Kamis, 09 April 2009

sholat3

Coba kita bandingkan shalat dengan mengendarai mobil. Pada mulanya, mengendarai mobil itu terasa amat sulit. Saat kita
mencoba duduk di belakang kemudi, kita serasa berada di ruangan yang sangat besar dan mata kita hanya mampu melihat lurus ke
depan. Logika otak kiri mulai mengarahkan tangan dan kaki dengan perhitungan, bahwa untuk berjalan harus memasukkan gigi satu,
dilanjutkan gigi dua, tiga, empat atau lima.
Sekaligus kita harus berhati-hati menjaga agar roda mobil tidak terperosok ke lobang atau parit. Otak kiri kita sesuai fungsinya
bekerja berdasarkan peraturan membawa mobil yang telah ditetapkan. Namun saat kita hendak memasukkan gigi satu, perintah otak
untuk menginjak kopling terasa tidak seimbang sehingga mobil bergerak melompat. Perhitungan otak kiri dalam kondisi seperti ini
memerintahkan kaki untuk menginjak rem. Lagi-Iagi remnya diinjak dengan logika sehingga mobil berhenti mendadak.
Pengguna otak kiri terlihat tegang saat memegang stir. Tubuhnya tegak dan kaku, matanya menatap ke depan, hampir tidak
berani berkedip. Pikirannya mengira jalanan dibuat terlalu sempit sehingga ia berjalan di tengah-tengah, karena khawatir rodanya
terporosok ke parit.
Sekarang marilah kita padukan potensi otak kiri dan kanan kita dalam mengendarai mobil. Perhitungan otak kiri kita jadikan
sebagai acuan ilmu pengetahuan untuk menjalankan mobil. lnjak kopling, masukkan gigi satu lalu lepaskan pedal kopling pelanpelan,
dengan perasaan. Mula-mula agak kaku dan masih terasa tersendat-sendat. Cobalah terus dirasakan sehingga terjadi
perpaduan antara otak kiri dan otak kanan. Otak kiri akan mengikuti otak kanan yang jauh lebih cerdas, yang mengetahui keadaan di
sisi kiri dan kanan mobil kita. Otak kanan mampu menghitung kapan harus masuk menyalip mobil di depannya dan bagaimana
mengerem dengan tepat tanpa membuat orang terjungkal. Otak kanan kita tidak liar lagi karena telah terpadu dengan otak kiri yang
mampu mengikuti kemana imajinasi pikiran melayang. Dengan sentuhan emosi dan perasaan, membawa mobil menjadi lebih halus
dan seimbang. Inilah yang dinamakan dekonsentrasi bukan konsentrasi. Hasilnya adalah sebuah relaksasi yang menjadikan orang
mampu untuk bekerja lama dan menikmatinya. Sebaliknya kalau otak kiri dan kanan tidak bersinergi maka yang dihasilkan adalah
rasa tidak nyaman dan tegang.
Selama ini kita shalat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri (hukum-hukum fiqh) yang kenyataannya adalah
menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh. Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak
kanan dibiarkan liar oleh karena telah berprinsip:"Yang penting sudah memenuhi syarat sahnya shalat". Padahal Rasulullah telah
memperingatkan, bahwa di dalam shalat atau ibadah apa pun kesadaran spiritual (otak kanan) harus diaktifkan, yaitu merasakan
kehadiran Allah dihadapan kita (ihsan). Hasilnya tentu akan sangat berbeda kalau dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan
hanya memenuhi syarat rukunnya saja. Pengguna otak kanan akan memahami dengan emosinya, bagaimana Allah hadir
menyambut dan memberikan jawaban-jawaban atas permohonannya, serta mampu merasakan rahmat dan ketenangan yang
mengalir secara langsung ke dalam hatinya. Keadaan ini tidak akan bisa diterima oleh perhitungan logika, karena logika tidak
memiliki alat ukur untuk menangkap sisi ini, seperti tidak mampunyai otak kiri menangkap naluri berbisnis, naluri memimpin, naluri
bertempur, yang semuanya timbul dari aktivitas otak kanan yang bersifat intuitif.
Bila pikiran dan cara
berfikir sudah seimbang,
tubuh dan jiwa akan
mengikuti kehendak
pikiran. Ini adalah
sinergi yang diharapkan
dapat menampilkan
kualitas shalat kita
secara optimal.

