PENDAHULUAN
" Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' "
(Al Bagarah 2: 45)
Sebenarnya kita mempunyai kemampuan psikis secara bathiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam
menjalani kehidupan ini, akan tetapi kita tidak pernah serius untuk menggali dan mengembangkannya. Akibatnya kita masih saja
sering kebingungan di saat sebuah persoalan mempengaruhi perasaan kita. Kegelisahan dan kecemasan dibiarkan mendera sampai
akhirnya menyebabkan kita sakit dan depresi. Kemampuan dan potensi yang ada itu sebenarnya dapat diatur dan dikembangkan
dengan mudah melalui sebuah teknik shalat yang sederhana.
Selama ini shalat dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan bagi pelakunya, karena kebanyakan dari kita tidak mengetahui
dan merasakan ketinggian nilai spiritual yang ada di dalamnya. Sering kali terbersit di dalam perasaan kita dimana shalat terasa
menjemukan, tidak membuat hati lebih enak di saat kita butuhkan untuk menolong menyelesaikan perasaan yang gelisah. Atau
shalat tidak memiliki gereget yang mampu mempengaruhi mental kita untuk menjadi lebih baik dan menyenangkan.
Sejak kita mulai belajar shalat di masa kecil, kita tidak diajarkan bagaimana meraih rasa khusyu', karena sang guru telah
menetapkan itu sebagai hal yang tidak mungkin. Kita hanya disuruh menghafal bacaan dan gerakan-gerakan raka'at tanpa ruh.
Sampai-sampai di saat bulan Ramadhan, berlangsung perlombaan adu cepat dalam melaksanakan shalat tarawih. Kita akan
mencari imam eksekutif (ibarat sopir ekspres) yang mampu menempuh target lebih cepat.
Mengubah doktrin yang sudah menjadi budaya masyarakat memang tidak mudah. Saya sering mendapatkan kesulitan untuk
meyakinkan mereka bahwa shalat khusyu' itu mudah. Bahwa shalat merupakan ruangan tempat kita beristirahat, tempat kita meraih
kedamaian, dan sebuah klinik pengobatan bagi bathin kita. Nabi mengatakan bahwa shalat adalah pemandangan yang menyejukkan
hatinya, suatu amalan yang paling disukainya. Tetapi masyarakat terlanjur menilai shalat sebagai sebuah perintah, sebuah
kewajiban yang tidak terelakkan. Akibatnya shalat tidak menjadi sebuah kebutuhan (aksioma) untuk pribadinya, apalagi untuk meraih
rasa khusyu'.
Buku ini mengajak Anda untuk memasuki sebuah pengalaman baru, sebuah pencerahan jiwa yang benar-benar bisa dirasakan
dengan mudah sekali. Karena Anda tidak diajak untuk menciptakan rasa khusyu' tetapi kita akan memasuki dan menerima rasa
khusyu' tersebut. Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyu'! Sebagaimana kita pernah mengalami rasa kasmaran
terhadap seorang kekasih, kita tidak pernah menciptakan rasa cinta, tetapi kita hanya menerima keadaan cinta. Orang bilang ketiban
asmara. Suasana itu tidak mudah dilepaskan karena ia timbul dari dalam bathin kita
Ketidak mampuan kita mendapatkan rasa khusyu' sering dikaitkan dengan persoalan dosa yang telah kita lakukan. Namun kita
tidak akan memasukkan wilayah rahasia Allah ini (dosa) dalam latihan-latihan shalat nanti. Karena yang akan kita bahas adalah
sebuah teknik, baik secara psikologis maupun fisiologis, yaitu berkaitan dengan mental dan sikap yang tepat dengan menggunakan
metoda-metoda yang diajarkan Nabi dan diterapkan beliau semasa hidupnya. Kita mempunyai seperangkat teknik yang sistematis
untuk mempelajari pikiran dan jiwa kita, kemudian menerapkannya secara disiplin terhadap konsentrasi dan kemauan untuk
mendekatkan diri kepada Ilahi. Kita kemudian akan dapat melakukan perjalanan spiritual guna mengeksplorasi ketinggian dan
kedalamannya. Kita memiliki teknologi spiritual yang tinggi, yaitu SHALAT
Teknik-teknik yang disajikan di dalam buku ini, terus menerus mengeksplorasi harmoni dan keseimbangan diantara dua hal yang
berlawanan, jasmani dan ruhani, otak kiri dan otak kanan, atau energi positif dan energi negatif.Semoga buku ini bermanfaat dan
mudah dicerna oleh seluruh kalangan masyarakat. Dan yang paling utama adalah keinginan saya untuk menyatukan ummat melalui
satu wacana, yaitu shalat sebagai mazhab dan tharikat universal yang mampu mempersatukan perbedaan kita. Di saat kita ribut
membicarakan perselisihan, maka dengan shalat kita akan berhenti berselisih karena ruhani kita akan membumbung menghadap
Allah. Di sana kita merunduk dalam ketekunan.Sikap inilah yang akan kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu rasa
tunduk dan patuh kepada Allah di saat kita berhadapan dengan lawan debat kita ataupun aliran yang berbeda dengan kita.Rasa
ihsan yang kita peroleh setelah melakukan perternuan-perternuan dengan Allah bisa dirasakan manfaatnya.Sebuah pancaran nur
llahi yang menjelma menjadi perilaku akhaq yang mulia, innash shalata tanha a'anil fahsya i wal mungkar.
Selamat berlatih dan raihlah kedamaian yang memukau perasaan Anda
Anda tidak diajak
untuk menciptakan rasa
khusyu' tetapi kita akan
memasuki dan
menerima rasa khusyu'
tersebut. Kita hanya
mendapatkan, bukan
menciptakan rasa
Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju Allah
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku(Thaha, 20: 14)
Kajian-kajian ilmiah mengenai spiritual dewasa ini telah berkembang sangat luar biasa, terutama aliran psikologi transpersonal yang
membahas secara transparan tentang rahasia kecerdasan emosional dan spiritual. Di dalam kajian psikologi modern, psikologi
transpersonal merupakan kekuatan ke empat dalam aliran psikologi setelah psikoanalisa, behaviorisme dan psikologi humanistik.
Psikologi transpersonal merupakan bentuk perkembangan ilmu psikologi yang tidak tersentuh oleh analisa para ahli jiwa terdahulu,
padahal kajian ini secara Iangsung banyak membicarakan wilayah pusat (eksistensi dan aktivitas jiwa), bukan hanya gejala
empirisnya saja.
Sekarang, kita menyoroti kasus shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi
transpersonal, karena shalat adalah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui
Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi
( altered states of consciousness ) dan pengalaman puncak ( peak experience ).
Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu: ¹
• Meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
• relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat
• hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
• group-therapy dalam shalat jama'ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah
• hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu' sebelum shalat.
Dalam shalat, sebagaimana juga pandangan psikologi transpersonal, seseorang akan berusaha untuk menapaki jalan spiritual
untuk mempertemukan diri atau aku yang fana dengan kekuatan ilahiah (divine power) atau AKU yang kekal ( baga’ ) ²
Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek
dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat,
ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala
macam keruwetan peristiwa di sekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa
cemas dan lelah. Bentuk perjalanan kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut sebagai proses untuk memasuki
kesadaran psikologi transpersonal.
Setiap pelaku meditasi membutuhkan objek di dalam mengarahkan pikiran atau jiwanya. Pada saat jiwa diarahkan terhadap
sesuatu, jiwa pergi meninggalkan tubuh sehingga kesadarannya dengan leluasa berubah menjadi berada di puncak ketinggian.
Dengan demikian, jiwa menjadi pengendali atas dirinya.
Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber
kekuatan, dan sumber mencari inspirasi. Dengan mengarahkan jiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahan karena ia
berada pada ketinggian yang tak terbatas, sehingga jiwa kembali pada kondisi semula, bersih (fitrah) dan tidak terkontaminasi oleh
dorongan-dorongan nafsu negatifnya. Jiwanya menjadi bersih lantaran usahanya menanggalkan keterikatannya dengan wilayah
tubuh yang memiliki kecenderungan melakukan aktivitas kimiawi. Secara alami, ia selalu menyeret pikiran untuk mengikuti reaksi
kimia tersebut tanpa mampu menghentikannya. Selama ini kita merasakan yang mengendalikan pikiran ini bukan kesadaran jiwa,
tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, rasa sex, rasa marah, dan malas. Semua itu timbul karena aktivitas tubuh
(id). Inilah yang dinamakan jiwa mengikuti nafsu binatang bukan nafsu binatang yang mengikuti jiwa.
¹ Arif Wibisono, Psikologi Transpersonal, makalah dalam seminar Psikologi Islam di Solo tahun 2002.
² lbid
Jiwa (ruh) yang diturunkan oleh Allah kepada tanah yang diberi rupa adalah berasal dari tiupan Ilahi yang suci, yang membawa
misi memelihara serta mengendalikan bumi (khalifah). Entah bagaimana mulanya, kesadaran diri jatuh ke dalam lumpur tanah
sehingga ruh suci itu tampak gelap dan tidak bersinar. la tidak mampu mengendalikan gerakan-gerakan alamiah tubuhnya.
Tubuhnya seolah tanpa tuan dan pengetahuan. Pada kondisi seperti ini, ruh sering disebut orang "hati yang paling dalam" atau hati
nurani. Seolah ruh ada berada jauh di dasar sekali. Ini menunjukkan nurani tidak mampu melakukan tugasnya sebagai utusan Allah,
yang mengatur anggota tubuhnya dengan sinar ketuhanan untuk menata kehidupan sesuai dengan fitrah Ilahi. Inilah yang disebut
sebagai Al Qur'an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firman Nya tetap terjaga karena
tersimpan dalam kalam yang suci, bukan berupa huruf dan suara, tidak dalam kertas dan pelepah kurma maupun tulang-tulang. lbnu
Taimiyah menyebutnya sebagai "alfitrah almunazzalah" yaitu kesucian yang diturunkan.
Shalat adalah salah satu cara mengembalikan kesadaran ini dengan perjalanan mi'raj yaitu menuju kepada ketinggian Ilahi yang
luas sehingga kesadaran ruhani kembali pada kedudukannya sebagai duta Ilahi (khalifatullah) yang membawa pesan-pesan ilahiyah.
Posisi ruhani menjadi tidak terikat (unbinding) dengan irama tubuhnya. Yang menjadi pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah
kepada Allah (mukhlisin), jiwa yang tercerahkan dan jiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran negatif maupun perasaan yang gelisah,
karena jiwa berada di atas wilayah itu semua.
Allah menggambarkan setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada Allah
Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang
mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 16:99-100)
Dalam ayat lain
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan,
mereka mengingat Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
(Al A'raaf, 7: 201)
Demikian pula pengakuan setan kepada Allah yang tercantum dalam surat Shaad, 38 ayat 82-83:
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.
Pada saat shalat, seluruh syaraf tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab jiwa secara perlahan bergerak
meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elektron pikiran berhenti
berputar hingga kembali menjadi "aether" (energi non materi). Lalu dilepaskan oleh ruhani dan menjelma sebagai cahaya yang
disebut nur fuad, cahaya bathin, yang langsung kembali ke pangkalnya, yaitu Allah. Ketika getaran antara cahaya bathin berjumpa
dengan Nurullah, terjadilah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam atau sensasi tubuhnya.
Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah (tubuhnya). Ketika ruhani yang bening tidak mampu
melihat karena berada tenggelam dalam lumpur tanah, maka yang menggantikan penguasa tubuh adalah setan. Tinggallah ruhani
(nurani) hanya menangis sedih, tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya mengatakan tidak setuju terhadap perbuatan-perbuatan
keangkara-murkaan yang dilakukan oleh tubuh tetapi dia tidak mampu berbuat banyak, sehingga setanlah yang menggantikan
kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia. Jika dalam shalatnya manusia tidak melakukan
perjalanan ruhani kepada Allah, maka jiwanya akan terjebak pada pengaruh alam-alam yang lebih rendah. Sebagaimana petunjuk
Allah yang tercantum dalam Surat Az Zukhruuf, 43 ayat 36:
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha. Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan),
maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
Itulah sebabnya Allah menurunkan cara yang paling mudah untuk mengembalikan kesadaran tersebut agar jiwa kembali kepada
fitrah. Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu cara agar jiwa kembali ke fitrah yang suci seperti bayi. Namun kita
terkadang tidak menyadari, bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan untuk mengejar pahala tetapi sebagai training atau
latihan untuk mencapai sesuatu yang perlu diraih, yaitu derajat takwa ataupun kesejatian diri yang bersih sehingga menghasilkan
manusia yang mampu menjalankan kehidupannya dengan nurani.
Kalimat "hati nurani" ini sering kita dengar di setiap pengajian maupun pembahasan mengenai kehidupan masyarakat yang ideal.
Namun kenyataannya, pengetahuan ini tidak pernah kita dapatkan dengan mudah. Sampai sekarang belum banyak orang
menjelaskan kemudian mengajak memasuki nuraninya sendiri. Ibarat seorang bertanya tentang cinta itu seperti apa? Tentunya sulit
membayangkan kalau hanya dengan dijelaskan dengan kata-kata, apalagi ditafsirkan. Rasa cinta tidak perlu ditafsirkan maupun
diuraikan menurut tata bahasa sastra tinggi karena akan semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Kalau kita belajar cinta dari membaca buku-buku karangan Kahlil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang
cinta serta liku-liku yang panjang dan tidak habis-habisnya. Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu bukan sebuah
fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula gula. Cinta itu, kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya,
Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu akan bercerita
dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu
itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.
Begitu pun nurani sejati yang penuh sinar Ilahi, kita hanya bisa "menjadi nurani" barulah kita bisa berkata dengan nurani, berjalan
dengan nurani, bekerja dengan nurani. Bukan mendengarkan nurani, karena kita tidak akan mampu menjalankan nasehat nurani,
karena kita (tubuh, pikiran, perasaan) bukanlah nurani. JADILAH NURANI !! Setan tidak ada di sini, karena nurani adalah utusan
(duta) Ilahi yang dilindungi oleh sinar Nya. la adalah pesuruh suci yang selalu taat kepada keputusan Tuhannya. Itu sebabnya
mengapa Allah mengatakan bahwa Ruh adalah rahasia Nya.
Tidakkah kalian mengetahui tentang ruh kecuali hanya sedikit. (Al Isra': 85 ).
Ketika shalat, ruhani
bergerak menuju Zat
Yang Maha Mutlak.
Pikiran terlepas dari
keadaan riil dan panca
indra melepaskan diri
dari segala macam
keruwetan peristiwa di
sekitarnya.
Shalat merupakan pertemuan hamba dengan Allah tanpa perantara
adalah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat , kecuali bagi
orang-orang yang khusyu` , (yaitu orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa
mereka kembali kepada_Nya (QS. Al Bagarah, 2: 45-46)
Muhammad sang revolusioner. Seorang nabi yang mempunyai visi universal, pelopor dan penggagas dasar-dasar peradaban
modern. Nabi yang menunjukkan sifat kemanusiaannya dengan fitrah (ahlakul karimah). Nabi yang mengajarkan dan memotivasi
manusia bekerja, belajar, bermusyawarah dan menggali potensi diri maupun alam. Dan yang paling mendasar dari ajaran
Muhammad SAW. adalah mengenai kehidupan ruhani (spiritual), karena di sinilah letaknya segala persoalan manusia terhimpun.
Agama yang lurus adalah agama yang mendasarkan arah spiritualnya hanya kepada sang pencipta langit dan bumi. Nabi
mengarahkan pengikut agama-agama nenek moyang Arab dengan meluruskan arah jiwanya kepada Zat yang tidak bisa
dibandingkan dengan sesuatu apapun.
Jiwa yang mempunyai potensi (watak) tidak mau dibatasi arah pikirannya, memiliki daya luncur yang sangat cepat, bahkan
mampu melampaui wujud materi, karena ruh mempunyai dimensi maknawi lebih jauh dari wujud itu sendiri. la mampu menembus
batas (spaceless) dan menembus waktu (timeless), sehingga ketinggian ruhani tidak mungkin tercapai apabila daya ruh (potensi)
dipenjarakan dengan konsentrasi kepada benda-benda sebagai objek pikir meditasi. Fitrah ruhani telah dihambat oleh batasan
seperti gambar, patung, ataupun suara.
Di dalam ilmu psikologi modern, teori Jung menyadarkan para rohaniawan untuk melepaskan teori meditasi konvensional yaitu
sang Aku (diri) mencari dan mengarah (tertuju) kepada sang Aku yang kekal ³. Konsep ini dikenal dengan istilah psikologi
transpersonal. Konsep Jung ini yang paling bisa diterima, karena jiwa memang tidak boleh dibatasi oleh benda-benda. Ruh harus
lepas atau moksa menuju wujud mutlak yang tidak terbatas. Dasar spiritual agama-agama sebelum Islam yang dibawa para Nabi
disebut agama hanif, yaitu agama lurus yang mendasari arah spiritualnya kepada Zat yang mutlak, tidak boleh menghambat ruhani
atau mengikat jiwa seseorang kepada bentuk materi sebagai alat konsentrasi. Jiwa yang terikat akan berada di wilayah yang paling
rendah. Kondisi ini tidak sesuai dengan fitrahnya yang memiliki kecenderungan untuk kembali kepada Yang Maha Tak Terbatas, Tak
Terjangkau, Tak Terdifinisikan. Dengan mengarahkan jiwa kepada Zat Yang Maha Tak Terbatas, maka jiwa Anda akan merasakan
seperti kembali dan tidak terkungkung oleh benda-benda yang mengikatnya.
Jalan spiritual shalat merupakan sebuah konsep meditasi yang sesuai dengan fitrah manusia, dimana pada saat shalat ruh
dibiarkan lepas tanpa hambatan. Hal ini memungkinkan ruh untuk mengalami pencerahan yang diinginkan. Ruh mengalami
kebebasan yang abadi, bukan berupa ketenangan yang digagas oleh pikiran. Ruh ini dituntun kembali untuk memperoleh
pencerahan melalui cara yang diajarkan penciptanya sebagaimana tercantum di dalam Al Qur'an surat Al An'aam, 6: 79:
³ Carl Gustav Jung, Memperkenalkan Psikologi Analitis- Pendekatan terhadap Ketaksadaran, terjemahan & pendahuluan oleh G.Cremers.
Penerbit Gramedia, Jakarta. 1986.
Kamis, 09 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar