inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh hanifan, wama ana minal musyrikin.
Aku hadapkan wajahku kepada wajah Zat Yang Menciptakan langit dan bumi seluru selurusnya dan ruhku tidak terhambat
oleh benda-benda (syirk).
Sebuah cara yang sederhana untuk menempatkan ruhani kembali kepada hakikatnya yang sejati. Ruh ingin lepas bebas di saat
terjadi musibah atau persoalan yang sangat sulit dipecahkan, lalu ia berkata : "Sesungguhnya aku berasal dari Allah dan kepada-
Nya aku kembali". Idza ashabathum mushibah gaaluu inna lillahi wa inna ilahi rajiuun.4
Di dalam kehidupan, kita sering menghadapi persoalan yang sulit untuk dipecahkan atau tiba-tiba kita mendapatkan rasa gelisah
dan cemas. Lalu, apa yang kita rasakan ketika hal itu terjadi kepada hati kita? Secara naluriah muncul keinginan kita keluar dari
gelora yang mengguncang dalam dada. Kita akan merasa lega kalau kita pergi ke tempat yang jauh, ke gunung yang tinggi, Ice laut
yang luas, ke rumah teman, atau menghalau perasaan itu dengan pergi berkaraoke. Namun semua itu sifatnya hanya sementara,
(Hedonis) tenang sebentar setelah itu muncul lagi.
Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk bisa meninggalkan persoalan yang terjadi dalam hatinya. Dorongan ini adalah fitrah
manusia. Namun dorongan ini diselewengkan oleh pengertian yang keliru sehingga ruh dianggap senang kalau dibawa ke tempattempat
hiburan di muka bumi ini. Padahal, ia bukan berasal dari negeri materi atau alam-alam rendah (bumi). la adalah ruh suci yang
dihembuskan oleh Tuhan yang berasal dari sisi-Nya yang luas. Maka apabila ia diarahkan kepada Zat Sang Pencipta, ia akan lari
meluncur secepat kilat. la akan merasa senang dan bahagia secara hakiki, karena itulah inti dari perjalanan spiritual manusia.
Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah haditsnya, bahwa shalat itu adalah mi'raj-nya orang-orang mukmin, yaitu naiknya
jiwa (mi'raj) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Mungkin bagi
kita yang awam agak canggung dengan istilah mi'raj, yang kita kenal sebagai sebuah peristiwa luar biasa hebat yang pernah dialami
Rasulullah SAW dan menghasilkan perintah shalat.
4 AI Qur'an surat AI Baqarah 2 : 156.
Mengapa Rasulullah mengatakan bahwa shalat merupakan mi'raj-nya orang-orang mukmin? Adakah kaitannya dengan mi'raj-nya
Rasulullah SAW itu, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha?
Mungkinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW melalui shalat? Apakah kita bisa berjumpa dengan Allah
ketika shalat? Begitu mudahkah berjumpa dengan Allah? Jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Adakah
rahasia dibalik shalat?
Misteri ini hampir tak terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan
bahwa manusia tidak mungkin berjumpa dengan Allah di dunia. Mereka meyakini, bahwa perjumpaan dengan Allah hanya akan
terjadi di akhirat nanti. Akibatnya, mereka tak mau ambit pusing mengenai hakikat shalat atau bahkan mereka menganggap shalat
hanya sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.
Ketika muncul pertanyaan mengenai cara mencapai khusyu' dalam shalat, muncul pula beraneka ragam jawaban. Ada yang
menganjurkan untuk mengerti arti setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat, ada juga yang menganjurkan memandang ke arah
tempat sujud (sajadah) sebagai upaya memfokuskan pikiran agar tidak liar ke sana ke mari, dan beraneka jawaban lainnya. Namun
pada pokoknya, semua cara tersebut harus menyentuh hakikat shalat, yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang
disembah.
Kita sudah lelah mengupayakan dan mengerahkan tenaga untuk mencapai khusyu', akan tetapi tetap saja pikiran kita
menerawang tidak karuan. Tanpa disadari, kita sudah keluar dari "kesadaran shalat". Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa
banyak orang shalat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan shalat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi
karena Allah.
Firman Allah dalam surat Al Ma'un 107 ayat 4-6
Fawailul lil mushallien - Maka kecelakaanlak bagi orang-orang yang shalat,
Allladzina hum an shalaatihin saahun - (yaitu) orang-orang yang lalai akan shalatnya,
Allladzina hum yuraauuna - orang-orang yang berbuat riya'
Pada ayat ke lima, didahului oleh kalimat alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya
yaitu saahun (orang yang lalai, yaitu orang yang shalatnya tidak dilandasi niat tertuju kepada Allah). Celakalah baginya karena dasar
perbuatan shalatnya telah bergeser dari "karena Allah" menjadi "karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)". Atau bagi orang yang
dalam shalatnya tidak menyadari, bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya Yang Maha Agung sehingga pikirannya
melayang liar tanpa kendali. Shalat yang demikian adalah shalat yang shahuun (badannya shalat namun jiwa dan pikirannya tidak
shalat). Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki shalat sebagai jalan untuk mengingat (sadar) akan
Allah sebagaimana firman Nya
..... maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha 20: 14)
..... dan janganlah. kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. Al A'raaf, 7: 205)
Hai orang-orang yang beriman, janganfah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa
yang kalian ucapkan.... (QS. An Nisa', 4: 43)
Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah shalat, yaitu untuk mengingat Allah Azza Wajalla.
Bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan apa yang ia lakukan. Shalat semacam inilah yang
banyak kita lakukan selama ini,sehingga kita tidak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah
dariperbuatan fasik dan mungkar.5
Sebenarnya nabi sudah memberikan penjelasan secara teknis langkah-langkah melakukan
shalat, yaitu melalui pendekatan psikologis untulk membangkitkan kesadaran diri, sehingga realitas spiritual benar-benar terwujud
dengan baik Yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang tentram.
Firman Allah SWT:
.... laa taqrabu shalata wa antum sukaara ...
....janganlah engkau mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)
... (QS. An Nisal´, 4: 43 )
Kalimat laa taqrabu (janganlah kamu mendekati) mempunyai kandungan maksud bahwa kita dilarang mendekati perbuatan shalat.
Sebagian ulama menganggap haram hukumnya jika orang mendekati shalat dalam keadaan tidak sadar. Hal ini dikaitkan dengan
kalimat larangan yang juga menggunakan kata "laa taqrabu" seperti dalam beberapa firman Allah:
laa taqraba haadzihisy syajarah - jangan engkau dekati. pohon ini. (QS. Al Baqarah 2: 3 5)
waa laa taqrabuu fawaahisya - janganlah engkau dekati keburukan. (QS. Al A'nam, 6:151)
Laaa taqrabuz zina - janganlah engkau mendekati zina. (QS. Al Isra', 17: 3 2)
Wala taqrabu maala'l yatiimi -jangan(ah kamu dekati harta anak Yatim. (QS. Al A'nam,. 6: 152)
Larangan (nahyi) ini ditujukan kepada para mushallin agar tidak melakukan shalat jika masihbelum sadar bahwa dirinya sedang
berhadapan dengan khaliq-nya. Bentuk larangan seperti kata laa taqrabuush shalata (jangan engkau mendekati shalat) dan laa
tarabaa hadzihisy syajarata (jangan kalian mendekati pohon ini
5 AI Qur'an surat AI 'Ankabuut 29: 45.
mempunyai sifat yang sama, yaitu larangan untuk mendekati sesuatu (benda) atau perbuatan. Dan itu merupakan syarat mutlak dari
Allah.
Mari kita renungkan. Untuk mendekatinya saja kita dilarang, apa lagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan, Allah telah
memberikan peringatan bahwa shalat kita itu akan sia-sia sehingga shalat tidak lagi menjadi alat atau sarana untuk menciptakan
karakter mukmin yang berakhlak mulia.•Shalat yang demikian (lalai), akan menjemukan dan membuat kita merasa lelah. Shalat tidak
memberikan rasa nyaman, enak dan menyenangkan. Kalau sudah demikian, nafsu kita tidak bisa dikendalikan karena ruh telah
tenggelam. Sang tuan atas tubuh kita, yaitu ruh, telah kehilangan kontak dengan sang pemberi petunjuk, sang pemberi ilmu, dan juru
penerang.
Kita merasakan betapa shalat menjadi beban sejak kecil. Kita selalu ketakutan kalau tidak melaksanakan shalat. Di waktu itu, guru
dan orang tua telah banyak andil menakut-nakuti kita, bahwa kalau tidak shalat akan dijebloskan ke neraka,sehingga setiap kali ada
suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu
dengan doktrin tersebut. Kita tidak pernah disadarkan, bahwa shalat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran
dan perasaan hati kita, bahwa shalat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang, bahwa shalat itu merupakan tempat kita
mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk jika ada kebuntuan pikiran. Tetapi doktrin itu sudah terlanjur lengket dalam
benak kita. Sehingga tidak bisa dipungkiri, bahwa shalat menjadi benar-benar berat dan sulit dilaksanakan. Kita sudah berupaya
melakukannya dengan serius. Kita sudah menepis khayalan dalam pikiran agar bisa berkonsentrasi menemui Allah. Namun akhirnya
kita merasa tak berdaya untuk bangkit dan berkomunikasi dengan Allah. Padahal Nabi telah mengisyaratkan dalam beberapa
haditsnya:
"Amal yang pertama-tama ditanyai Allak pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima,
maka akan diterimu seluruk amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya.
"Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikat
mereka tidak shalat. "
" Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialak amanat,
dan kececeran yang terakkir ialak shalat. Dan sesungguknya (akan terjadi) orang-orang
melakukun shalat, sedanq mereka tidak berakhlak ".
Peringatan Rasulullah di atas adalah hal yang masuk akal. Apapun pekerjaan itu, baik shalat, bekerja di ladang, maupun bekerja
di kantor, jika tidak dilakukan dengan serius akan menghasilkan pekerjaan yang buruk dan tidak bermanfaat. Pekerjaan shalat
merupakan bukti keseriusan yang tidak dilihat oleh orang. Shalat adalah pekerjaan jiwa, pekerjaan yang didasari oleh rasa ihsan.
Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka pekerjaan yang lainnya akan dilakukan pula dengan serius dan tidak main-main. Shalat
yang khusyu' akan menimbulkan etos bekerja yang profesional dan penuh tanggung jawab. Bukan sekedar ingin dilihat oleh direktur
atau atasan kita, tetapi lebih dari itu. Pekerjaan kita memberikan efek kepuasan yang luar biasa terhadap jiwa, karena ruh kita
bergantung kepada Allah yang telah memberikan jalan rezeki. Berbeda jika kita bekerja karena ingin dilihat orang lain, rasa bahagia
itu tidak mampu menghujam ke dalam bathin kita yang dalam. Malahan kita akan sangat tergantung kepada orang lain sehingga kita
dikendalikan oleh kemauan nafsu yang dangkal. Ruhani kita kering dan mudah cemas, karena orang lain tidak tahu kemauan bathin
kita secara utuh. Biarkan setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah karena Allah, Allah yang mengerti kemauan kita, Allah yang
menurunkan kebahagiaan ke dalam jiwa kita.
Keseriusan untuk melaksanakan shalat dengan baik akan menghasilkan rasa sambung (tuning) atau khusyu'. Secara umum,
praktek ini sudah jarang kita temui di masjid-masjid. Shalat dianggap sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, bukan suatu
kesadaran untuk berkomunikasi dan kembali kepada Allah. Kita telah melupakan, bahwa esensi shalat adalah mi'raj kepada Allah,
sebagai alat penolong dan perjumpaan dengan sang pencipta alam semesta.
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya
Kita sering mendapatkan keluhan dari masyarakat Islam, bahwa shalat itu memang sangat sulit dan berat, apalagi dituntut harus
khusyu'. Namun ayat di atas memudahkan kita untuk lebih mengerti kedalaman spiritualitas shalat dengan sangat sederhana.
Kita disadarkan secara kejiwaan tentang khusyu', bukan diajak berkonsentrasi dan mencari khusyu'. Kita disadarkan bahwa Allah itu
dekat. Allah menyambut setiap doa. Allah memandang dan menurunkan ketenangan secara langsung ke dalam hati kita yang
gelisah. Allah menerangi hati yang gelap. Dalam konteks ini sebenarnya kita tidak dituntut apa-apa kecuali hanya disuruh yakin dan
beriman, karena Allah yang akan lebih banyak berperan terhadap kita.
Kita adalah objek Allah yang sepatutnya mendapatkan penerangan, ketenangan jiwa, dan petunjuk.
Kita tidak dituntut untuk bisa khusyu', meredam marah, berahlak mulia. Kita hanya perlu datang kepada Allah dengan apa adanya,
tidak perlu merekayasa dengan "gaya teater" yang penuh kepura-puraan. Inilah kita! Orang yang gelap yang sedang menunggu
penerangan. Oran lupa yang sedang menunggu peringatan. Orang bodoh yang sedang menunggu pengajaran. Orang gelisah yang
sedang menunggu diturunkan ketenangan. Itu semua adanya di dalam kekuasaai Allah, kehendak Yang Maha Mutlak.
Perasaan khusyu' tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat
shalat kita sedang berhadapan dengan Allah, sedang berkata - kata dengan Allah. Perjumpaan ini yang dipandang tidak mungkin
oleh sebagian orang, bahkan menganggap Allah tidak berada di sini, dekat dengan kita!
Penjelasan pada ayat berikutnya terdapat kata alladzina yadzhunnuuna annahum mulaaquu - rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun, bahwa orang yang khusyu' adalah orang yang mempunya kesadaran ruhani (dzhan) bahwa dirinya sedang bertemu
dengan Tuhannya. Dengan kesadarannya itulah mereka kembali kepada Nya (berserah diri), seperti tercantum dalam lafadz iftitah:
inni wajahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha haniifan musliman wama ana minal musyrikin inna shalati wanusuki
wa mahyaya wa mamati lillahirabbil 'alamin (kuhadapkan muka dan jiwaku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi
dengan keadaan tunduk dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta).
Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepada Nya ruh itu akan kembali, maka perjalanan ruhani kita berhenti atau
terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respons dari Allah itu tidak ada. Padahal pertemuan dengan Allah yang disebutkan di atas
terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung.
Ada sebagian orang menerjemahkan bahwa "bertemu Allah" hariya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai dengan kata yang
tercantum dalam ayat tersebut, sebab pada kalimat-alladzina yadhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi
raajiuun - adalah orang yang (sedang) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya mereka kembali.
Penggunaan isim fail (pelaku atau subjek) pada ayat tersebut menegaskan, bahwa subjek itu melakukan sesuatu pada saat
sekarang atau sedang berlangsung, karena didahului kata yadzhunnuna ( adalah bentuk fiil mudhori '). Di dalam kitab Al Qawaaidul
`Arabiya, Al Muyassarah jilid 1 halaman 79, wa hua fi'lul alladzi yadullu 'ala hadatsin fi zamanin haadhir au mustaqbalin,
menerangkan waktu (zaman) haadhir au istigbal yaitu peristiwa yang dilakukan saat sekarang dan akan datang atau pekerjaan itu
sedang berlangsung. Maka bagi orang yang mengartikan bahwa kembali atau bertemu dengan Allah yang dimaksud adalah nanti di
akhirat saja, sangatlah tidak masuk akal, karena jika pendapatnya demikian akan muncul pertanyaan: Jadi selama ini ketika kita
shalat menghadap kepada siapa? Di manakah Allah saat kita sedang menyembah Nya?
Bagaimana dengan pernyataan Allah dalam surat Thaha, 20 ayat 14:Sesungguhnya Aku ini adalah.Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlak shalat untuk mengingat Aku.
Begitu jelas, bahwa objek persembahan ketika shalat adalah Aku, bukan nama Ku akan tetapi kepada wujud Ku yang hak. Kepada
Dia yang tidak terjangkau oleh pikiran, Yang Tidak Sama Dengan Makhluknya, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Dekat,
Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui Lintasan Hati.
Sebaiknya kita menyandarkan pengertian ini kepada ulama besar agar kita merasa lebih tenang. Di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an,
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai surat Al Bagarah, 2 : 45-46.6
Menurut Sayyid Qutub pada umumnya bahwa dhamir 'kata ganti' pada "innaha" adalah ajakan untuk mengakui kebenaran dengan
segala sesuatunya ini sangat berat, sulit dan sukar, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' dan tunduk kepada Allah, yang merasa
takut dan bertakwa kepada Ny serta yakin dan percaya bahwa mereka akan bertemu dengan Nya dan kembali kepada Nya.
Memohon pertolongan dengan sabar ini diulang beberapa kali karena sabar ini merupaka bekal yang harus dimiliki di dalam
menghadapi setiap kesulitan dan penderitaan. Dan, penderitaan yang pertama kali ialah lepasnya kekuasaan, kedudukan, manfaat,
dan penghasilan demi menghormati kebenaran dan mengutamakannya, serta mengakui kebenaran dan tunduk kepadanya.
Sayyid Qutub memberikan penjelasan mengenai bagaimana memohon pertolongan melalui shalat. Beliau memahami bahwa
sesungguhnya shalat merupakan alat komunikasi dan pertemua antara hamba dengan Tuhannya, sehingga timbul hubungan yang
kuat di dalam hati untuk meminta pertolongan Nya sampai terasa ruhnya berhubungan dengan Nya. Kemudian jiwa akan
mendapatka respons atau jawaban sebagai bekal yang paling berharga, lebih dari pada perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana
dicontohkan oleh Rasulullah di dalam riwayat
Apabila salah satu diantara kalian mempunyai urusan (persoalan) maka shalatlah
dua rakaat di luar shalat fardhu (shalat sunnah).
(HR Bukhari dan lainnya dalam kitab Mukhtaruh Sahih wal Hasan hal 124)
Rasulullah sangat erat hubungannya dengan Allah sehingga ruhnya mampu menangkap informasi (berupa jalan keluar) yang
diperoleh melalui wahyu maupun ilham.
Hal inilah yang diharapkan oleh Sayyid Qutub kepada ummat Islam agar menjadikan shalat sebagai jalan meditasi yang tertinggi
dari segala meditasi yang ada. Shalat merupakan anugerah bagi kaum mukmin karena ia akan mengalami ketenangan yang luar
biasa. Rohnya akan merasakan kedamaian ketika sedang bertemu dengan Rabb-nya serta menunggu jawaban atas pemecahan
masalah yang akan diberikan kepadanya. Inilah jalan atau tharikat yang shahih yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya.
Bagi seorang mukmin, shalat ibarat sumber mata air yang mengalir tiada habisnya pada saat terik panas matahari, sedangkan
perbekalan sudah mulai habis. Dengan shalatlah mereka mendapat tempat beristirahat dan sekaligus menghilangkan rasa dahaga
yang dirasakan rohaninya.
Selanjutnya Sayyid Qutub memberikan penegasan bahwa penggunaan kata "dzan" pada kalimat "alladzina yadzunnuuna
annahum mulaquu rabbihim" dan akar katanya, bukan bermakna "sangkaan" tetapi diartikan "keyakinan berjumpa dengan Allah". Arti
ini dianggap yang lebih tepat, karena banyak keterangan serupa terdapat di dalam Al Qur'an maupun dalam kaidah bahasa Arab
pada umumnya.
Kesadaran bahwa kita bisa bertemu dengan Allah dalam shalat ditegaskan pada firman Allah surat Al Insyigaaq, 84 ayat 6:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh.-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya.
Nabi telah mengisyaratkan, bahwa di dalam melaksanakan shalat, beliau selalu melakukannya dengan serius dan penuh hormat.
Karena beliau menyadari sedang bertemu dengan Allah subhanahu wata' ala. Hal ini ditunjukkan di dalam beberapa riwayat:
Al Has an ra. berkata: `Jika kalian melakukan shalat, berdirilah dengan tenang sebagaimana diperintahkan Allah, dan jagalah. dirimu
jangan sampai lupa, lalai dan menoleh. Jagalah, dirimu jangan sampai Allah memandang kalian sedang memandang selain Allah.,
janganlah sampai kalian mengucapkan ucapan memohon sorga kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari siksa jahanam
sedang hatimu lalai tidak mengerti apa yang diucapkan oleh lisanmu sendiri." (dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashar Al Marwazi
ra).
Dari Ustman Abi Aus, ia berkata: "Ada berita yang sampai kepadaku, bahwa Rasulullah SAW pernah. shalat dengan bacaan
keras, setelah. selesai lalu bersabda: `Apakah ada ayat dari surat yang saya baca tadi yang saya tinggakan (tidak saya
baca?):' Para sahabat menjawab: `Kami tidak mengerti (tidak tahu).' Lafu Ubay bin Kaab berkata: `Ya benar ada, ayat ini dan
ini.' Kemudian Nabi bersabda: `Mengapa masih ada kaum yang dibacakan kitab Allah,lalu tidak mengerti ayat-ayat yang
tertinggaf tidak terbaca? Karena demikian itulah maka keagungan Allah dikeluarkan dari hati kaum Bani Israil, badan
wadagnya menyaksikan sedang hatinya kosong. Allah tidak akan menerima amal seorang hamba,sehingga hati dan badan
wadagnya bersama-sama menyaksikan (hadir)."'
Banyak sekali hadits yang menerangkan hal yang sama, seperti dalam atsar di bawah ini
Isham bin Yusuf ra. berjalan melalui Hatim Al Asham yang sedang berbicara di tengah majelisnya. Lalu Isham bertanya: "Hai Hatim,
sudah baguskah shalat kamu?" Hatim menjawab: "Ya, sudah bagus." Isham berkata: "Nah, bagaimana cara engkau shalat?"
Hatim menjawab: Saya melaksanakan perintah. Saya berjalan dengan rasa takut kepada Allah, saya memasuki shalat dengan
niat, saya bertakbir mengagungkan Allah, saya membaca dengan tartil dan memikirkannya. Saya rukuk dengan khusyu', saya sujud
dengan tawadhu' (merendahkan diri). Saya duduk membaca tasyahud dengan sempurna.Saya salam dengan niat dan saya
mengakhiri shalat dengan ikhlas karena Allah semata.
Saya menyadarkan diriku dengan rasa takut. Saya merasa khawatir jangan jangan shalatku tidak diterima dan saya tetap
menjaganya dengan semaksimal mungkin sampai matiku nanti." Isham berkata: "Silakan saudara terus berbicara. Anda telah
melakukan shalat dengan bagus.
Perasaan khusyu' tidak
mungkin bisa didapatkan
jika kita tidak memiliki
kesadaran dan
kepercayaan, bahwa
sebenarnya di saat shalat
kita sedang berhadapan
dengan Allah
Mengevaluasi ulang shalat kita
Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengingatkan kembali tentang ibadah shalat kita selama ini. Barang kali sebagian masyarakat
merasa tidak perlu untuk mengadakan evaluasi mengenai shalatnya karena menganggap shalat sebagai tugas dan kewajiban dari
Allah yang tidak layak bagi manusia untuk menilainya. Semua telah diserahkan kepada Allah karena ini adalah urusan Nya. Suka
tidak suka, ya harus shalat. Enak atau tidak enak yang penting memenuhi tuntutan kewajiban, tidak perlu dibahas lagi ! Kalau
ditanya, mengapa kita shalat? la akan menjawab : "Biar tidak masuk neraka". Sikap seperti ini yang dikatakan sebagai konsep
teosentris, seolah Allah-lah yang membutuhkan peribadatan kita. Allah butuh disembah, butuh disanjung dan butuh dibesarbesarkan
nama Nya.
Evaluasi ini menyoroti tentang peran shalat ketika kehidupan sedang menghadapi cobaan. Yang terlebih penting lagi adalah
shalat sanggup memberi jawaban terhadap pertanyaan: "Kemana saya harus meminta pertolongan ketika saya gelisah, ketika saya
tidak mampu menjawab persoalan yang sangat pelik dalam kehidupan ini?". Shalat diharapkan mampu memberikan jalan keluar
sebagaimana Rasulullah telah melakukannya. Apabila beliau mengalami kesulitan di dalam memutuskan sesuatu perkara maka
segera beliau melakukan shalat dua raka'at untuk memohon petunjuk Allah. Konsep ini yang mendasari pemikiran saya, bahwa
shalat bukanlah untuk Allah tetapi untuk kebutuhan kita sendiri (antroposentris). Kewajiban shalat bukanlah untuk memberikan
beban bagi kita. Karena itu perlu disadari, bahwa yang telah ditetapkan Allah merupakan suatu jalan untuk memberikan kemudahan
bagi manusia, sebagaimana kita memahami wajibnya sekolah di perguruan tinggi terkemuka. Betapa pun biayanya sangat mahal
akan tetapi tetap diusahakan untuk mencapainya. Karena kita menyadari bahwa sekolah merupakan hal yang bermanfaat dalam
kehidupan manusia, yaitu menjadikan kita akan lebih baik dari orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, yang digambarkan oleh
Raden Ajeng Kartini sebagai "kegelapan peradaban".
Shalat sebagai kekuatan yang tertinggi dalam kebutuhan fitrah manusia memiliki beberapa aspek dan efek yang bermanfaat, antara
lain
• mengandung tuntunan meditasi transendental,
• efek kesehatan,
• relaksasi,
• terapi fisik, pikiran, dan jiwa yang sangat sempurna.
Mungkin bisa dikatakan shalat itu sebagai meditasi yang paling lengkap dan paling dalam.
Saya tidak mengatakan, bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana melakukan shalat yang khusyu', karena sulit
untuk mengukur derajat shalat yang demikian seperti sulitnya mengukur rasa cinta kepada seseorang. Kita tidak bisa menilai
cinta seseorang hanya karena ia selalu memberi uang atau sering mengunjungi rumah kekasihnya setiap malam Minggu. Buku ini
akan mengungkapkan dari segi hikmah shalat secara subyektif (pribadi), yaitu sebuah pengalaman (experience) yang bisa Anda
rasakan langsung manfaatnya. Pengalaman tentang bagaimana shalat mampu memberikan rasa tenang, rasa santai dan merasakan
keluasan jiwa kalau dilakukan dengan sikap meditatif. Bukan sikap shalat seperti orang yang sedang diburu hantu, lari tunggang
langgang tanpa kesadaran, yang penting kewajiban shalat dipenuhi. Diharapkan setelah mencoba mempraktekan latihan-latihan
shalat dengan benar, kita akan mampu menemukan kembali sesuatu yang hilang dalam diri kita. Rasa kembali kepada Allah secara
fitrah, tempat ruhani kita beristirahat saat berada didekat Nya, tempat
Mengapa shalat khusyu sulit didapatkan ?
Allah menghedaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, (Al Bagarah, 2: 185 )
Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hiddupnya. Peluang itu sebenarnya bisa
diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita memahami
hal ini dengan paradigma keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi kaya terlebih
dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna.
Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi ini sebenarnya ada pada diri kita sendiri.
Banyak ( yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperoleh. Anda telah membuktikan
dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah
dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Cinta dan bahagia muncul dari dalam diri kita sebagai potensi yang paling asas
manusia. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kita minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak
sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.
Pertanyaan pertama yang muncul di benak kita adalah: "Mengapa shalat khusyu' sulit didapatkan?" Sementara di lain pihak, tak
terhitung banyaknya orang seluruh dunia, sejak ribuan tahun lalu, mengolah kerohaniannya dengan caranya masing-masing. Jadi
pasti ada sesuatu yang dapat mereka peroleh darinya. Bahkan beberapa teknik dianjurkan dalam bentuk yang berbeda oleh hampir
setiap agama dan sistem kepercayaan. Ummat Islam pun memiliki cara meditasi tersendiri, yaitu shalat yang memiliki gerakan dan
bacaan tertentu sebagai terapi mental spiritual dan kesehatan tubuh sehingga diharapkan memberi manfaat bagi pelakunya. Akan
tetapi jarang orang yang mampu mengungkapkannya sebagai sebuah pengetahuan praktis yang bersifat universal, bahwa shalat
merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan kedamaian, ketenangan dan keselamatan. Bukan hanya sekedar
mengatakan, bahwa shalat itu wajib hukumnya bagi orang Islam, tanpa mendalami maksud dan tujuan shalat dalam konteks
manfaatnya bagi manusia.