Niat
Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat.Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya
(HR Bukhari Muslim)
Niat adalah kesadaran untuk mempersatukan kegiatan otak kiri dan otak kanan sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning)
dalam shalat maupun ibadah yang lainnya. Dewasa ini di kalangan masyarakat awam kata "niat" berubah pengertiannya menjadi
"membaca niat", misalnya: aku berniat shalat, aku berniat wudhu' dan lain-lain. Niat dengan pengertian ini tidak

tidak akan membawa
dampak apa-apa terhadap perbuatan yang dilakukan. Seperti halnya ketika seseorang mengangkat karung berisi beras 50 kg , tidak
mungkin ia hanya mengatakan : "Aku berniat mengangkat sebuah karung berisi beras seberat 50 kg". la akan mengangkat dengan
serius. Bersamaan dengan itu, pikirannya berpadu dalam satu kemauan penuh. Berbeda dengan orang mengangkat dengan
sekedarnya. Sikapnya tampak tidak ada semangat sehingga kita mengatakan "Gimana sih, ngangkat kok nggak niat''. Artinya
teguran itu menunjukkan, bahwa niat merupakan pekerjaan yang penuh kesadaran antara pikiran, hati dan perbuatan. Jika ketiganya
telah bekerja sama, maka terjadilah kekuatan yang menghasilkan sebuah tindakan yang baik.
Rahasia kehebatan gerak meditasi tai chi ada pada perpaduan antara gerak yang telah dipola dengan emosi sehingga menghasilkan
energi (chi), yaitu selarasnya kekuatan otak kiri dan otak kanan. Dalam keadaan pasrah (sung), perhitungan dan aturan yang
ditimbulkan oleh otak kiri mengikuti imajinasi otak kanan yang melayang bebas menuju prinsip kekosongan (tao) tanpa keluar dari
gerak yang telah ditetapkan. Perpaduan yang seimbang ini diungkapkan dalam bentuk simbol Yin dan Yang
Kedua unsur yang berbeda tersebut bagaikan dua kutub kekuatan yang sating bertentangan, tetapi keduanya berada dalam satu
magnet yang utuh. Kekuatan dari Yin akan menarik kekuatan dari Yang ataupun sebaliknya.
Dalam pelajaran tai chi, terdapat dua pengertian yang saling bertentangan, besar dan kecil, kuat dan lemah, bahkan ada yang
cepat dan yang lambat. Untuk yang besar pasti menguasai yang kecil akan tetapi si kecil pun harus dapat menguasai yang besar,
yang lambat harus dapat menguasai yang cepat atau yang lemah dapat menguasai yang kuat. Pengertian tai chi disini mengandung
arti positif ataupun negatif. Pengertian negatif disini bukantah sebagai sesuatu yang rendah atau yang tidak diinginkan, akan tetapi
hanya untuk menunjukkan adanya suatu perbedaan yang pokok saja. Sebenarnya baiik Yang maupun Yin keduanya mempunyai
kebaikan juga keburukan.
Di atam raya dan di kehidupan yang nyata, kedua tenaga ini bekerja secara bersama. Keduanya secara bergantian membentuk
suatu keseimbangan guna memberikan suatu kehidupan yang stabil dan sating berhubungan sebagai mata rantai kehidupan.
Eksistensi masing-masing saling bergantung satu dengan yang Iainnya dan masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Orang
yang berprinsip secara tai chi datam kehidupannya sehari-hari, biasanya menjadi orang yang arif, berhati mulia, senang dan bahagia
karena adanya daya tarik yang harmonis di datam tubuhnya dan jiwanya. Untuk mendapatkannya, dipertukan kesadaran penuh
(niat) atau ie (sadar l ngeh) dan sikap sung (pasrah / sumeleh) sehingga kedua kutub tadi akan saling bersinergi dan berpadu
menjadi suatu kekuatan dahsyat. Inilah yang dikatakan oleh Jung sebagai penyatuan dari ego jantan dan betina, animus dan anima,
sehingga didapatkan kondisi jiwa yang tidak terpecah.
Barangkali kita dapat mengambil pelajaran dari prinsip tai chi yang menggabungkan kekuatan gerak dan emosi (perasaan)
dengan dibarengi niat. Di dalam Islam, niat ini merupakan landasan yang paling penting dalam setiap perbuatan ibadah yang kita
lakukan.
Sering kati kita mendengar kata "niat" untuk mengawati setiap perbuatan. Niat merupakan landasan moral dari sebuah perbuatan,
karena niat akan menentukan "nilai" baik atau buruk dan diterima atau tidaknya suatu perbuatan. Niat merupakan dasar dan bentuk
bagi sebuah perbuatan, dimana perbuatan itu sendiri adalah juga isi dari sebuah niat.
Sebagai dasar dan bentuk, ia baru dapat dipahami dengan jelas bila isinya diikutsertakan bersama. Keduanya saling mengisi dan
merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Paduan antara nilai etis dan perbuatan sebagai pelaksanaannya menghasilkan
sesuatu yang disebut moral. Di dalam istilah fikih, niat diartikan qashdu syai muqtarinan bifi'lihi, melakukan suatu perbuatan dengan
kesadaran penuh (consiousnes).
Rasulullah menegaskannya dalam sebuah hadits mutawatir sebagai berikut
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan


"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya".
(HR Bukhari Mus(im)
Hal ini juga tercantum dalam riwayat Rasulullah ketika hijrah, yang mengungkapkan pentingnya masalah niat seperti hadits berikut:
"Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) k.arena Allah dan Rasulullah, maka hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah
dan Rasulullah. Dan barang siapa hijrahnya didasari (niat) kerena kekayaan dunia yang akan didapat atau karena
perempuan yang akan dikawini, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia hijrah kepadanya."(Muttafaqun Alaih)
Walaupun sudah dinyatakan bahwa perbuatan merupakan obyek dari etika, namun yang masih perlu diperhatikan selanjutnya ialah
perbuatan apa saja yang bisa dan boleh dihubungkan dengan nilai etis?
Perbuatan jika ditinjau dari sudut suasana bathin, subyeknya ada dua macam:
1. Perbuatan oleh diri sendiri yaitu tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri dalam situasi bebas. Perbuatan
ini dibagi dua, yaitu perbuatan sadar dan perbuatan tidak sadar.
2. Perbuatan oleh orang luar, yaitu tindakan yang dilakukan karena pengaruh orang lain.
Perbuatan sadar dimaksudkan sebagai tindakan yang benar-benar dikehendaki oleh pelakunya, yaitu tindakan yang telah
dipilihnya berdasarkan pada kemauannya sendiri, kemauan bebasnya. Jadi perbuatan ini merupakan tindakan yang dilakukan
tanpa tekanan atau ancaman.
Perbuatan tak sadar ialah tindakan yang terjadi begitu saja diluar kontrol sukmanya, tanpa tekanan atau paksaan. Perbuatan
tak sadar ini bisa terjadi pada saat subjek dalam keadaan sadar, sehingga perbuatan tersebut dinamakan gerak refleks.
Keadaan ini biasa juga terjadi ketika kita melaksanakan ibadah shalat, dimana pada waktu mengucapkan surat maupun pujian
kepada Allah kita tidak menyadarinya. Uniknya, secara refleks mulut mengucapkan ayat demi ayat serta tubuh melakukan
gerakan-gerakan shalat tanpa kekeliruan sama sekali. Padahal kita tidak menyadarinya sampai shalat berakhir.
Perbuatan yang terjadi akibat pengaruh orang luar, mempunyai,corak yang berlainan dan sangat tergantung dari pihak yang
mempengaruhinya. Kuat lemahnya alasan dari pihak luar, akan menentukan bentuk pengaruh yang terjadi. Pengaruh ini bisa
berupa saran, anjuran, nasihat, tekanan, paksaan, peringatan, ancaman dan lain-lain. Paksaan dan ancaman tidak memberikan
kebebasan memilih kepada subjek. la harus melaksanakan sesuatu diluar keinginannya sehingga is berbuat karena terpaksa.
Dari uraian masalah kesadaran atau niat dalam terminologi fiqh di atas, terlihat perbedaan makna dari istilah niat dengan makna
yang sudah terlanjur beredar dalam masyarakat. Padahal kita ketahui bersama, bahwa didalam melaksanakan sebuah ibadah harus
didahului dengan niat. Hal inilah yang mengusik pemikiran saya untuk mengurai dan mempraktekan bagaimana berniat itu. Apakah
niat itu hanya pada awal suatu perbuatan, sebagai syarat sahnya perbuatan tersebut, atau berniat itu adalah melakukan perbuatan
dengan penuh kesadaran sepanjang perbuatan itu berlangsung (qasdusy syai muktarinan bifi'lihi)?
Mari kita coba dan pelajari ilustrasi perbuatan berikut ini
Ambillah sebuah gelas, kemudian isilah gelas itu dengan air hingga penuh rata sampai bibir gelas tanpa tutup.
Lalu berjalanlah dengan membawa gelas tersebut sepanjang seratus meter dari tempat Anda berdiri. jagalah
agar jangan sampai air tumpah sedikitpun.
Anda akan merasakan bagaimana tubuh Anda bekerja bersamaan dengan kesadaran untuk terus menjaga agar air itu tidak
tumpah, sehingga tubuh akan mengikuti gerak kesadaran Anda Jika perhatian itu lengah sedikit saja, maka air itu akan tumpah.
Sepanjang kejadian tersebut berlangsung, Anda memperhatikan dengan penuh kesadaran (niat) agar objek itu tidak lepas dari
pandangan Anda. Secara otomatis, Anda akan mengabaikan suasana yang hiruk pikuk, karena saa itu perhatian dan pikiran Anda
berada dalam satu kesatuan.
ITULAH NIAT ! Niat bukanlah sebuah bacaan atau mantra tetapi suatu perbuatan yang didalamnya terdapat kesadaran penuh yang
mengalir.
Agama mensyaratkan niat sebagai kontrol nilai, apakah ia berada dalam kesadaran ihsan atau tidak, sehingga kadang kala Allah
menegur kita saat beribadah: mengapa kita melakukannya dengan pikiran terpecah (baca: riya)?. Niat kita terkadang berubah pada
waktu berlangsungnya ibadah kepada Allah. Misalnya pada saat kita melakukan shalat, ditengah kita bersujud ternyata pikirar tidak
turut bersujud malah melayang jauh menuju angan-angan.
Pada uraian di atas, telah dijelaskan bagaimana berniat menurut pengertian figh, yaitu menyengaja melakukan suatu perbuatan
dengan penuh kesadaran. Maka aktivitas otak kiri (logika) dan otak kanan (holistik) berpadu menghasilkan kekuatan (daya) yang luar
biasa. Logika akan turut berkembang, mengikuti terbangnya spiritual kita menuju Zat Yang Maha Tinggi. Ibarat sebuah kereta api
yang memiliki jalur rel (baca: logika/ syariat) namun kereta bisa meluncur bebas dengan kecepatan tinggi (baca: spiritual / hakikat)
walaupun dibatasi ruang geraknya hanya dalam jalur yang ditetapkan. Sama dengan seorang meditator yang menemukan rasa
hening dan tentram setelah memadukan kedua kekuatan dengan sikap meditasi, seorang pengendara mobil yang memadukan
logika mekanik dengan perasaan untuk bisa melaju cepat dengan halus dan seimbang, atau seorang bisnisman yang memadukan
kekuatan ilmu ekonomi.: dengan nalurinya (corporate mystic). Semuanya terjadi karena adanya niat dengan pengertian sebenarnya,
bukan hanya membaca niat.

Niat bukanlah
sebuah bacaan atau
mantra tetapi suatu
perbuatan yang di
daIamnya terdapat
kesadaran penuh yang
mengalir.


Tuma'ninah, sebuah teknik relaksasi dalam shalat
Apabila kamu rukuk letakkanlah kedua telapak tanganmu pada lututmu, kemudian renggangkanlah jari jarimu, lalu diamlah,
sehingga setiap anggota badan (ruas tulang belakang)kembali pada tempatnya
(HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Sebuah riwayat rnenerangkan, bahwa sebelurn shalat Subuh, Rasulullah mempunyai kebiasaan melakukan istirahat dalarn posisi
tiduran miring yang disebut qailulah. Kebiasan ini belau lakukan pula menjelang shalat Dhuhur. Relaksasi sebigaimana Rasulullah
lakukan rnerupakan hal penting bagi orang yang hendak melakukan shalat, karena shalat rnerupakan jalan meditasi atau perjalanan jiwa
menuju Allah sehingga diperlukan persiapan yang serius namun rileks.
Shalat berbeda dengan olah raga, karena shalat sepenuhnya bersifat terapi, baik fisik maupun jiwa. Gerakan tubuh pada saat shalat,
tidak dilakukan dengan hentakkan atau gerakan keras seperti halnya orang olah raga senarn dalarn peregangan otot, akan tetapi
gerakan shalat dilakukan dengan rileks dan pengendoran tubuh secara alarniah, seperti gerakan orang ngulet saat bangun tidur. Orang
tai chi pun melakukan meditasi dengan gerakan ngulet, yaitu gerakan yang telah dipola Mengikuti alur tubuh secara alarni. Di dalarn
tum'aninah, aspek meditasi jelas sekali. Saat berdiri, benar-benar berdiri. Bukan berdiri seperti orang berupacara bendera atau berdiri
seperti orang latihan karate, tetapi berdirilah yang tenang dan kendor agar seluruh organ tubuh berada dalam posisinya secara alami.
Anda bisa merasakannya pada saat Anda berdiri di tepi pantai melihat pemandangan yang indah, debur ombak bergulungan
menghampiri sampai menyentuh kaki Anda. Saat itu tubuh Anda sangat rileks, seluruh organ tubuh menempati posisinya. Anda berdiri
nyaman dan santai, seperti berdirinya anak kecil usia balita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar