa lebih tenang. Di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an,
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai surat Al Bagarah, 2 : 45-46.6
Menurut Sayyid Qutub pada umumnya bahwa dhamir 'kata ganti' pada "innaha" adalah ajakan untuk mengakui kebenaran dengan
segala sesuatunya ini sangat berat, sulit dan sukar, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' dan tunduk kepada Allah, yang merasa
takut dan bertakwa kepada Ny serta yakin dan percaya bahwa mereka akan bertemu dengan Nya dan kembali kepada Nya.
Memohon pertolongan dengan sabar ini diulang beberapa kali karena sabar ini merupaka bekal yang harus dimiliki di dalam
menghadapi setiap kesulitan dan penderitaan. Dan, penderitaan yang pertama kali ialah lepasnya kekuasaan, kedudukan, manfaat,
dan penghasilan demi menghormati kebenaran dan mengutamakannya, serta mengakui kebenaran dan tunduk kepadanya.
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai bagaimana memohon pertolongan melalui shalat. Beliau memahami bahwa
sesungguhnya shalat merupakan alat komunikasi dan pertemua antara hamba dengan Tuhannya, sehingga timbul hubungan yang
kuat di dalam hati untuk meminta pertolongan Nya sampai terasa ruhnya berhubungan dengan Nya. Kemudian jiwa akan
mendapatka respons atau jawaban sebagai bekal yang paling berharga, lebih dari pada perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana
dicontohkan oleh Rasulullah di dalam riwayat
Apabila salah satu diantara kalian mempunyai urusan (persoalan) maka shalatlah
dua rakaat di luar shalat fardhu (shalat sunnah).
(HR Bukhari dan lainnya dalam kitab Mukhtaruh Sahih wal Hasan hal 124)
Rasulullah sangat erat hubungannya dengan Allah sehingga ruhnya mampu menangkap informasi (berupa jalan keluar) yang
diperoleh melalui wahyu maupun ilham.
Hal inilah yang diharapkan oleh Sayyid Qutub kepada ummat Islam agar menjadikan shalat sebagai jalan meditasi yang tertinggi
dari segala meditasi yang ada. Shalat merupakan anugerah bagi kaum mukmin karena ia akan mengalami ketenangan yang luar
biasa. Rohnya akan merasakan kedamaian ketika sedang bertemu dengan Rabb-nya serta menunggu jawaban atas pemecahan
masalah yang akan diberikan kepadanya. Inilah jalan atau tharikat yang shahih yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya.
Bagi seorang mukmin, shalat ibarat sumber mata air yang mengalir tiada habisnya pada saat terik panas matahari, sedangkan
perbekalan sudah mulai habis. Dengan shalatlah mereka mendapat tempat beristirahat dan sekaligus menghilangkan rasa dahaga
yang dirasakan rohaninya.
Selanjutnya Sayyid Qutub memberikan penegasan bahwa penggunaan kata "dzan" pada kalimat "alladzina yadzunnuuna
annahum mulaquu rabbihim" dan akar katanya, bukan bermakna "sangkaan" tetapi diartikan "keyakinan berjumpa dengan Allah". Arti
ini dianggap yang lebih tepat, karena banyak keterangan serupa terdapat di dalam Al Qur'an maupun dalam kaidah bahasa Arab
pada umumnya.
Kesadaran bahwa kita bisa bertemu dengan Allah dalam shalat ditegaskan pada firman Allah surat Al Insyigaaq, 84 ayat 6:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh.-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya.
Nabi telah mengisyaratkan, bahwa di dalam melaksanakan shalat, beliau selalu melakukannya dengan serius dan penuh hormat.
Karena beliau menyadari sedang bertemu dengan Allah subhanahu wata' ala. Hal ini ditunjukkan di dalam beberapa riwayat:
Al Has an ra. berkata: `Jika kalian melakukan shalat, berdirilah dengan tenang sebagaimana diperintahkan Allah, dan jagalah. dirimu
jangan sampai lupa, lalai dan menoleh. Jagalah, dirimu jangan sampai Allah memandang kalian sedang memandang selain Allah.,
janganlah sampai kalian mengucapkan ucapan memohon sorga kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari siksa jahanam
sedang hatimu lalai tidak mengerti apa yang diucapkan oleh lisanmu sendiri." (dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashar Al Marwazi
ra).
Dari Ustman Abi Aus, ia berkata: "Ada berita yang sampai kepadaku, bahwa Rasulullah SAW pernah. shalat dengan bacaan
keras, setelah. selesai lalu bersabda: `Apakah ada ayat dari surat yang saya baca tadi yang saya tinggakan (tidak saya
baca?):' Para sahabat menjawab: `Kami tidak mengerti (tidak tahu).' Lafu Ubay bin Kaab berkata: `Ya benar ada, ayat ini dan
ini.' Kemudian Nabi bersabda: `Mengapa masih ada kaum yang dibacakan kitab Allah,lalu tidak mengerti ayat-ayat yang
tertinggaf tidak terbaca? Karena demikian itulah maka keagungan Allah dikeluarkan dari hati kaum Bani Israil, badan
wadagnya menyaksikan sedang hatinya kosong. Allah tidak akan menerima amal seorang hamba,sehingga hati dan badan
wadagnya bersama-sama menyaksikan (hadir)."'
Banyak sekali hadits yang menerangkan hal yang sama, seperti dalam atsar di bawah ini
Isham bin Yusuf ra. berjalan melalui Hatim Al Asham yang sedang berbicara di tengah majelisnya. Lalu Isham bertanya: "Hai Hatim,
sudah baguskah shalat kamu?" Hatim menjawab: "Ya, sudah bagus." Isham berkata: "Nah, bagaimana cara engkau shalat?"
Hatim menjawab: Saya melaksanakan perintah. Saya berjalan dengan rasa takut kepada Allah, saya memasuki shalat dengan
niat, saya bertakbir mengagungkan Allah, saya membaca dengan tartil dan memikirkannya. Saya rukuk dengan khusyu', saya sujud
dengan tawadhu' (merendahkan diri). Saya duduk membaca tasyahud dengan sempurna.Saya salam dengan niat dan saya
mengakhiri shalat dengan ikhlas karena Allah semata.
Saya menyadarkan diriku dengan rasa takut. Saya merasa khawatir jangan jangan shalatku tidak diterima dan saya tetap
menjaganya dengan semaksimal mungkin sampai matiku nanti." Isham berkata: "Silakan saudara terus berbicara. Anda telah
melakukan shalat dengan bagus.
Perasaan khusyu' tidak
mungkin bisa didapatkan
jika kita tidak memiliki
kesadaran dan
kepercayaan, bahwa
sebenarnya di saat shalat
kita sedang berhadapan
dengan Allah
Mengevaluasi ulang shalat kita
Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengingatkan kembali tentang ibadah shalat kita selama ini. Barang kali sebagian masyarakat
merasa tidak perlu untuk mengadakan evaluasi mengenai shalatnya karena menganggap shalat sebagai tugas dan kewajiban dari
Allah yang tidak layak bagi manusia untuk menilainya. Semua telah diserahkan kepada Allah karena ini adalah urusan Nya. Suka
tidak suka, ya harus shalat. Enak atau tidak enak yang penting memenuhi tuntutan kewajiban, tidak perlu dibahas lagi ! Kalau
ditanya, mengapa kita shalat? la akan menjawab : "Biar tidak masuk neraka". Sikap seperti ini yang dikatakan sebagai konsep
teosentris, seolah Allah-lah yang membutuhkan peribadatan kita. Allah butuh disembah, butuh disanjung dan butuh dibesarbesarkan
nama Nya.
Evaluasi ini menyoroti tentang peran shalat ketika kehidupan sedang menghadapi cobaan. Yang terlebih penting lagi adalah
shalat sanggup memberi jawaban terhadap pertanyaan: "Kemana saya harus meminta pertolongan ketika saya gelisah, ketika saya
tidak mampu menjawab persoalan yang sangat pelik dalam kehidupan ini?". Shalat diharapkan mampu memberikan jalan keluar
sebagaimana Rasulullah telah melakukannya. Apabila beliau mengalami kesulitan di dalam memutuskan sesuatu perkara maka
segera beliau melakukan shalat dua raka'at untuk memohon petunjuk Allah. Konsep ini yang mendasari pemikiran saya, bahwa
shalat bukanlah untuk Allah tetapi untuk kebutuhan kita sendiri (antroposentris). Kewajiban shalat bukanlah untuk memberikan
beban bagi kita. Karena itu perlu disadari, bahwa yang telah ditetapkan Allah merupakan suatu jalan untuk memberikan kemudahan
bagi manusia, sebagaimana kita memahami wajibnya sekolah di perguruan tinggi terkemuka. Betapa pun biayanya sangat mahal
akan tetapi tetap diusahakan untuk mencapainya. Karena kita menyadari bahwa sekolah merupakan hal yang bermanfaat dalam
kehidupan manusia, yaitu menjadikan kita akan lebih baik dari orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, yang digambarkan oleh
Raden Ajeng Kartini sebagai "kegelapan peradaban".
Shalat sebagai kekuatan yang tertinggi dalam kebutuhan fitrah manusia memiliki beberapa aspek dan efek yang bermanfaat, antara
lain
• mengandung tuntunan meditasi transendental,
• efek kesehatan,
• relaksasi,
• terapi fisik, pikiran, dan jiwa yang sangat sempurna.
Mungkin bisa dikatakan shalat itu sebagai meditasi yang paling lengkap dan paling dalam.
Saya tidak mengatakan, bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana melakukan shalat yang khusyu', karena sulit
untuk mengukur derajat shalat yang demikian seperti sulitnya mengukur rasa cinta kepada seseorang. Kita tidak bisa menilai
cinta seseorang hanya karena ia selalu memberi uang atau sering mengunjungi rumah kekasihnya setiap malam Minggu. Buku ini
akan mengungkapkan dari segi hikmah shalat secara subyektif (pribadi), yaitu sebuah pengalaman (experience) yang bisa Anda
rasakan langsung manfaatnya. Pengalaman tentang bagaimana shalat mampu memberikan rasa tenang, rasa santai dan merasakan
keluasan jiwa kalau dilakukan dengan sikap meditatif. Bukan sikap shalat seperti orang yang sedang diburu hantu, lari tunggang
langgang tanpa kesadaran, yang penting kewajiban shalat dipenuhi. Diharapkan setelah mencoba mempraktekan latihan-latihan
shalat dengan benar, kita akan mampu menemukan kembali sesuatu yang hilang dalam diri kita. Rasa kembali kepada Allah secara
fitrah, tempat ruhani kita beristirahat saat berada didekat Nya, tempat
Mengapa shalat khusyu sulit didapatkan ?
Allah menghedaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, (Al Bagarah, 2: 185 )
Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hiddupnya. Peluang itu sebenarnya bisa
diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita memahami
hal ini dengan paradigma keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi kaya terlebih
dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna.
Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi ini sebenarnya ada pada diri kita sendiri.
Banyak ( yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperoleh. Anda telah membuktikan
dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah
dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Cinta dan bahagia muncul dari dalam diri kita sebagai potensi yang paling asas
manusia. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kita minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak
sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.
Pertanyaan pertama yang muncul di benak kita adalah: "Mengapa shalat khusyu' sulit didapatkan?" Sementara di lain pihak, tak
terhitung banyaknya orang seluruh dunia, sejak ribuan tahun lalu, mengolah kerohaniannya dengan caranya masing-masing. Jadi
pasti ada sesuatu yang dapat mereka peroleh darinya. Bahkan beberapa teknik dianjurkan dalam bentuk yang berbeda oleh hampir
setiap agama dan sistem kepercayaan. Ummat Islam pun memiliki cara meditasi tersendiri, yaitu shalat yang memiliki gerakan dan
bacaan tertentu sebagai terapi mental spiritual dan kesehatan tubuh sehingga diharapkan memberi manfaat bagi pelakunya. Akan
tetapi jarang orang yang mampu mengungkapkannya sebagai sebuah pengetahuan praktis yang bersifat universal, bahwa shalat
merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan kedamaian, ketenangan dan keselamatan. Bukan hanya sekedar
mengatakan, bahwa shalat itu wajib hukumnya bagi orang Islam, tanpa mendalami maksud dan tujuan shalat dalam konteks
manfaatnya bagi manusia.
Sebagaimana banyak pelaku meditasi mengatakan bahwa di dalam bermeditasi terdapat perasaan pulang ke rumah (perasaan
nyaman), seolah-olah menemukan suatu benda berharga yang sempat hilang. Lawrence IeShan, dalam bukunya "Bagaimana
Bermeditasi" menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara
samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita
kehilangan benda tersebut.7
7 Rosalind Widdowson, Meditasi, terjemahan Ricky Nalsya. Penerbit Inovasi 2002. Halaman 12
Dan apakah sesuatu yang hilang dari kita itu?
la adalah kontak dengan potensi diri kita yang mungkin pernah kita miliki yaitu berupa ketenangan dan kebahagiaan. Semua
orang merindukan keadaan ini, baik orang kaya maupun miskin. Namun kadang-kadang kita tergoda dengan melakukan
kesenangan eksternal yang bersifat temporer dan tak akan berlangsung lama. Kita mencari ketenangan dengan biaya yang sangat
mahal untuk sekedar santai dan mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Kita Tdak pernah menyadari untuk memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tempat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan. Akibatnya
kita tdak pernah mendengar jamaah di masjid memperbincangkan pengalaman shalat yang baru saja dilakukan. Sehabis shalat,
ekspresi mereka tampak datar dan hambar. Tidak menunjukkan keadaan hati yang sedang
berbahagia karena tersentuh cahaya Ilahi. Berbeda dengan para pelaku meditasi. Ekspresi mereka menunjukkan adanya
kebahagiaan dan perasaan nyaman, sehingga mereka pun ketagihan untuk mengulang kembali meditasi yang telah membawanya
ke dalam diri yang hening dan damai.
Meditasi telah diminati oleh banyak orang diberbagai negara maju maupun berkembang, temasuk di Indonesia, karena dirasakan
langsung ada manfaatnya. Meditasi telah menjadi sebuah solusi yang handal untuk menjawab persoalan kehidupan masyarakat
modern di barat. Banyak kajian-kajian ilmiah mengenai psikologi transendental yang telah diteliti oleh para ilmuwan dari efek
meditasi, misalnya dalam penyembuhan pasien yang mengalami gangguan stress.
Sungguh menakjubkan bila kita tahu betapa banyaknya waktu yang digunakan orang untuk mendapat pengetahuan mengenai
cara mencapai kebahagiaan jiwa yang hakiki (ekstasis). Para penganut aliran Jung berpendapat, bahwa dengan penyatuan dari ego
jantan dan ego betina, animus dan anima, maka didapatkan kenyataan jiwa yang tidak pecah.
Apakah diakui atau tidak, kebanyakan orang Islam pun terlibat dalam sebuah pencarian yang melelahkan untuk memperoleh hal
sama (ekstasis), yaitu sebuah kekhusyu'an. Sayangnya, sampai kini tidak banyak sarjana muslim yang berani membicarakannya
secara objektif. Mungkin karena mereka sudah menganggap shalat sebagai ibadah mahdhah yang tidak boleh disentuh oleh kajian
ilmiah yang bersifat apa adanya. Di lain pihak, banyak juga orang yang mengatakan bahwa khusyu' hanya bisa dilakukan oleh orangorang
terpilih saja, seperti para Nabi dan wali-wali Allah. Kita hanya diperintahkan untuk memenuhi kewajiban bukan disuruh
melakukannya dengan khusyu'. Yang terpenting syarat rukunnya sah, nanti diakhirat akan didapatkan pahala yang melimpah. Kalau
sudah berpendapat seperti ini, sulit bagi kita untuk membahas persoalan khusyu' dari sisi psikologi, yang barangkali merupakan akar
persoalan kegagalan kita dalam shalat. Seperti halnya perintah membaca Al Qur'an dibulan Ramadhan (tadarus), kita merasa
bangga kalau kita telah membacanya sebanyak tiga puluh juz. Sementara kita melupakan, bahwa perintah membaca Al Qur'an itu
bukanlah sekedar mengejar target bersyair dan berlomba paduan suara, akan tetapi untuk dikaji (mengaji) dan dilaksanakan.
Perintah membaca Al Qur'an merupakan kewajiban pertama dan merupakan jendela ilmu yang akan kita raih dari kandungan setiap
ayatnya. Kita banyak berhenti pada kalimat perintah awal tanpa ingin mengetahui mengapa kita diperintahkan untuk itu. Prinsip ini
mempengaruhi kultur masyarakat kita terhadap etos kerja dan belajar yang amat rendah.
Syariat shalat telah menjadi bagian aktivitas yang menjemukan, bukan menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Nabi sebagai
tempat istirahatnya jiwa dan tubuh, sebagaimana sabda beliau: "Wahai Bilal jadikanlah shalat sebagai istirahatmu". Berbeda dengan
prinsip yang telah kita jalani selama ini, bahwa shalat merupakan sesuatu yang membebani. Kita akan merasa lega dan terbebas
dari beban itu setelah kita mengucapkan salam di akhir shalat. Terkadang jadi amat lucu mendengar seseorang ketika diajak shalat
mengatakan: "Ah nanti saja shalatnya kalau pikiranku sudah tenang". Hal ini menunjukkan bahwa shalat sudah merupakan bagian
rutinitas yang amat membebani hidup. Shalat bukan lagi bagian dari kebutuhan ruhani selayaknya orang butuh istirahat (rileks) di
gunung, di pub atau rekreasi di pantai untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Barangkali pelatihan shalat yang akan saya
utarakan nanti akan bisa membantu memasuki pengalaman (experience) yang menyenangkan dan bisa dirasakan manfaatnya
secara langsung. Insya Allah.
Kita tidak pernah
menyadari untuk
memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong,
sumber hidup, penerang
jiwa & tempat kita
bertanya tentang
persoalan yang sulit
dipecahkan.
Mencoba konsentrasi
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah (HR Abu Daud)
Kita terbiasa menggunakan istilah konsentrasi untuk setiap melakukan pekerjaan yang serius sehingga tergambar di raut muka,
wajah penuh ketegangan dan kening mengkerut menambah kesan, bahwa kita sedang berkonsentrasi.
Keluhan pertama yang kita rasakan selama shalat adalah sulit berkonsentrasi! Upaya kita untuk menempuh kekhusyu'an dengan
menggunakan konsentrasi dalam shalat hampir selalu gagal. Ketika shalat, pikiran tetap melayang-layang tidak bisa dikendalikan.
Padahal segala tata cara syariat telah terpenuhi, baik bacaan maupun raka'atnya. Namun lagi-lagi pikiran pergi tanpa kompromi.
Tahu-tahu shalat sudah usai tanpa disadari.
Otak seperti bekerja sendiri-sendiri. Yang satu bekerja mengeluarkan memori bacaan dan gerakan yang telah biasa dilakukan
setiap shalat secara refleks, sedangkan pikiran yang satu berjalan memikirkan pekerjaan di luar shalat yang dirasa belum selesai.
Hal ini disebabkan karena otak memiliki dua belahan, otak kiri dan otak kanan, dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Kemampuan otak kiri atau left cerebral hemisphere adalah melakukan proses berpikir yang bersifat logis, sekuensial, linear dan
rasional. Sisi ini sangat teratur walaupun, berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara
berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas yang teratur seperti ekspresi verbal dalam menulis, membaca, mengartikan pendengaran/
menempatkan detail dan fakta fenotik serta simbolik. Di dalam shalat, otak kiri berkaitan dengan syariat shalat seperti hitungan
raka'at, bacaan dan berurutan (tertib).
Di sisi lain, otak kanan atau right cerebral hemisphere berpikir secara acak, tidak tidak teratur, intuitif dan holistik (spiritual). Cara
berpikirnya sesuai dengan hal-hal yang bersifat non verbal seperti mengetahui perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan
dengan perasaan, merasa kehadiran suatu benda atau orang lain, kesadaran ruang, pengenalan bentuk dan pola, musik,seni,
kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Acuan utama otak kiri adalah memorisasi, hafalan. Para peserta pendidikan formal di seluruh tingkatan, dituntut untuk mampu dan
mahir di dalam hafalan serta memiliki sistem memorisasi yang baik. Itulah parameter keberhasilan yang saat ini dipakai dalam sistem
pendidikan Seseorang yang tidak memiliki kemampuan memorisasi cukup tinggi akan dinilai sebagai kurang berhasil di dalam
pendidikannya. Ini suatu vonis yang akan berlangsung seumur hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupannya kelak.
Memorisasi dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan seseorang di masa depan. Ini sudah
menjadi semacam hukum tak tertulis di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah
dan terhitung primitif. Itulah yang menurut Dr Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit cyber yang menjadikan pikiran manusia modern
berubah menjadi pikiran mekanis dan digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebutkan sebagai HIV dan AIDS di dunia
inteligensi/ pikiran, Human Intellingence Virus yang menimbumbulkan Acquired Intellingence Deficiency Syndrome. Inteligensi
manusia bisa lenyap karena virus sehingga intelligence-nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational intelligence, tidak
lain dari pada digital intelligence 8. Orang seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah dan
penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang dengan hukum hukum positif sajal
8 Dr Hidayat Nataatmaja ,intelligence spiritual .Perenial Press 2001
Barangkali ini soal cara berpikir yang efektif meskipun tidak lengkap, tetapi sudah menjadi kebiasaan kita karena pengajaran
agama atau pendidikan di sekolah yang lebih memfungsikan potensi otak kiri. Cara berpikir ini, membuat pikiran kita hanya terarah
pada satu tujuan tertentu yang memang sudah dipolakan. Kita tidak memiliki alternatif selain mengulang pola tersebut. Bila pola itu
tidak bisa dipakai, yang terjadi adalah kita terpaksa mengulangi proses dari awal lagi, setahap demi setahap. Orang akan sangat
efektif, tetapi sekaligus juga kaku dan tidak berkembang. Inilah permulaan kita memahami penyebab mengapa kekhusyu'an sulit
diperoleh. Karena kita hanya mengaktifkan fungsi otak kiri sementara potensi otak kanan dibiarkan liar melayang secara tidak teratur.
Sebagai contoh, mari kita lihat dalam ilustrasi di bawah ini:
Seorang ibu memberikan arahan di saat-saat yang sangat penting, yaitu di kala anaknya akan duduk di pelaminan dalam acara
resepsi pernikahannya: "Kalian harus bersikap ramah dan tampak sumringah (ceria) dihadapan para tamu".
Undangan telah disebar untuk sekitar empat ribu orang. Acara diselenggarakan di sebuah gedung yang cukup mewah dengan
sentuhan adat Jawa yang menambah kesan sakral. Acara dimulai, irama musik Kebo Giro sudah mengalun. Satu persatu tamu
undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Sesuai dengan pesan ibunya, keduanya harus menjaga penampilan yang
iebih dari biasanya. Untuk seratus tamu undangan pertama, wajah mempelai mampu mempertahankan keramahan dengan
senyumannya yang bersih dan bersinar penuh pesona. Namun setelah lima ratus undangan, otaknya mulai bekerja, memerintahkan
syaraf bibirnya untuk terus tersenyum, agar sorot matanya tetap bersinar, pundaknya tetap rileks, namun si mempelai tampak
kewalahan dan kecapaian.
Itulah batasan otak kiri di dalam melakukan aktivitasnya yang sekuensial, digital, linier, teratur dan logis. Namun ia tidak memiliki
kemampuan abstraksi, imajinasi, intuisi dan holistik (spiritual). Akibatnya, berpikir dengan otak kiri akan mudah mengalami
kejenuhan karena tidak adanya wilayah yang luas di dalam pikirannya. la telah dipola untuk tersenyum sebagaimana yang telah
dijadikan pola-pola dalam sekolah kepribadian pada dunia modeling maupun pramugari. Mereka diharuskan untuk bersikap ramah
dan tampil menarik. Sementara sikap ini muncul bukan dari inner beauty yang berasal dari aktivitas otak kanan yang tidak bersifat
rasional tetapi relasional, emosional dan spiritual.
Hal ini telah diperingatkan oleh Nabi kepada para peshalat yang hanya mengarah kepada aktivitas syariat yang logis. Hanya
teratur dalam bacaan dan raka'at tanpa memperhatikan hakikat rasa ihsan dan keyakinan yang muncul dari emosional dan bersifat
relasional. Akibatnya timbul rasa jenuh dan capek.
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan leah.
Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa shalat malah menjadi beban bukannya sebagai obat penenang? Ketika pola berpikir rasional
menyebabkan jenuh dan stress, orang-orang di Barat menggunakan meditasi sebagai alternatif terakhir untuk mencapai pencerahan
dan ketenangan. Bagi orang yang tidak memahami akan hal ini, agama akan menjadi beban hidupnya. Allah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
(Al Bagarah, 2:185)
Awareness adalah kata lain untuk berpikir secara seimbang dan lengkap dengan memakai otak Kiri dan kanan secara sadar dan
efektif. Selama ini kita gagal untuk melakukannya. Ketidakseimbangan cara berpikir ini akan berpengaruh kepada tubuh, secara fisik
maupun psikis, sehingga langsung berpengaruh terhadap cara beribadah kita yang dinamakan tidak khusyu'. Kita menjadi tidak bisa
berkonsentrasi karena terasa pikiran pecah (berjalan terpisah). Akibatnya shalat menjadi menjemukan dan capek. Sebagaimana
yang sering kita rasakan, pekerjaan yang paling menjemukan adalah pekerjaan menunggu. Namun, kita akan bisa berlama-lama
kalau berdua dengan seorang kekasih sehingga putaran jam terasa berjalan begitu cepat. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Pada saat shalat, otak kiri telah bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menghitung, mengatur raka'at, dan membaca secara
verbal setiap kalimat yang telah dipola serta mengulang-ulangnya. Di sisi lain, otak kanan telah lari kemana-mana sesuai dengan
potensinya yang acak, melayang mencari inspirasi dan intuisi. Dan karena sifat holistik memiliki loncatan quantum yang lebih cepat
dari pada apa yang kita pikirkan, maka ia mampu masuk ke dalam ruangan tak terbatas. Apabila pikiran dan cara berpikir sudah
seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat
kita secara optimal. Setiap orang berhak atas pencerahan ini, walaupun barangkali ukuran dan intensitasnya tidak sama dengan
para wali dan nabi. Paling tidak, untuk merasakan sentuhan Ilahi secara langsung bukan lagi sebuah utopia yang sulit diraih.
Khusyu' bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Sering kita mendengarkan penjelasan metode
yang menyatakan tentang pembelajaran kecerdasan emosional spiritual. Padahal yang dilakukan dengan metode tersebut tetap saja
merupakan unsur pembelajaran kognitif yang dimodifikasi dan tetap berkonsep matematis (otak kiri). Metode yang lainnya juga
sering berbicara tentang masalah shalat khusyu' tetapi pembicaraannya hanya di sekitar masalah karakteristik. Caranya tidak pernah
beranjak ke arah suatu pelatihan atau pemahaman yang mampu menggerakkan atau mengaktifkan bagian otak kanan, sehingga
shalat khusyu' hanya menjadi bagian dari impian saja.
Aku hadapkan wajahku kepada wajah Zat Yang Menciptakan langit dan bumi seluru selurusnya dan ruhku tidak terhambat
oleh benda-benda (syirk).
Sebuah cara yang sederhana untuk menempatkan ruhani kembali kepada hakikatnya yang sejati. Ruh ingin lepas bebas di saat
terjadi musibah atau persoalan yang sangat sulit dipecahkan, lalu ia berkata : "Sesungguhnya aku berasal dari Allah dan kepada-
Nya aku kembali". Idza ashabathum mushibah gaaluu inna lillahi wa inna ilahi rajiuun.4
Di dalam kehidupan, kita sering menghadapi persoalan yang sulit untuk dipecahkan atau tiba-tiba kita mendapatkan rasa gelisah
dan cemas. Lalu, apa yang kita rasakan ketika hal itu terjadi kepada hati kita? Secara naluriah muncul keinginan kita keluar dari
gelora yang mengguncang dalam dada. Kita akan merasa lega kalau kita pergi ke tempat yang jauh, ke gunung yang tinggi, Ice laut
yang luas, ke rumah teman, atau menghalau perasaan itu dengan pergi berkaraoke. Namun semua itu sifatnya hanya sementara,
(Hedonis) tenang sebentar setelah itu muncul lagi.
Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk bisa meninggalkan persoalan yang terjadi dalam hatinya. Dorongan ini adalah fitrah
manusia. Namun dorongan ini diselewengkan oleh pengertian yang keliru sehingga ruh dianggap senang kalau dibawa ke tempattempat
hiburan di muka bumi ini. Padahal, ia bukan berasal dari negeri materi atau alam-alam rendah (bumi). la adalah ruh suci yang
dihembuskan oleh Tuhan yang berasal dari sisi-Nya yang luas. Maka apabila ia diarahkan kepada Zat Sang Pencipta, ia akan lari
meluncur secepat kilat. la akan merasa senang dan bahagia secara hakiki, karena itulah inti dari perjalanan spiritual manusia.
Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah haditsnya, bahwa shalat itu adalah mi'raj-nya orang-orang mukmin, yaitu naiknya
jiwa (mi'raj) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Mungkin bagi
kita yang awam agak canggung dengan istilah mi'raj, yang kita kenal sebagai sebuah peristiwa luar biasa hebat yang pernah dialami
Rasulullah SAW dan menghasilkan perintah shalat.
4 AI Qur'an surat AI Baqarah 2 : 156.
Mengapa Rasulullah mengatakan bahwa shalat merupakan mi'raj-nya orang-orang mukmin? Adakah kaitannya dengan mi'raj-nya
Rasulullah SAW itu, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha?
Mungkinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW melalui shalat? Apakah kita bisa berjumpa dengan Allah
ketika shalat? Begitu mudahkah berjumpa dengan Allah? Jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Adakah
rahasia dibalik shalat?
Misteri ini hampir tak terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan
bahwa manusia tidak mungkin berjumpa dengan Allah di dunia. Mereka meyakini, bahwa perjumpaan dengan Allah hanya akan
terjadi di akhirat nanti. Akibatnya, mereka tak mau ambit pusing mengenai hakikat shalat atau bahkan mereka menganggap shalat
hanya sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.
Ketika muncul pertanyaan mengenai cara mencapai khusyu' dalam shalat, muncul pula beraneka ragam jawaban. Ada yang
menganjurkan untuk mengerti arti setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat, ada juga yang menganjurkan memandang ke arah
tempat sujud (sajadah) sebagai upaya memfokuskan pikiran agar tidak liar ke sana ke mari, dan beraneka jawaban lainnya. Namun
pada pokoknya, semua cara tersebut harus menyentuh hakikat shalat, yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang
disembah.
Kita sudah lelah mengupayakan dan mengerahkan tenaga untuk mencapai khusyu', akan tetapi tetap saja pikiran kita
menerawang tidak karuan. Tanpa disadari, kita sudah keluar dari "kesadaran shalat". Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa
banyak orang shalat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan shalat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi
karena Allah.
Firman Allah dalam surat Al Ma'un 107 ayat 4-6
Fawailul lil mushallien - Maka kecelakaanlak bagi orang-orang yang shalat,
Allladzina hum an shalaatihin saahun - (yaitu) orang-orang yang lalai akan shalatnya,
Allladzina hum yuraauuna - orang-orang yang berbuat riya'
Pada ayat ke lima, didahului oleh kalimat alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya
yaitu saahun (orang yang lalai, yaitu orang yang shalatnya tidak dilandasi niat tertuju kepada Allah). Celakalah baginya karena dasar
perbuatan shalatnya telah bergeser dari "karena Allah" menjadi "karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)". Atau bagi orang yang
dalam shalatnya tidak menyadari, bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya Yang Maha Agung sehingga pikirannya
melayang liar tanpa kendali. Shalat yang demikian adalah shalat yang shahuun (badannya shalat namun jiwa dan pikirannya tidak
shalat). Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki shalat sebagai jalan untuk mengingat (sadar) akan
Allah sebagaimana firman Nya
..... maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha 20: 14)
..... dan janganlah. kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. Al A'raaf, 7: 205)
Hai orang-orang yang beriman, janganfah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa
yang kalian ucapkan.... (QS. An Nisa', 4: 43)
Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah shalat, yaitu untuk mengingat Allah Azza Wajalla.
Bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan apa yang ia lakukan. Shalat semacam inilah yang
banyak kita lakukan selama ini,sehingga kita tidak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah
dariperbuatan fasik dan mungkar.5
Sebenarnya nabi sudah memberikan penjelasan secara teknis langkah-langkah melakukan
shalat, yaitu melalui pendekatan psikologis untulk membangkitkan kesadaran diri, sehingga realitas spiritual benar-benar terwujud
dengan baik Yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang tentram.
Firman Allah SWT:
.... laa taqrabu shalata wa antum sukaara ...
....janganlah engkau mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)
... (QS. An Nisal´, 4: 43 )
Kalimat laa taqrabu (janganlah kamu mendekati) mempunyai kandungan maksud bahwa kita dilarang mendekati perbuatan shalat.
Sebagian ulama menganggap haram hukumnya jika orang mendekati shalat dalam keadaan tidak sadar. Hal ini dikaitkan dengan
kalimat larangan yang juga menggunakan kata "laa taqrabu" seperti dalam beberapa firman Allah:
laa taqraba haadzihisy syajarah - jangan engkau dekati. pohon ini. (QS. Al Baqarah 2: 3 5)
waa laa taqrabuu fawaahisya - janganlah engkau dekati keburukan. (QS. Al A'nam, 6:151)
Laaa taqrabuz zina - janganlah engkau mendekati zina. (QS. Al Isra', 17: 3 2)
Wala taqrabu maala'l yatiimi -jangan(ah kamu dekati harta anak Yatim. (QS. Al A'nam,. 6: 152)
Larangan (nahyi) ini ditujukan kepada para mushallin agar tidak melakukan shalat jika masihbelum sadar bahwa dirinya sedang
berhadapan dengan khaliq-nya. Bentuk larangan seperti kata laa taqrabuush shalata (jangan engkau mendekati shalat) dan laa
tarabaa hadzihisy syajarata (jangan kalian mendekati pohon ini
5 AI Qur'an surat AI 'Ankabuut 29: 45.
mempunyai sifat yang sama, yaitu larangan untuk mendekati sesuatu (benda) atau perbuatan. Dan itu merupakan syarat mutlak dari
Allah.
Mari kita renungkan. Untuk mendekatinya saja kita dilarang, apa lagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan, Allah telah
memberikan peringatan bahwa shalat kita itu akan sia-sia sehingga shalat tidak lagi menjadi alat atau sarana untuk menciptakan
karakter mukmin yang berakhlak mulia.•Shalat yang demikian (lalai), akan menjemukan dan membuat kita merasa lelah. Shalat tidak
memberikan rasa nyaman, enak dan menyenangkan. Kalau sudah demikian, nafsu kita tidak bisa dikendalikan karena ruh telah
tenggelam. Sang tuan atas tubuh kita, yaitu ruh, telah kehilangan kontak dengan sang pemberi petunjuk, sang pemberi ilmu, dan juru
penerang.
Kita merasakan betapa shalat menjadi beban sejak kecil. Kita selalu ketakutan kalau tidak melaksanakan shalat. Di waktu itu, guru
dan orang tua telah banyak andil menakut-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka,sehingga setiap kali ada
suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu
dengan doktrin tersebut. Kita tidak pernah disadarkan, bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran
dan perasaan hati kita, bahwa shalat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang, bahwa shalat itu merupakan tempat kita
mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuan pikiran. Tetapi doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam
benak kita. Sehingga tidak bisa dipungkiri, bahwa shalat menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan. Kita sudah berupaya
melakukannya dengan serius. Kita sudah menepis khayalan dalam pikiran agar bisa berkonsentrasi menemui Allah. Namun akhirnya
kita merasa tak berdaya untuk bangkit dan berkomunikasi dengan Allah. Padahal Nabi telah mengisyaratkan dalam beberapa
haditsnya:
"Amal yang pertama-tama ditanyai Allak pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima,
maka akan diterimu seluruk amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya.
"Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikat
mereka tidak shalat. "
" Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialak amanat,
dan kececeran yang terakkir ialak shalat. Dan sesungguknya (akan terjadi) orang-orang
melakukun shalat, sedanq mereka tidak berakhlak ".
Peringatan Rasulullah di atas adalah hal yang masuk akal. Apapun pekerjaan itu, baik shalat, bekerja di ladang, maupun bekerja
di kantor, jika tidak dilakukan dengan serius akan menghasilkan pekerjaan yang buruk dan tidak bermanfaat. Pekerjaan shalat
merupakan bukti keseriusan yang tidak dilihat oleh orang. Shalat adalah pekerjaan jiwa, pekerjaan yang didasari oleh rasa ihsan.
Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka pekerjaan yang lainnya akan dilakukan pula dengan serius dan tidak main-main. Shalat
yang khusyu' akan menimbulkan etos bekerja yang profesional dan penuh tanggung jawab. Bukan sekedar ingin dilihat oleh direktur
atau atasan kita, tetapi lebih dari itu. Pekerjaan kita memberikan efek kepuasan yang luar biasa terhadap jiwa, karena ruh kita
bergantung kepada Allah yang telah memberikan jalan rezeki. Berbeda jika kita bekerja karena ingin dilihat orang lain, rasa bahagia
itu tidak mampu menghujam ke dalam bathin kita yang dalam. Malahan kita akan sangat tergantung kepada orang lain sehingga kita
dikendalikan oleh kemauan nafsu yang dangkal. Ruhani kita kering dan mudah cemas, karena orang lain tidak tahu kemauan bathin
kita secara utuh. Biarkan setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah karena Allah, Allah yang mengerti kemauan kita, Allah yang
menurunkan kebahagiaan ke dalam jiwa kita.
Keseriusan untuk melaksanakan shalat dengan baik akan menghasilkan rasa sambung (tuning) atau khusyu'. Secara umum,
praktek ini sudah jarang kita temui di masjid-masjid. Shalat dianggap sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, bukan suatu
kesadaran untuk berkomunikasi dan kembali kepada Allah. Kita telah melupakan, bahwa esensi shalat adalah mi'raj kepada Allah,
sebagai alat penolong dan perjumpaan dengan sang pencipta alam semesta.
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya
Kita sering mendapatkan keluhan dari masyarakat Islam, bahwa shalat itu memang sangat sulit dan berat, apalagi dituntut harus
khusyu'. Namun ayat di atas memudahkan kita untuk lebih mengerti kedalaman spiritualitas shalat dengan sangat sederhana.
Kita disadarkan secara kejiwaan tentang khusyu', bukan diajak berkonsentrasi dan mencari khusyu'. Kita disadarkan bahwa Allah itu
dekat. Allah menyambut setiap doa. Allah memandang dan menurunkan ketenangan secara langsung ke dalam hati kita yang
gelisah. Allah menerangi hati yang gelap. Dalam konteks ini sebenarnya kita tidak dituntut apa-apa kecuali hanya disuruh yakin dan
beriman, karena Allah yang akan lebih banyak berperan terhadap kita.
Kita adalah objek Allah yang sepatutnya mendapatkan penerangan, ketenangan jiwa, dan petunjuk.
Kita tidak dituntut untuk bisa khusyu', meredam marah, berahlak mulia. Kita hanya perlu datang kepada Allah dengan apa adanya,
tidak perlu merekayasa dengan "gaya teater" yang penuh kepura-puraan. Inilah kita! Orang yang gelap yang sedang menunggu
penerangan. Oran lupa yang sedang menunggu peringatan. Orang bodoh yang sedang menunggu pengajaran. Orang gelisah yang
sedang menunggu diturunkan ketenangan. Itu semua adanya di dalam kekuasaai Allah, kehendak Yang Maha Mutlak.
Perasaan khusyu' tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat
shalat kita sedang berhadapan dengan Allah, sedang berkata - kata dengan Allah. Perjumpaan ini yang dipandang tidak mungkin
oleh sebagian orang, bahkan menganggap Allah tidak berada di sini, dekat dengan kita!
Penjelasan pada ayat berikutnya terdapat kata alladzina yadzhunnuuna annahum mulaaquu - rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun, bahwa orang yang khusyu' adalah orang yang mempunya kesadaran ruhani (dzhan) bahwa dirinya sedang bertemu
dengan Tuhannya. Dengan kesadarannya itulah mereka kembali kepada Nya (berserah diri), seperti tercantum dalam lafadz iftitah:
inni wajahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha haniifan musliman wama ana minal musyrikin inna shalati wanusuki
wa mahyaya wa mamati lillahirabbil 'alamin (kuhadapkan muka dan jiwaku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi
dengan keadaan tunduk dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta).
Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepada Nya ruh itu akan kembali, maka perjalanan ruhani kita berhenti atau
terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respons dari Allah itu tidak ada. Padahal pertemuan dengan Allah yang disebutkan di atas
terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung.
Ada sebagian orang menerjemahkan bahwa "bertemu Allah" hariya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai dengan kata yang
tercantum dalam ayat tersebut, sebab pada kalimat-alladzina yadhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun - adalah orang yang (sedang) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya mereka kembali.
Penggunaan isim fail (pelaku atau subjek) pada ayat tersebut menegaskan, bahwa subjek itu melakukan sesuatu pada saat
sekarang atau sedang berlangsung, karena didahului kata yadzhunnuna ( adalah bentuk fiil mudhori '). Di dalam kitab Al Qawaaidul
`Arabiya, Al Muyassarah jilid 1 halaman 79, wa hua fi'lul alladzi yadullu 'ala hadatsin fi zamanin haadhir au mustaqbalin,
menerangkan waktu (zaman) haadhir au istigbal yaitu peristiwa yang dilakukan saat sekarang dan akan datang atau pekerjaan itu
sedang berlangsung. Maka bagi orang yang mengartikan bahwa kembali atau bertemu dengan Allah yang dimaksud adalah nanti di
akhirat saja, sangatlah tidak masuk akal, karena jika pendapatnya demikian akan muncul pertanyaan: Jadi selama ini ketika kita
shalat menghadap kepada siapa? Di manakah Allah saat kita sedang menyembah Nya?
Bagaimana dengan pernyataan Allah dalam surat Thaha, 20 ayat 14:Sesungguhnya Aku ini adalah.Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlak shalat untuk mengingat Aku.
Begitu jelas, bahwa objek persembahan ketika shalat adalah Aku, bukan nama Ku akan tetapi kepada wujud Ku yang hak. Kepada
Dia yang tidak terjangkau oleh pikiran, Yang Tidak Sama Dengan Makhluknya, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Dekat,
Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui Lintasan Hati.
Sebaiknya kita menyandarkan pengertian ini kepada ulama besar agar kita merasa lebih tenang. Di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an,
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai surat Al Bagarah, 2 : 45-46.6
Menurut Sayyid Qutub pada umumnya bahwa dhamir 'kata ganti' pada "innaha" adalah ajakan untuk mengakui kebenaran dengan
segala sesuatunya ini sangat berat, sulit dan sukar, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' dan tunduk kepada Allah, yang merasa
takut dan bertakwa kepada Ny serta yakin dan percaya bahwa mereka akan bertemu dengan Nya dan kembali kepada Nya.
Memohon pertolongan dengan sabar ini diulang beberapa kali karena sabar ini merupaka bekal yang harus dimiliki di dalam
menghadapi setiap kesulitan dan penderitaan. Dan, penderitaan yang pertama kali ialah lepasnya kekuasaan, kedudukan, manfaat,
dan penghasilan demi menghormati kebenaran dan mengutamakannya, serta mengakui kebenaran dan tunduk kepadanya.
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai bagaimana memohon pertolongan melalui shalat. Beliau memahami bahwa
sesungguhnya shalat merupakan alat komunikasi dan pertemua antara hamba dengan Tuhannya, sehingga timbul hubungan yang
kuat di dalam hati untuk meminta pertolongan Nya sampai terasa ruhnya berhubungan dengan Nya. Kemudian jiwa akan
mendapatka respons atau jawaban sebagai bekal yang paling berharga, lebih dari pada perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana
dicontohkan oleh Rasulullah di dalam riwayat
Apabila salah satu diantara kalian mempunyai urusan (persoalan) maka shalatlah
dua rakaat di luar shalat fardhu (shalat sunnah).
(HR Bukhari dan lainnya dalam kitab Mukhtaruh Sahih wal Hasan hal 124)
Rasulullah sangat erat hubungannya dengan Allah sehingga ruhnya mampu menangkap informasi (berupa jalan keluar) yang
diperoleh melalui wahyu maupun ilham.
Hal inilah yang diharapkan oleh Sayyid Qutub kepada ummat Islam agar menjadikan shalat sebagai jalan meditasi yang tertinggi
dari segala meditasi yang ada. Shalat merupakan anugerah bagi kaum mukmin karena ia akan mengalami ketenangan yang luar
biasa. Rohnya akan merasakan kedamaian ketika sedang bertemu dengan Rabb-nya serta menunggu jawaban atas pemecahan
masalah yang akan diberikan kepadanya. Inilah jalan atau tharikat yang shahih yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya.
Bagi seorang mukmin, shalat ibarat sumber mata air yang mengalir tiada habisnya pada saat terik panas matahari, sedangkan
perbekalan sudah mulai habis. Dengan shalatlah mereka mendapat tempat beristirahat dan sekaligus menghilangkan rasa dahaga
yang dirasakan rohaninya.
Selanjutnya Sayyid Qutub memberikan penegasan bahwa penggunaan kata "dzan" pada kalimat "alladzina yadzunnuuna
annahum mulaquu rabbihim" dan akar katanya, bukan bermakna "sangkaan" tetapi diartikan "keyakinan berjumpa dengan Allah". Arti
ini dianggap yang lebih tepat, karena banyak keterangan serupa terdapat di dalam Al Qur'an maupun dalam kaidah bahasa Arab
pada umumnya.
Kesadaran bahwa kita bisa bertemu dengan Allah dalam shalat ditegaskan pada firman Allah surat Al Insyigaaq, 84 ayat 6:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh.-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya.
Nabi telah mengisyaratkan, bahwa di dalam melaksanakan shalat, beliau selalu melakukannya dengan serius dan penuh hormat.
Karena beliau menyadari sedang bertemu dengan Allah subhanahu wata' ala. Hal ini ditunjukkan di dalam beberapa riwayat:
Al Has an ra. berkata: `Jika kalian melakukan shalat, berdirilah dengan tenang sebagaimana diperintahkan Allah, dan jagalah. dirimu
jangan sampai lupa, lalai dan menoleh. Jagalah, dirimu jangan sampai Allah memandang kalian sedang memandang selain Allah.,
janganlah sampai kalian mengucapkan ucapan memohon sorga kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari siksa jahanam
sedang hatimu lalai tidak mengerti apa yang diucapkan oleh lisanmu sendiri." (dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashar Al Marwazi
ra).
Dari Ustman Abi Aus, ia berkata: "Ada berita yang sampai kepadaku, bahwa Rasulullah SAW pernah. shalat dengan bacaan
keras, setelah. selesai lalu bersabda: `Apakah ada ayat dari surat yang saya baca tadi yang saya tinggakan (tidak saya
baca?):' Para sahabat menjawab: `Kami tidak mengerti (tidak tahu).' Lafu Ubay bin Kaab berkata: `Ya benar ada, ayat ini dan
ini.' Kemudian Nabi bersabda: `Mengapa masih ada kaum yang dibacakan kitab Allah,lalu tidak mengerti ayat-ayat yang
tertinggaf tidak terbaca? Karena demikian itulah maka keagungan Allah dikeluarkan dari hati kaum Bani Israil, badan
wadagnya menyaksikan sedang hatinya kosong. Allah tidak akan menerima amal seorang hamba,sehingga hati dan badan
wadagnya bersama-sama menyaksikan (hadir)."'
Banyak sekali hadits yang menerangkan hal yang sama, seperti dalam atsar di bawah ini
Isham bin Yusuf ra. berjalan melalui Hatim Al Asham yang sedang berbicara di tengah majelisnya. Lalu Isham bertanya: "Hai Hatim,
sudah baguskah shalat kamu?" Hatim menjawab: "Ya, sudah bagus." Isham berkata: "Nah, bagaimana cara engkau shalat?"
Hatim menjawab: Saya melaksanakan perintah. Saya berjalan dengan rasa takut kepada Allah, saya memasuki shalat dengan
niat, saya bertakbir mengagungkan Allah, saya membaca dengan tartil dan memikirkannya. Saya rukuk dengan khusyu', saya sujud
dengan tawadhu' (merendahkan diri). Saya duduk membaca tasyahud dengan sempurna.Saya salam dengan niat dan saya
mengakhiri shalat dengan ikhlas karena Allah semata.
Saya menyadarkan diriku dengan rasa takut. Saya merasa khawatir jangan jangan shalatku tidak diterima dan saya tetap
menjaganya dengan semaksimal mungkin sampai matiku nanti." Isham berkata: "Silakan saudara terus berbicara. Anda telah
melakukan shalat dengan bagus.
Perasaan khusyu' tidak
mungkin bisa didapatkan
jika kita tidak memiliki
kesadaran dan
kepercayaan, bahwa
sebenarnya di saat shalat
kita sedang berhadapan
dengan Allah
Mengevaluasi ulang shalat kita
Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengingatkan kembali tentang ibadah shalat kita selama ini. Barang kali sebagian masyarakat
merasa tidak perlu untuk mengadakan evaluasi mengenai shalatnya karena menganggap shalat sebagai tugas dan kewajiban dari
Allah yang tidak layak bagi manusia untuk menilainya. Semua telah diserahkan kepada Allah karena ini adalah urusan Nya. Suka
tidak suka, ya harus shalat. Enak atau tidak enak yang penting memenuhi tuntutan kewajiban, tidak perlu dibahas lagi ! Kalau
ditanya, mengapa kita shalat? la akan menjawab : "Biar tidak masuk neraka". Sikap seperti ini yang dikatakan sebagai konsep
teosentris, seolah Allah-lah yang membutuhkan peribadatan kita. Allah butuh disembah, butuh disanjung dan butuh dibesarbesarkan
nama Nya.
Evaluasi ini menyoroti tentang peran shalat ketika kehidupan sedang menghadapi cobaan. Yang terlebih penting lagi adalah
shalat sanggup memberi jawaban terhadap pertanyaan: "Kemana saya harus meminta pertolongan ketika saya gelisah, ketika saya
tidak mampu menjawab persoalan yang sangat pelik dalam kehidupan ini?". Shalat diharapkan mampu memberikan jalan keluar
sebagaimana Rasulullah telah melakukannya. Apabila beliau mengalami kesulitan di dalam memutuskan sesuatu perkara maka
segera beliau melakukan shalat dua raka'at untuk memohon petunjuk Allah. Konsep ini yang mendasari pemikiran saya, bahwa
shalat bukanlah untuk Allah tetapi untuk kebutuhan kita sendiri (antroposentris). Kewajiban shalat bukanlah untuk memberikan
beban bagi kita. Karena itu perlu disadari, bahwa yang telah ditetapkan Allah merupakan suatu jalan untuk memberikan kemudahan
bagi manusia, sebagaimana kita memahami wajibnya sekolah di perguruan tinggi terkemuka. Betapa pun biayanya sangat mahal
akan tetapi tetap diusahakan untuk mencapainya. Karena kita menyadari bahwa sekolah merupakan hal yang bermanfaat dalam
kehidupan manusia, yaitu menjadikan kita akan lebih baik dari orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, yang digambarkan oleh
Raden Ajeng Kartini sebagai "kegelapan peradaban".
Shalat sebagai kekuatan yang tertinggi dalam kebutuhan fitrah manusia memiliki beberapa aspek dan efek yang bermanfaat, antara
lain
• mengandung tuntunan meditasi transendental,
• efek kesehatan,
• relaksasi,
• terapi fisik, pikiran, dan jiwa yang sangat sempurna.
Mungkin bisa dikatakan shalat itu sebagai meditasi yang paling lengkap dan paling dalam.
Saya tidak mengatakan, bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana melakukan shalat yang khusyu', karena sulit
untuk mengukur derajat shalat yang demikian seperti sulitnya mengukur rasa cinta kepada seseorang. Kita tidak bisa menilai
cinta seseorang hanya karena ia selalu memberi uang atau sering mengunjungi rumah kekasihnya setiap malam Minggu. Buku ini
akan mengungkapkan dari segi hikmah shalat secara subyektif (pribadi), yaitu sebuah pengalaman (experience) yang bisa Anda
rasakan langsung manfaatnya. Pengalaman tentang bagaimana shalat mampu memberikan rasa tenang, rasa santai dan merasakan
keluasan jiwa kalau dilakukan dengan sikap meditatif. Bukan sikap shalat seperti orang yang sedang diburu hantu, lari tunggang
langgang tanpa kesadaran, yang penting kewajiban shalat dipenuhi. Diharapkan setelah mencoba mempraktekan latihan-latihan
shalat dengan benar, kita akan mampu menemukan kembali sesuatu yang hilang dalam diri kita. Rasa kembali kepada Allah secara
fitrah, tempat ruhani kita beristirahat saat berada didekat Nya, tempat
Mengapa shalat khusyu sulit didapatkan ?
Allah menghedaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, (Al Bagarah, 2: 185 )
Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hiddupnya. Peluang itu sebenarnya bisa
diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita memahami
hal ini dengan paradigma keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi kaya terlebih
dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna.
Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi ini sebenarnya ada pada diri kita sendiri.
Banyak ( yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperoleh. Anda telah membuktikan
dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah
dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Cinta dan bahagia muncul dari dalam diri kita sebagai potensi yang paling asas
manusia. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kita minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak
sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.
Pertanyaan pertama yang muncul di benak kita adalah: "Mengapa shalat khusyu' sulit didapatkan?" Sementara di lain pihak, tak
terhitung banyaknya orang seluruh dunia, sejak ribuan tahun lalu, mengolah kerohaniannya dengan caranya masing-masing. Jadi
pasti ada sesuatu yang dapat mereka peroleh darinya. Bahkan beberapa teknik dianjurkan dalam bentuk yang berbeda oleh hampir
setiap agama dan sistem kepercayaan. Ummat Islam pun memiliki cara meditasi tersendiri, yaitu shalat yang memiliki gerakan dan
bacaan tertentu sebagai terapi mental spiritual dan kesehatan tubuh sehingga diharapkan memberi manfaat bagi pelakunya. Akan
tetapi jarang orang yang mampu mengungkapkannya sebagai sebuah pengetahuan praktis yang bersifat universal, bahwa shalat
merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan kedamaian, ketenangan dan keselamatan. Bukan hanya sekedar
mengatakan, bahwa shalat itu wajib hukumnya bagi orang Islam, tanpa mendalami maksud dan tujuan shalat dalam konteks
manfaatnya bagi manusia.
Sebagaimana banyak pelaku meditasi mengatakan bahwa di dalam bermeditasi terdapat perasaan pulang ke rumah (perasaan
nyaman), seolah-olah menemukan suatu benda berharga yang sempat hilang. Lawrence IeShan, dalam bukunya "Bagaimana
Bermeditasi" menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara
samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita
kehilangan benda tersebut.7
7 Rosalind Widdowson, Meditasi, terjemahan Ricky Nalsya. Penerbit Inovasi 2002. Halaman 12
Dan apakah sesuatu yang hilang dari kita itu?
la adalah kontak dengan potensi diri kita yang mungkin pernah kita miliki yaitu berupa ketenangan dan kebahagiaan. Semua
orang merindukan keadaan ini, baik orang kaya maupun miskin. Namun kadang-kadang kita tergoda dengan melakukan
kesenangan eksternal yang bersifat temporer dan tak akan berlangsung lama. Kita mencari ketenangan dengan biaya yang sangat
mahal untuk sekedar santai dan mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Kita Tdak pernah menyadari untuk memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tempat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan. Akibatnya
kita tdak pernah mendengar jamaah di masjid memperbincangkan pengalaman shalat yang baru saja dilakukan. Sehabis shalat,
ekspresi mereka tampak datar dan hambar. Tidak menunjukkan keadaan hati yang sedang
berbahagia karena tersentuh cahaya Ilahi. Berbeda dengan para pelaku meditasi. Ekspresi mereka menunjukkan adanya
kebahagiaan dan perasaan nyaman, sehingga mereka pun ketagihan untuk mengulang kembali meditasi yang telah membawanya
ke dalam diri yang hening dan damai.
Meditasi telah diminati oleh banyak orang diberbagai negara maju maupun berkembang, temasuk di Indonesia, karena dirasakan
langsung ada manfaatnya. Meditasi telah menjadi sebuah solusi yang handal untuk menjawab persoalan kehidupan masyarakat
modern di barat. Banyak kajian-kajian ilmiah mengenai psikologi transendental yang telah diteliti oleh para ilmuwan dari efek
meditasi, misalnya dalam penyembuhan pasien yang mengalami gangguan stress.
Sungguh menakjubkan bila kita tahu betapa banyaknya waktu yang digunakan orang untuk mendapat pengetahuan mengenai
cara mencapai kebahagiaan jiwa yang hakiki (ekstasis). Para penganut aliran Jung berpendapat, bahwa dengan penyatuan dari ego
jantan dan ego betina, animus dan anima, maka didapatkan kenyataan jiwa yang tidak pecah.
Apakah diakui atau tidak, kebanyakan orang Islam pun terlibat dalam sebuah pencarian yang melelahkan untuk memperoleh hal
sama (ekstasis), yaitu sebuah kekhusyu'an. Sayangnya, sampai kini tidak banyak sarjana muslim yang berani membicarakannya
secara objektif. Mungkin karena mereka sudah menganggap shalat sebagai ibadah mahdhah yang tidak boleh disentuh oleh kajian
ilmiah yang bersifat apa adanya. Di lain pihak, banyak juga orang yang mengatakan bahwa khusyu' hanya bisa dilakukan oleh orangorang
terpilih saja, seperti para Nabi dan wali-wali Allah. Kita hanya diperintahkan untuk memenuhi kewajiban bukan disuruh
melakukannya dengan khusyu'. Yang terpenting syarat rukunnya sah, nanti diakhirat akan didapatkan pahala yang melimpah. Kalau
sudah berpendapat seperti ini, sulit bagi kita untuk membahas persoalan khusyu' dari sisi psikologi, yang barangkali merupakan akar
persoalan kegagalan kita dalam shalat. Seperti halnya perintah membaca Al Qur'an dibulan Ramadhan (tadarus), kita merasa
bangga kalau kita telah membacanya sebanyak tiga puluh juz. Sementara kita melupakan, bahwa perintah membaca Al Qur'an itu
bukanlah sekedar mengejar target bersyair dan berlomba paduan suara, akan tetapi untuk dikaji (mengaji) dan dilaksanakan.
Perintah membaca Al Qur'an merupakan kewajiban pertama dan merupakan jendela ilmu yang akan kita raih dari kandungan setiap
ayatnya. Kita banyak berhenti pada kalimat perintah awal tanpa ingin mengetahui mengapa kita diperintahkan untuk itu. Prinsip ini
mempengaruhi kultur masyarakat kita terhadap etos kerja dan belajar yang amat rendah.
Syariat shalat telah menjadi bagian aktivitas yang menjemukan, bukan menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Nabi sebagai
tempat istirahatnya jiwa dan tubuh, sebagaimana sabda beliau: "Wahai Bilal jadikanlah shalat sebagai istirahatmu". Berbeda dengan
prinsip yang telah kita jalani selama ini, bahwa shalat merupakan sesuatu yang membebani. Kita akan merasa lega dan terbebas
dari beban itu setelah kita mengucapkan salam di akhir shalat. Terkadang jadi amat lucu mendengar seseorang ketika diajak shalat
mengatakan: "Ah nanti saja shalatnya kalau pikiranku sudah tenang". Hal ini menunjukkan bahwa shalat sudah merupakan bagian
rutinitas yang amat membebani hidup. Shalat bukan lagi bagian dari kebutuhan ruhani selayaknya orang butuh istirahat (rileks) di
gunung, di pub atau rekreasi di pantai untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Barangkali pelatihan shalat yang akan saya
utarakan nanti akan bisa membantu memasuki pengalaman (experience) yang menyenangkan dan bisa dirasakan manfaatnya
secara langsung. Insya Allah.
Kita tidak pernah
menyadari untuk
memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong,
sumber hidup, penerang
jiwa & tempat kita
bertanya tentang
persoalan yang sulit
dipecahkan.
Mencoba konsentrasi
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah (HR Abu Daud)
Kita terbiasa menggunakan istilah konsentrasi untuk setiap melakukan pekerjaan yang serius sehingga tergambar di raut muka,
wajah penuh ketegangan dan kening mengkerut menambah kesan, bahwa kita sedang berkonsentrasi.
Keluhan pertama yang kita rasakan selama shalat adalah sulit berkonsentrasi! Upaya kita untuk menempuh kekhusyu'an dengan
menggunakan konsentrasi dalam shalat hampir selalu gagal. Ketika shalat, pikiran tetap melayang-layang tidak bisa dikendalikan.
Padahal segala tata cara syariat telah terpenuhi, baik bacaan maupun raka'atnya. Namun lagi-lagi pikiran pergi tanpa kompromi.
Tahu-tahu shalat sudah usai tanpa disadari.
Otak seperti bekerja sendiri-sendiri. Yang satu bekerja mengeluarkan memori bacaan dan gerakan yang telah biasa dilakukan
setiap shalat secara refleks, sedangkan pikiran yang satu berjalan memikirkan pekerjaan di luar shalat yang dirasa belum selesai.
Hal ini disebabkan karena otak memiliki dua belahan, otak kiri dan otak kanan, dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Kemampuan otak kiri atau left cerebral hemisphere adalah melakukan proses berpikir yang bersifat logis, sekuensial, linear dan
rasional. Sisi ini sangat teratur walaupun, berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara
berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas yang teratur seperti ekspresi verbal dalam menulis, membaca, mengartikan pendengaran/
menempatkan detail dan fakta fenotik serta simbolik. Di dalam shalat, otak kiri berkaitan dengan syariat shalat seperti hitungan
raka'at, bacaan dan berurutan (tertib).
Di sisi lain, otak kanan atau right cerebral hemisphere berpikir secara acak, tidak tidak teratur, intuitif dan holistik (spiritual). Cara
berpikirnya sesuai dengan hal-hal yang bersifat non verbal seperti mengetahui perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan
dengan perasaan, merasa kehadiran suatu benda atau orang lain, kesadaran ruang, pengenalan bentuk dan pola, musik,seni,
kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Acuan utama otak kiri adalah memorisasi, hafalan. Para peserta pendidikan formal di seluruh tingkatan, dituntut untuk mampu dan
mahir di dalam hafalan serta memiliki sistem memorisasi yang baik. Itulah parameter keberhasilan yang saat ini dipakai dalam sistem
pendidikan Seseorang yang tidak memiliki kemampuan memorisasi cukup tinggi akan dinilai sebagai kurang berhasil di dalam
pendidikannya. Ini suatu vonis yang akan berlangsung seumur hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupannya kelak.
Memorisasi dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan seseorang di masa depan. Ini sudah
menjadi semacam hukum tak tertulis di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah
dan terhitung primitif. Itulah yang menurut Dr Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit cyber yang menjadikan pikiran manusia modern
berubah menjadi pikiran mekanis dan digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebutkan sebagai HIV dan AIDS di dunia
inteligensi/ pikiran, Human Intellingence Virus yang menimbumbulkan Acquired Intellingence Deficiency Syndrome. Inteligensi
manusia bisa lenyap karena virus sehingga intelligence-nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational intelligence, tidak
lain dari pada digital intelligence 8. Orang seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah dan
penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang dengan hukum hukum positif sajal
8 Dr Hidayat Nataatmaja ,intelligence spiritual .Perenial Press 2001
Barangkali ini soal cara berpikir yang efektif meskipun tidak lengkap, tetapi sudah menjadi kebiasaan kita karena pengajaran
agama atau pendidikan di sekolah yang lebih memfungsikan potensi otak kiri. Cara berpikir ini, membuat pikiran kita hanya terarah
pada satu tujuan tertentu yang memang sudah dipolakan. Kita tidak memiliki alternatif selain mengulang pola tersebut. Bila pola itu
tidak bisa dipakai, yang terjadi adalah kita terpaksa mengulangi proses dari awal lagi, setahap demi setahap. Orang akan sangat
efektif, tetapi sekaligus juga kaku dan tidak berkembang. Inilah permulaan kita memahami penyebab mengapa kekhusyu'an sulit
diperoleh. Karena kita hanya mengaktifkan fungsi otak kiri sementara potensi otak kanan dibiarkan liar melayang secara tidak teratur.
Sebagai contoh, mari kita lihat dalam ilustrasi di bawah ini:
Seorang ibu memberikan arahan di saat-saat yang sangat penting, yaitu di kala anaknya akan duduk di pelaminan dalam acara
resepsi pernikahannya: "Kalian harus bersikap ramah dan tampak sumringah (ceria) dihadapan para tamu".
Undangan telah disebar untuk sekitar empat ribu orang. Acara diselenggarakan di sebuah gedung yang cukup mewah dengan
sentuhan adat Jawa yang menambah kesan sakral. Acara dimulai, irama musik Kebo Giro sudah mengalun. Satu persatu tamu
undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Sesuai dengan pesan ibunya, keduanya harus menjaga penampilan yang
iebih dari biasanya. Untuk seratus tamu undangan pertama, wajah mempelai mampu mempertahankan keramahan dengan
senyumannya yang bersih dan bersinar penuh pesona. Namun setelah lima ratus undangan, otaknya mulai bekerja, memerintahkan
syaraf bibirnya untuk terus tersenyum, agar sorot matanya tetap bersinar, pundaknya tetap rileks, namun si mempelai tampak
kewalahan dan kecapaian.
Itulah batasan otak kiri di dalam melakukan aktivitasnya yang sekuensial, digital, linier, teratur dan logis. Namun ia tidak memiliki
kemampuan abstraksi, imajinasi, intuisi dan holistik (spiritual). Akibatnya, berpikir dengan otak kiri akan mudah mengalami
kejenuhan karena tidak adanya wilayah yang luas di dalam pikirannya. la telah dipola untuk tersenyum sebagaimana yang telah
dijadikan pola-pola dalam sekolah kepribadian pada dunia modeling maupun pramugari. Mereka diharuskan untuk bersikap ramah
dan tampil menarik. Sementara sikap ini muncul bukan dari inner beauty yang berasal dari aktivitas otak kanan yang tidak bersifat
rasional tetapi relasional, emosional dan spiritual.
Hal ini telah diperingatkan oleh Nabi kepada para peshalat yang hanya mengarah kepada aktivitas syariat yang logis. Hanya
teratur dalam bacaan dan raka'at tanpa memperhatikan hakikat rasa ihsan dan keyakinan yang muncul dari emosional dan bersifat
relasional. Akibatnya timbul rasa jenuh dan capek.
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan leah.
Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa shalat malah menjadi beban bukannya sebagai obat penenang? Ketika pola berpikir rasional
menyebabkan jenuh dan stress, orang-orang di Barat menggunakan meditasi sebagai alternatif terakhir untuk mencapai pencerahan
dan ketenangan. Bagi orang yang tidak memahami akan hal ini, agama akan menjadi beban hidupnya. Allah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
(Al Bagarah, 2:185)
Awareness adalah kata lain untuk berpikir secara seimbang dan lengkap dengan memakai otak Kiri dan kanan secara sadar dan
efektif. Selama ini kita gagal untuk melakukannya. Ketidakseimbangan cara berpikir ini akan berpengaruh kepada tubuh, secara fisik
maupun psikis, sehingga langsung berpengaruh terhadap cara beribadah kita yang dinamakan tidak khusyu'. Kita menjadi tidak bisa
berkonsentrasi karena terasa pikiran pecah (berjalan terpisah). Akibatnya shalat menjadi menjemukan dan capek. Sebagaimana
yang sering kita rasakan, pekerjaan yang paling menjemukan adalah pekerjaan menunggu. Namun, kita akan bisa berlama-lama
kalau berdua dengan seorang kekasih sehingga putaran jam terasa berjalan begitu cepat. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Pada saat shalat, otak kiri telah bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menghitung, mengatur raka'at, dan membaca secara
verbal setiap kalimat yang telah dipola serta mengulang-ulangnya. Di sisi lain, otak kanan telah lari kemana-mana sesuai dengan
potensinya yang acak, melayang mencari inspirasi dan intuisi. Dan karena sifat holistik memiliki loncatan quantum yang lebih cepat
dari pada apa yang kita pikirkan, maka ia mampu masuk ke dalam ruangan tak terbatas. Apabila pikiran dan cara berpikir sudah
seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat
kita secara optimal. Setiap orang berhak atas pencerahan ini, walaupun barangkali ukuran dan intensitasnya tidak sama dengan
para wali dan nabi. Paling tidak, untuk merasakan sentuhan Ilahi secara langsung bukan lagi sebuah utopia yang sulit diraih.
Khusyu' bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Sering kita mendengarkan penjelasan metode
yang menyatakan tentang pembelajaran kecerdasan emosional spiritual. Padahal yang dilakukan dengan metode tersebut tetap saja
merupakan unsur pembelajaran kognitif yang dimodifikasi dan tetap berkonsep matematis (otak kiri). Metode yang lainnya juga
sering berbicara tentang masalah shalat khusyu' tetapi pembicaraannya hanya di sekitar masalah karakteristik. Caranya tidak pernah
beranjak ke arah suatu pelatihan atau pemahaman yang mampu menggerakkan atau mengaktifkan bagian otak kanan, sehingga
shalat khusyu' hanya menjadi bagian dari impian saja.
sholat 1
PENDAHULUAN
" Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' "
(Al Bagarah 2: 45)
Sebenarnya kita mempunyai kemampuan psikis secara bathiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam
menjalani kehidupan ini, akan tetapi kita tidak pernah serius untuk menggali dan mengembangkannya. Akibatnya kita masih saja
sering kebingungan di saat sebuah persoalan mempengaruhi perasaan kita. Kegelisahan dan kecemasan dibiarkan mendera sampai
akhirnya menyebabkan kita sakit dan depresi. Kemampuan dan potensi yang ada itu sebenarnya dapat diatur dan dikembangkan
dengan mudah melalui sebuah teknik shalat yang sederhana.
Selama ini shalat dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan bagi pelakunya, karena kebanyakan dari kita tidak mengetahui
dan merasakan ketinggian nilai spiritual yang ada di dalamnya. Sering kali terbersit di dalam perasaan kita dimana shalat terasa
menjemukan, tidak membuat hati lebih enak di saat kita butuhkan untuk menolong menyelesaikan perasaan yang gelisah. Atau
shalat tidak memiliki gereget yang mampu mempengaruhi mental kita untuk menjadi lebih baik dan menyenangkan.
Sejak kita mulai belajar shalat di masa kecil, kita tidak diajarkan bagaimana meraih rasa khusyu', karena sang guru telah
menetapkan itu sebagai hal yang tidak mungkin. Kita hanya disuruh menghafal bacaan dan gerakan-gerakan raka'at tanpa ruh.
Sampai-sampai di saat bulan Ramadhan, berlangsung perlombaan adu cepat dalam melaksanakan shalat tarawih. Kita akan
mencari imam eksekutif (ibarat sopir ekspres) yang mampu menempuh target lebih cepat.
Mengubah doktrin yang sudah menjadi budaya masyarakat memang tidak mudah. Saya sering mendapatkan kesulitan untuk
meyakinkan mereka bahwa shalat khusyu' itu mudah. Bahwa shalat merupakan ruangan tempat kita beristirahat, tempat kita meraih
kedamaian, dan sebuah klinik pengobatan bagi bathin kita. Nabi mengatakan bahwa shalat adalah pemandangan yang menyejukkan
hatinya, suatu amalan yang paling disukainya. Tetapi masyarakat terlanjur menilai shalat sebagai sebuah perintah, sebuah
kewajiban yang tidak terelakkan. Akibatnya shalat tidak menjadi sebuah kebutuhan (aksioma) untuk pribadinya, apalagi untuk meraih
rasa khusyu'.
Buku ini mengajak Anda untuk memasuki sebuah pengalaman baru, sebuah pencerahan jiwa yang benar-benar bisa dirasakan
dengan mudah sekali. Karena Anda tidak diajak untuk menciptakan rasa khusyu' tetapi kita akan memasuki dan menerima rasa
khusyu' tersebut. Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyu'! Sebagaimana kita pernah mengalami rasa kasmaran
terhadap seorang kekasih, kita tidak pernah menciptakan rasa cinta, tetapi kita hanya menerima keadaan cinta. Orang bilang ketiban
asmara. Suasana itu tidak mudah dilepaskan karena ia timbul dari dalam bathin kita
Ketidak mampuan kita mendapatkan rasa khusyu' sering dikaitkan dengan persoalan dosa yang telah kita lakukan. Namun kita
tidak akan memasukkan wilayah rahasia Allah ini (dosa) dalam latihan-latihan shalat nanti. Karena yang akan kita bahas adalah
sebuah teknik, baik secara psikologis maupun fisiologis, yaitu berkaitan dengan mental dan sikap yang tepat dengan menggunakan
metoda-metoda yang diajarkan Nabi dan diterapkan beliau semasa hidupnya. Kita mempunyai seperangkat teknik yang sistematis
untuk mempelajari pikiran dan jiwa kita, kemudian menerapkannya secara disiplin terhadap konsentrasi dan kemauan untuk
mendekatkan diri kepada Ilahi. Kita kemudian akan dapat melakukan perjalanan spiritual guna mengeksplorasi ketinggian dan
kedalamannya. Kita memiliki teknologi spiritual yang tinggi, yaitu SHALAT
Teknik-teknik yang disajikan di dalam buku ini, terus menerus mengeksplorasi harmoni dan keseimbangan diantara dua hal yang
berlawanan, jasmani dan ruhani, otak kiri dan otak kanan, atau energi positif dan energi negatif.Semoga buku ini bermanfaat dan
mudah dicerna oleh seluruh kalangan masyarakat. Dan yang paling utama adalah keinginan saya untuk menyatukan ummat melalui
satu wacana, yaitu shalat sebagai mazhab dan tharikat universal yang mampu mempersatukan perbedaan kita. Di saat kita ribut
membicarakan perselisihan, maka dengan shalat kita akan berhenti berselisih karena ruhani kita akan membumbung menghadap
Allah. Di sana kita merunduk dalam ketekunan.Sikap inilah yang akan kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu rasa
tunduk dan patuh kepada Allah di saat kita berhadapan dengan lawan debat kita ataupun aliran yang berbeda dengan kita.Rasa
ihsan yang kita peroleh setelah melakukan perternuan-perternuan dengan Allah bisa dirasakan manfaatnya.Sebuah pancaran nur
llahi yang menjelma menjadi perilaku akhaq yang mulia, innash shalata tanha a'anil fahsya i wal mungkar.
Selamat berlatih dan raihlah kedamaian yang memukau perasaan Anda
Anda tidak diajak
untuk menciptakan rasa
khusyu' tetapi kita akan
memasuki dan
menerima rasa khusyu'
tersebut. Kita hanya
mendapatkan, bukan
menciptakan rasa
Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju Allah
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku(Thaha, 20: 14)
Kajian-kajian ilmiah mengenai spiritual dewasa ini telah berkembang sangat luar biasa, terutama aliran psikologi transpersonal yang
membahas secara transparan tentang rahasia kecerdasan emosional dan spiritual. Di dalam kajian psikologi modern, psikologi
transpersonal merupakan kekuatan ke empat dalam aliran psikologi setelah psikoanalisa, behaviorisme dan psikologi humanistik.
Psikologi transpersonal merupakan bentuk perkembangan ilmu psikologi yang tidak tersentuh oleh analisa para ahli jiwa terdahulu,
padahal kajian ini secara Iangsung banyak membicarakan wilayah pusat (eksistensi dan aktivitas jiwa), bukan hanya gejala
empirisnya saja.
Sekarang, kita menyoroti kasus shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi
transpersonal, karena shalat adalah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui
Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi
( altered states of consciousness ) dan pengalaman puncak ( peak experience ).
Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu: ¹
• Meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
• relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat
• hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
• group-therapy dalam shalat jama'ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah
• hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu' sebelum shalat.
Dalam shalat, sebagaimana juga pandangan psikologi transpersonal, seseorang akan berusaha untuk menapaki jalan spiritual
untuk mempertemukan diri atau aku yang fana dengan kekuatan ilahiah (divine power) atau AKU yang kekal ( baga’ ) ²
Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek
dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat,
ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala
macam keruwetan peristiwa di sekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa
cemas dan lelah. Bentuk perjalanan kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut sebagai proses untuk memasuki
kesadaran psikologi transpersonal.
Setiap pelaku meditasi membutuhkan objek di dalam mengarahkan pikiran atau jiwanya. Pada saat jiwa diarahkan terhadap
sesuatu, jiwa pergi meninggalkan tubuh sehingga kesadarannya dengan leluasa berubah menjadi berada di puncak ketinggian.
Dengan demikian, jiwa menjadi pengendali atas dirinya.
Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber
kekuatan, dan sumber mencari inspirasi. Dengan mengarahkan jiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahan karena ia
berada pada ketinggian yang tak terbatas, sehingga jiwa kembali pada kondisi semula, bersih (fitrah) dan tidak terkontaminasi oleh
dorongan-dorongan nafsu negatifnya. Jiwanya menjadi bersih lantaran usahanya menanggalkan keterikatannya dengan wilayah
tubuh yang memiliki kecenderungan melakukan aktivitas kimiawi. Secara alami, ia selalu menyeret pikiran untuk mengikuti reaksi
kimia tersebut tanpa mampu menghentikannya. Selama ini kita merasakan yang mengendalikan pikiran ini bukan kesadaran jiwa,
tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, rasa sex, rasa marah, dan malas. Semua itu timbul karena aktivitas tubuh
(id). Inilah yang dinamakan jiwa mengikuti nafsu binatang bukan nafsu binatang yang mengikuti jiwa.
¹ Arif Wibisono, Psikologi Transpersonal, makalah dalam seminar Psikologi Islam di Solo tahun 2002.
² lbid
Jiwa (ruh) yang diturunkan oleh Allah kepada tanah yang diberi rupa adalah berasal dari tiupan Ilahi yang suci, yang membawa
misi memelihara serta mengendalikan bumi (khalifah). Entah bagaimana mulanya, kesadaran diri jatuh ke dalam lumpur tanah
sehingga ruh suci itu tampak gelap dan tidak bersinar. la tidak mampu mengendalikan gerakan-gerakan alamiah tubuhnya.
Tubuhnya seolah tanpa tuan dan pengetahuan. Pada kondisi seperti ini, ruh sering disebut orang "hati yang paling dalam" atau hati
nurani. Seolah ruh ada berada jauh di dasar sekali. Ini menunjukkan nurani tidak mampu melakukan tugasnya sebagai utusan Allah,
yang mengatur anggota tubuhnya dengan sinar ketuhanan untuk menata kehidupan sesuai dengan fitrah Ilahi. Inilah yang disebut
sebagai Al Qur'an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firman Nya tetap terjaga karena
tersimpan dalam kalam yang suci, bukan berupa huruf dan suara, tidak dalam kertas dan pelepah kurma maupun tulang-tulang. lbnu
Taimiyah menyebutnya sebagai "alfitrah almunazzalah" yaitu kesucian yang diturunkan.
Shalat adalah salah satu cara mengembalikan kesadaran ini dengan perjalanan mi'raj yaitu menuju kepada ketinggian Ilahi yang
luas sehingga kesadaran ruhani kembali pada kedudukannya sebagai duta Ilahi (khalifatullah) yang membawa pesan-pesan ilahiyah.
Posisi ruhani menjadi tidak terikat (unbinding) dengan irama tubuhnya. Yang menjadi pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah
kepada Allah (mukhlisin), jiwa yang tercerahkan dan jiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran negatif maupun perasaan yang gelisah,
karena jiwa berada di atas wilayah itu semua.
Allah menggambarkan setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada Allah
Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang
mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 16:99-100)
Dalam ayat lain
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan,
mereka mengingat Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
(Al A'raaf, 7: 201)
Demikian pula pengakuan setan kepada Allah yang tercantum dalam surat Shaad, 38 ayat 82-83:
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.
Pada saat shalat, seluruh syaraf tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab jiwa secara perlahan bergerak
meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elektron pikiran berhenti
berputar hingga kembali menjadi "aether" (energi non materi). Lalu dilepaskan oleh ruhani dan menjelma sebagai cahaya yang
disebut nur fuad, cahaya bathin, yang langsung kembali ke pangkalnya, yaitu Allah. Ketika getaran antara cahaya bathin berjumpa
dengan Nurullah, terjadilah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam atau sensasi tubuhnya.
Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah (tubuhnya). Ketika ruhani yang bening tidak mampu
melihat karena berada tenggelam dalam lumpur tanah, maka yang menggantikan penguasa tubuh adalah setan. Tinggallah ruhani
(nurani) hanya menangis sedih, tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya mengatakan tidak setuju terhadap perbuatan-perbuatan
keangkara-murkaan yang dilakukan oleh tubuh tetapi dia tidak mampu berbuat banyak, sehingga setanlah yang menggantikan
kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia. Jika dalam shalatnya manusia tidak melakukan
perjalanan ruhani kepada Allah, maka jiwanya akan terjebak pada pengaruh alam-alam yang lebih rendah. Sebagaimana petunjuk
Allah yang tercantum dalam Surat Az Zukhruuf, 43 ayat 36:
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha. Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan),
maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
Itulah sebabnya Allah menurunkan cara yang paling mudah untuk mengembalikan kesadaran tersebut agar jiwa kembali kepada
fitrah. Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu cara agar jiwa kembali ke fitrah yang suci seperti bayi. Namun kita
terkadang tidak menyadari, bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan untuk mengejar pahala tetapi sebagai training atau
latihan untuk mencapai sesuatu yang perlu diraih, yaitu derajat takwa ataupun kesejatian diri yang bersih sehingga menghasilkan
manusia yang mampu menjalankan kehidupannya dengan nurani.
Kalimat "hati nurani" ini sering kita dengar di setiap pengajian maupun pembahasan mengenai kehidupan masyarakat yang ideal.
Namun kenyataannya, pengetahuan ini tidak pernah kita dapatkan dengan mudah. Sampai sekarang belum banyak orang
menjelaskan kemudian mengajak memasuki nuraninya sendiri. Ibarat seorang bertanya tentang cinta itu seperti apa? Tentunya sulit
membayangkan kalau hanya dengan dijelaskan dengan kata-kata, apalagi ditafsirkan. Rasa cinta tidak perlu ditafsirkan maupun
diuraikan menurut tata bahasa sastra tinggi karena akan semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Kalau kita belajar cinta dari membaca buku-buku karangan Kahlil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang
cinta serta liku-liku yang panjang dan tidak habis-habisnya. Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu bukan sebuah
fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula gula. Cinta itu, kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya,
Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu akan bercerita
dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu
itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.
Begitu pun nurani sejati yang penuh sinar Ilahi, kita hanya bisa "menjadi nurani" barulah kita bisa berkata dengan nurani, berjalan
dengan nurani, bekerja dengan nurani. Bukan mendengarkan nurani, karena kita tidak akan mampu menjalankan nasehat nurani,
karena kita (tubuh, pikiran, perasaan) bukanlah nurani. JADILAH NURANI !! Setan tidak ada di sini, karena nurani adalah utusan
(duta) Ilahi yang dilindungi oleh sinar Nya. la adalah pesuruh suci yang selalu taat kepada keputusan Tuhannya. Itu sebabnya
mengapa Allah mengatakan bahwa Ruh adalah rahasia Nya.
Tidakkah kalian mengetahui tentang ruh kecuali hanya sedikit. (Al Isra': 85 ).
Ketika shalat, ruhani
bergerak menuju Zat
Yang Maha Mutlak.
Pikiran terlepas dari
keadaan riil dan panca
indra melepaskan diri
dari segala macam
keruwetan peristiwa di
sekitarnya.
Shalat merupakan pertemuan hamba dengan Allah tanpa perantara
adalah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat , kecuali bagi
orang-orang yang khusyu` , (yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa
mereka kembali kepada_Nya (QS. Al Bagarah, 2: 45-46)
Muhammad sang revolusioner. Seorang nabi yang mempunyai visi universal, pelopor dan penggagas dasar-dasar peradaban
modern. Nabi yang menunjukkan sifat kemanusiaannya dengan fitrah (ahlakul karimah). Nabi yang mengajarkan dan memotivasi
manusia bekerja, belajar, bermusyawarah dan menggali potensi diri maupun alam. Dan yang paling mendasar dari ajaran
Muhammad SAW. adalah mengenai kehidupan ruhani (spiritual), karena di sinilah letaknya segala persoalan manusia terhimpun.
Agama yang lurus adalah agama yang mendasarkan arah spiritualnya hanya kepada sang pencipta langit dan bumi. Nabi
mengarahkan pengikut agama-agama nenek moyang Arab dengan meluruskan arah jiwanya kepada Zat yang tidak bisa
dibandingkan dengan sesuatu apapun.
Jiwa yang mempunyai potensi (watak) tidak mau dibatasi arah pikirannya, memiliki daya luncur yang sangat cepat, bahkan
mampu melampaui wujud materi, karena ruh mempunyai dimensi maknawi lebih jauh dari wujud itu sendiri. la mampu menembus
batas (spaceless) dan menembus waktu (timeless), sehingga ketinggian ruhani tidak mungkin tercapai apabila daya ruh (potensi)
dipenjarakan dengan konsentrasi kepada benda-benda sebagai objek pikir meditasi. Fitrah ruhani telah dihambat oleh batasan
seperti gambar, patung, ataupun suara.
Di dalam ilmu psikologi modern, teori Jung menyadarkan para rohaniawan untuk melepaskan teori meditasi konvensional yaitu
sang Aku (diri) mencari dan mengarah (tertuju) kepada sang Aku yang kekal ³. Konsep ini dikenal dengan istilah psikologi
transpersonal. Konsep Jung ini yang paling bisa diterima, karena jiwa memang tidak boleh dibatasi oleh benda-benda. Ruh harus
lepas atau moksa menuju wujud mutlak yang tidak terbatas. Dasar spiritual agama-agama sebelum Islam yang dibawa para Nabi
disebut agama hanif, yaitu agama lurus yang mendasari arah spiritualnya kepada Zat yang mutlak, tidak boleh menghambat ruhani
atau mengikat jiwa seseorang kepada bentuk materi sebagai alat konsentrasi. Jiwa yang terikat akan berada di wilayah yang paling
rendah. Kondisi ini tidak sesuai dengan fitrahnya yang memiliki kecenderungan untuk kembali kepada Yang Maha Tak Terbatas, Tak
Terjangkau, Tak Terdifinisikan. Dengan mengarahkan jiwa kepada Zat Yang Maha Tak Terbatas, maka jiwa Anda akan merasakan
seperti kembali dan tidak terkungkung oleh benda-benda yang mengikatnya.
Jalan spiritual shalat merupakan sebuah konsep meditasi yang sesuai dengan fitrah manusia, dimana pada saat shalat ruh
dibiarkan lepas tanpa hambatan. Hal ini memungkinkan ruh untuk mengalami pencerahan yang diinginkan. Ruh mengalami
kebebasan yang abadi, bukan berupa ketenangan yang digagas oleh pikiran. Ruh ini dituntun kembali untuk memperoleh
pencerahan melalui cara yang diajarkan penciptanya sebagaimana tercantum di dalam Al Qur'an surat Al An'aam, 6: 79:
³ Carl Gustav Jung, Memperkenalkan Psikologi Analitis- Pendekatan terhadap Ketaksadaran, terjemahan & pendahuluan oleh G.Cremers.
Penerbit Gramedia, Jakarta. 1986.
" Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' "
(Al Bagarah 2: 45)
Sebenarnya kita mempunyai kemampuan psikis secara bathiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam
menjalani kehidupan ini, akan tetapi kita tidak pernah serius untuk menggali dan mengembangkannya. Akibatnya kita masih saja
sering kebingungan di saat sebuah persoalan mempengaruhi perasaan kita. Kegelisahan dan kecemasan dibiarkan mendera sampai
akhirnya menyebabkan kita sakit dan depresi. Kemampuan dan potensi yang ada itu sebenarnya dapat diatur dan dikembangkan
dengan mudah melalui sebuah teknik shalat yang sederhana.
Selama ini shalat dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan bagi pelakunya, karena kebanyakan dari kita tidak mengetahui
dan merasakan ketinggian nilai spiritual yang ada di dalamnya. Sering kali terbersit di dalam perasaan kita dimana shalat terasa
menjemukan, tidak membuat hati lebih enak di saat kita butuhkan untuk menolong menyelesaikan perasaan yang gelisah. Atau
shalat tidak memiliki gereget yang mampu mempengaruhi mental kita untuk menjadi lebih baik dan menyenangkan.
Sejak kita mulai belajar shalat di masa kecil, kita tidak diajarkan bagaimana meraih rasa khusyu', karena sang guru telah
menetapkan itu sebagai hal yang tidak mungkin. Kita hanya disuruh menghafal bacaan dan gerakan-gerakan raka'at tanpa ruh.
Sampai-sampai di saat bulan Ramadhan, berlangsung perlombaan adu cepat dalam melaksanakan shalat tarawih. Kita akan
mencari imam eksekutif (ibarat sopir ekspres) yang mampu menempuh target lebih cepat.
Mengubah doktrin yang sudah menjadi budaya masyarakat memang tidak mudah. Saya sering mendapatkan kesulitan untuk
meyakinkan mereka bahwa shalat khusyu' itu mudah. Bahwa shalat merupakan ruangan tempat kita beristirahat, tempat kita meraih
kedamaian, dan sebuah klinik pengobatan bagi bathin kita. Nabi mengatakan bahwa shalat adalah pemandangan yang menyejukkan
hatinya, suatu amalan yang paling disukainya. Tetapi masyarakat terlanjur menilai shalat sebagai sebuah perintah, sebuah
kewajiban yang tidak terelakkan. Akibatnya shalat tidak menjadi sebuah kebutuhan (aksioma) untuk pribadinya, apalagi untuk meraih
rasa khusyu'.
Buku ini mengajak Anda untuk memasuki sebuah pengalaman baru, sebuah pencerahan jiwa yang benar-benar bisa dirasakan
dengan mudah sekali. Karena Anda tidak diajak untuk menciptakan rasa khusyu' tetapi kita akan memasuki dan menerima rasa
khusyu' tersebut. Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyu'! Sebagaimana kita pernah mengalami rasa kasmaran
terhadap seorang kekasih, kita tidak pernah menciptakan rasa cinta, tetapi kita hanya menerima keadaan cinta. Orang bilang ketiban
asmara. Suasana itu tidak mudah dilepaskan karena ia timbul dari dalam bathin kita
Ketidak mampuan kita mendapatkan rasa khusyu' sering dikaitkan dengan persoalan dosa yang telah kita lakukan. Namun kita
tidak akan memasukkan wilayah rahasia Allah ini (dosa) dalam latihan-latihan shalat nanti. Karena yang akan kita bahas adalah
sebuah teknik, baik secara psikologis maupun fisiologis, yaitu berkaitan dengan mental dan sikap yang tepat dengan menggunakan
metoda-metoda yang diajarkan Nabi dan diterapkan beliau semasa hidupnya. Kita mempunyai seperangkat teknik yang sistematis
untuk mempelajari pikiran dan jiwa kita, kemudian menerapkannya secara disiplin terhadap konsentrasi dan kemauan untuk
mendekatkan diri kepada Ilahi. Kita kemudian akan dapat melakukan perjalanan spiritual guna mengeksplorasi ketinggian dan
kedalamannya. Kita memiliki teknologi spiritual yang tinggi, yaitu SHALAT
Teknik-teknik yang disajikan di dalam buku ini, terus menerus mengeksplorasi harmoni dan keseimbangan diantara dua hal yang
berlawanan, jasmani dan ruhani, otak kiri dan otak kanan, atau energi positif dan energi negatif.Semoga buku ini bermanfaat dan
mudah dicerna oleh seluruh kalangan masyarakat. Dan yang paling utama adalah keinginan saya untuk menyatukan ummat melalui
satu wacana, yaitu shalat sebagai mazhab dan tharikat universal yang mampu mempersatukan perbedaan kita. Di saat kita ribut
membicarakan perselisihan, maka dengan shalat kita akan berhenti berselisih karena ruhani kita akan membumbung menghadap
Allah. Di sana kita merunduk dalam ketekunan.Sikap inilah yang akan kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu rasa
tunduk dan patuh kepada Allah di saat kita berhadapan dengan lawan debat kita ataupun aliran yang berbeda dengan kita.Rasa
ihsan yang kita peroleh setelah melakukan perternuan-perternuan dengan Allah bisa dirasakan manfaatnya.Sebuah pancaran nur
llahi yang menjelma menjadi perilaku akhaq yang mulia, innash shalata tanha a'anil fahsya i wal mungkar.
Selamat berlatih dan raihlah kedamaian yang memukau perasaan Anda
Anda tidak diajak
untuk menciptakan rasa
khusyu' tetapi kita akan
memasuki dan
menerima rasa khusyu'
tersebut. Kita hanya
mendapatkan, bukan
menciptakan rasa
Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju Allah
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku(Thaha, 20: 14)
Kajian-kajian ilmiah mengenai spiritual dewasa ini telah berkembang sangat luar biasa, terutama aliran psikologi transpersonal yang
membahas secara transparan tentang rahasia kecerdasan emosional dan spiritual. Di dalam kajian psikologi modern, psikologi
transpersonal merupakan kekuatan ke empat dalam aliran psikologi setelah psikoanalisa, behaviorisme dan psikologi humanistik.
Psikologi transpersonal merupakan bentuk perkembangan ilmu psikologi yang tidak tersentuh oleh analisa para ahli jiwa terdahulu,
padahal kajian ini secara Iangsung banyak membicarakan wilayah pusat (eksistensi dan aktivitas jiwa), bukan hanya gejala
empirisnya saja.
Sekarang, kita menyoroti kasus shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi
transpersonal, karena shalat adalah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui
Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi
( altered states of consciousness ) dan pengalaman puncak ( peak experience ).
Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu: ¹
• Meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
• relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat
• hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
• group-therapy dalam shalat jama'ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah
• hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu' sebelum shalat.
Dalam shalat, sebagaimana juga pandangan psikologi transpersonal, seseorang akan berusaha untuk menapaki jalan spiritual
untuk mempertemukan diri atau aku yang fana dengan kekuatan ilahiah (divine power) atau AKU yang kekal ( baga’ ) ²
Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek
dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat,
ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala
macam keruwetan peristiwa di sekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa
cemas dan lelah. Bentuk perjalanan kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut sebagai proses untuk memasuki
kesadaran psikologi transpersonal.
Setiap pelaku meditasi membutuhkan objek di dalam mengarahkan pikiran atau jiwanya. Pada saat jiwa diarahkan terhadap
sesuatu, jiwa pergi meninggalkan tubuh sehingga kesadarannya dengan leluasa berubah menjadi berada di puncak ketinggian.
Dengan demikian, jiwa menjadi pengendali atas dirinya.
Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber
kekuatan, dan sumber mencari inspirasi. Dengan mengarahkan jiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahan karena ia
berada pada ketinggian yang tak terbatas, sehingga jiwa kembali pada kondisi semula, bersih (fitrah) dan tidak terkontaminasi oleh
dorongan-dorongan nafsu negatifnya. Jiwanya menjadi bersih lantaran usahanya menanggalkan keterikatannya dengan wilayah
tubuh yang memiliki kecenderungan melakukan aktivitas kimiawi. Secara alami, ia selalu menyeret pikiran untuk mengikuti reaksi
kimia tersebut tanpa mampu menghentikannya. Selama ini kita merasakan yang mengendalikan pikiran ini bukan kesadaran jiwa,
tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, rasa sex, rasa marah, dan malas. Semua itu timbul karena aktivitas tubuh
(id). Inilah yang dinamakan jiwa mengikuti nafsu binatang bukan nafsu binatang yang mengikuti jiwa.
¹ Arif Wibisono, Psikologi Transpersonal, makalah dalam seminar Psikologi Islam di Solo tahun 2002.
² lbid
Jiwa (ruh) yang diturunkan oleh Allah kepada tanah yang diberi rupa adalah berasal dari tiupan Ilahi yang suci, yang membawa
misi memelihara serta mengendalikan bumi (khalifah). Entah bagaimana mulanya, kesadaran diri jatuh ke dalam lumpur tanah
sehingga ruh suci itu tampak gelap dan tidak bersinar. la tidak mampu mengendalikan gerakan-gerakan alamiah tubuhnya.
Tubuhnya seolah tanpa tuan dan pengetahuan. Pada kondisi seperti ini, ruh sering disebut orang "hati yang paling dalam" atau hati
nurani. Seolah ruh ada berada jauh di dasar sekali. Ini menunjukkan nurani tidak mampu melakukan tugasnya sebagai utusan Allah,
yang mengatur anggota tubuhnya dengan sinar ketuhanan untuk menata kehidupan sesuai dengan fitrah Ilahi. Inilah yang disebut
sebagai Al Qur'an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firman Nya tetap terjaga karena
tersimpan dalam kalam yang suci, bukan berupa huruf dan suara, tidak dalam kertas dan pelepah kurma maupun tulang-tulang. lbnu
Taimiyah menyebutnya sebagai "alfitrah almunazzalah" yaitu kesucian yang diturunkan.
Shalat adalah salah satu cara mengembalikan kesadaran ini dengan perjalanan mi'raj yaitu menuju kepada ketinggian Ilahi yang
luas sehingga kesadaran ruhani kembali pada kedudukannya sebagai duta Ilahi (khalifatullah) yang membawa pesan-pesan ilahiyah.
Posisi ruhani menjadi tidak terikat (unbinding) dengan irama tubuhnya. Yang menjadi pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah
kepada Allah (mukhlisin), jiwa yang tercerahkan dan jiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran negatif maupun perasaan yang gelisah,
karena jiwa berada di atas wilayah itu semua.
Allah menggambarkan setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada Allah
Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang
mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 16:99-100)
Dalam ayat lain
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan,
mereka mengingat Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
(Al A'raaf, 7: 201)
Demikian pula pengakuan setan kepada Allah yang tercantum dalam surat Shaad, 38 ayat 82-83:
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.
Pada saat shalat, seluruh syaraf tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab jiwa secara perlahan bergerak
meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elektron pikiran berhenti
berputar hingga kembali menjadi "aether" (energi non materi). Lalu dilepaskan oleh ruhani dan menjelma sebagai cahaya yang
disebut nur fuad, cahaya bathin, yang langsung kembali ke pangkalnya, yaitu Allah. Ketika getaran antara cahaya bathin berjumpa
dengan Nurullah, terjadilah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam atau sensasi tubuhnya.
Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah (tubuhnya). Ketika ruhani yang bening tidak mampu
melihat karena berada tenggelam dalam lumpur tanah, maka yang menggantikan penguasa tubuh adalah setan. Tinggallah ruhani
(nurani) hanya menangis sedih, tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya mengatakan tidak setuju terhadap perbuatan-perbuatan
keangkara-murkaan yang dilakukan oleh tubuh tetapi dia tidak mampu berbuat banyak, sehingga setanlah yang menggantikan
kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia. Jika dalam shalatnya manusia tidak melakukan
perjalanan ruhani kepada Allah, maka jiwanya akan terjebak pada pengaruh alam-alam yang lebih rendah. Sebagaimana petunjuk
Allah yang tercantum dalam Surat Az Zukhruuf, 43 ayat 36:
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha. Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan),
maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
Itulah sebabnya Allah menurunkan cara yang paling mudah untuk mengembalikan kesadaran tersebut agar jiwa kembali kepada
fitrah. Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu cara agar jiwa kembali ke fitrah yang suci seperti bayi. Namun kita
terkadang tidak menyadari, bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan untuk mengejar pahala tetapi sebagai training atau
latihan untuk mencapai sesuatu yang perlu diraih, yaitu derajat takwa ataupun kesejatian diri yang bersih sehingga menghasilkan
manusia yang mampu menjalankan kehidupannya dengan nurani.
Kalimat "hati nurani" ini sering kita dengar di setiap pengajian maupun pembahasan mengenai kehidupan masyarakat yang ideal.
Namun kenyataannya, pengetahuan ini tidak pernah kita dapatkan dengan mudah. Sampai sekarang belum banyak orang
menjelaskan kemudian mengajak memasuki nuraninya sendiri. Ibarat seorang bertanya tentang cinta itu seperti apa? Tentunya sulit
membayangkan kalau hanya dengan dijelaskan dengan kata-kata, apalagi ditafsirkan. Rasa cinta tidak perlu ditafsirkan maupun
diuraikan menurut tata bahasa sastra tinggi karena akan semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Kalau kita belajar cinta dari membaca buku-buku karangan Kahlil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang
cinta serta liku-liku yang panjang dan tidak habis-habisnya. Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu bukan sebuah
fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula gula. Cinta itu, kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya,
Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu akan bercerita
dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu
itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.
Begitu pun nurani sejati yang penuh sinar Ilahi, kita hanya bisa "menjadi nurani" barulah kita bisa berkata dengan nurani, berjalan
dengan nurani, bekerja dengan nurani. Bukan mendengarkan nurani, karena kita tidak akan mampu menjalankan nasehat nurani,
karena kita (tubuh, pikiran, perasaan) bukanlah nurani. JADILAH NURANI !! Setan tidak ada di sini, karena nurani adalah utusan
(duta) Ilahi yang dilindungi oleh sinar Nya. la adalah pesuruh suci yang selalu taat kepada keputusan Tuhannya. Itu sebabnya
mengapa Allah mengatakan bahwa Ruh adalah rahasia Nya.
Tidakkah kalian mengetahui tentang ruh kecuali hanya sedikit. (Al Isra': 85 ).
Ketika shalat, ruhani
bergerak menuju Zat
Yang Maha Mutlak.
Pikiran terlepas dari
keadaan riil dan panca
indra melepaskan diri
dari segala macam
keruwetan peristiwa di
sekitarnya.
Shalat merupakan pertemuan hamba dengan Allah tanpa perantara
adalah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat , kecuali bagi
orang-orang yang khusyu` , (yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa
mereka kembali kepada_Nya (QS. Al Bagarah, 2: 45-46)
Muhammad sang revolusioner. Seorang nabi yang mempunyai visi universal, pelopor dan penggagas dasar-dasar peradaban
modern. Nabi yang menunjukkan sifat kemanusiaannya dengan fitrah (ahlakul karimah). Nabi yang mengajarkan dan memotivasi
manusia bekerja, belajar, bermusyawarah dan menggali potensi diri maupun alam. Dan yang paling mendasar dari ajaran
Muhammad SAW. adalah mengenai kehidupan ruhani (spiritual), karena di sinilah letaknya segala persoalan manusia terhimpun.
Agama yang lurus adalah agama yang mendasarkan arah spiritualnya hanya kepada sang pencipta langit dan bumi. Nabi
mengarahkan pengikut agama-agama nenek moyang Arab dengan meluruskan arah jiwanya kepada Zat yang tidak bisa
dibandingkan dengan sesuatu apapun.
Jiwa yang mempunyai potensi (watak) tidak mau dibatasi arah pikirannya, memiliki daya luncur yang sangat cepat, bahkan
mampu melampaui wujud materi, karena ruh mempunyai dimensi maknawi lebih jauh dari wujud itu sendiri. la mampu menembus
batas (spaceless) dan menembus waktu (timeless), sehingga ketinggian ruhani tidak mungkin tercapai apabila daya ruh (potensi)
dipenjarakan dengan konsentrasi kepada benda-benda sebagai objek pikir meditasi. Fitrah ruhani telah dihambat oleh batasan
seperti gambar, patung, ataupun suara.
Di dalam ilmu psikologi modern, teori Jung menyadarkan para rohaniawan untuk melepaskan teori meditasi konvensional yaitu
sang Aku (diri) mencari dan mengarah (tertuju) kepada sang Aku yang kekal ³. Konsep ini dikenal dengan istilah psikologi
transpersonal. Konsep Jung ini yang paling bisa diterima, karena jiwa memang tidak boleh dibatasi oleh benda-benda. Ruh harus
lepas atau moksa menuju wujud mutlak yang tidak terbatas. Dasar spiritual agama-agama sebelum Islam yang dibawa para Nabi
disebut agama hanif, yaitu agama lurus yang mendasari arah spiritualnya kepada Zat yang mutlak, tidak boleh menghambat ruhani
atau mengikat jiwa seseorang kepada bentuk materi sebagai alat konsentrasi. Jiwa yang terikat akan berada di wilayah yang paling
rendah. Kondisi ini tidak sesuai dengan fitrahnya yang memiliki kecenderungan untuk kembali kepada Yang Maha Tak Terbatas, Tak
Terjangkau, Tak Terdifinisikan. Dengan mengarahkan jiwa kepada Zat Yang Maha Tak Terbatas, maka jiwa Anda akan merasakan
seperti kembali dan tidak terkungkung oleh benda-benda yang mengikatnya.
Jalan spiritual shalat merupakan sebuah konsep meditasi yang sesuai dengan fitrah manusia, dimana pada saat shalat ruh
dibiarkan lepas tanpa hambatan. Hal ini memungkinkan ruh untuk mengalami pencerahan yang diinginkan. Ruh mengalami
kebebasan yang abadi, bukan berupa ketenangan yang digagas oleh pikiran. Ruh ini dituntun kembali untuk memperoleh
pencerahan melalui cara yang diajarkan penciptanya sebagaimana tercantum di dalam Al Qur'an surat Al An'aam, 6: 79:
³ Carl Gustav Jung, Memperkenalkan Psikologi Analitis- Pendekatan terhadap Ketaksadaran, terjemahan & pendahuluan oleh G.Cremers.
Penerbit Gramedia, Jakarta. 1986.
Langganan:
Postingan (Atom)