Sebagaimana banyak pelaku meditasi mengatakan bahwa di dalam bermeditasi terdapat perasaan pulang ke rumah (perasaan
nyaman), seolah-olah menemukan suatu benda berharga yang sempat hilang. Lawrence IeShan, dalam bukunya "Bagaimana
Bermeditasi" menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara
samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita
kehilangan benda tersebut.7
7 Rosalind Widdowson, Meditasi, terjemahan Ricky Nalsya. Penerbit Inovasi 2002. Halaman 12
Dan apakah sesuatu yang hilang dari kita itu?
la adalah kontak dengan potensi diri kita yang mungkin pernah kita miliki yaitu berupa ketenangan dan kebahagiaan. Semua
orang merindukan keadaan ini, baik orang kaya maupun miskin. Namun kadang-kadang kita tergoda dengan melakukan
kesenangan eksternal yang bersifat temporer dan tak akan berlangsung lama. Kita mencari ketenangan dengan biaya yang sangat
mahal untuk sekedar santai dan mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Kita Tdak pernah menyadari untuk memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tempat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan. Akibatnya
kita tdak pernah mendengar jamaah di masjid memperbincangkan pengalaman shalat yang baru saja dilakukan. Sehabis shalat,
ekspresi mereka tampak datar dan hambar. Tidak menunjukkan keadaan hati yang sedang
berbahagia karena tersentuh cahaya Ilahi. Berbeda dengan para pelaku meditasi. Ekspresi mereka menunjukkan adanya
kebahagiaan dan perasaan nyaman, sehingga mereka pun ketagihan untuk mengulang kembali meditasi yang telah membawanya
ke dalam diri yang hening dan damai.
Meditasi telah diminati oleh banyak orang diberbagai negara maju maupun berkembang, temasuk di Indonesia, karena dirasakan
langsung ada manfaatnya. Meditasi telah menjadi sebuah solusi yang handal untuk menjawab persoalan kehidupan masyarakat
modern di barat. Banyak kajian-kajian ilmiah mengenai psikologi transendental yang telah diteliti oleh para ilmuwan dari efek
meditasi, misalnya dalam penyembuhan pasien yang mengalami gangguan stress.
Sungguh menakjubkan bila kita tahu betapa banyaknya waktu yang digunakan orang untuk mendapat pengetahuan mengenai
cara mencapai kebahagiaan jiwa yang hakiki (ekstasis). Para penganut aliran Jung berpendapat, bahwa dengan penyatuan dari ego
jantan dan ego betina, animus dan anima, maka didapatkan kenyataan jiwa yang tidak pecah.
Apakah diakui atau tidak, kebanyakan orang Islam pun terlibat dalam sebuah pencarian yang melelahkan untuk memperoleh hal
sama (ekstasis), yaitu sebuah kekhusyu'an. Sayangnya, sampai kini tidak banyak sarjana muslim yang berani membicarakannya
secara objektif. Mungkin karena mereka sudah menganggap shalat sebagai ibadah mahdhah yang tidak boleh disentuh oleh kajian
ilmiah yang bersifat apa adanya. Di lain pihak, banyak juga orang yang mengatakan bahwa khusyu' hanya bisa dilakukan oleh orangorang
terpilih saja, seperti para Nabi dan wali-wali Allah. Kita hanya diperintahkan untuk memenuhi kewajiban bukan disuruh
melakukannya dengan khusyu'. Yang terpenting syarat rukunnya sah, nanti diakhirat akan didapatkan pahala yang melimpah. Kalau
sudah berpendapat seperti ini, sulit bagi kita untuk membahas persoalan khusyu' dari sisi psikologi, yang barangkali merupakan akar
persoalan kegagalan kita dalam shalat. Seperti halnya perintah membaca Al Qur'an dibulan Ramadhan (tadarus), kita merasa
bangga kalau kita telah membacanya sebanyak tiga puluh juz. Sementara kita melupakan, bahwa perintah membaca Al Qur'an itu
bukanlah sekedar mengejar target bersyair dan berlomba paduan suara, akan tetapi untuk dikaji (mengaji) dan dilaksanakan.
Perintah membaca Al Qur'an merupakan kewajiban pertama dan merupakan jendela ilmu yang akan kita raih dari kandungan setiap
ayatnya. Kita banyak berhenti pada kalimat perintah awal tanpa ingin mengetahui mengapa kita diperintahkan untuk itu. Prinsip ini
mempengaruhi kultur masyarakat kita terhadap etos kerja dan belajar yang amat rendah.
Syariat shalat telah menjadi bagian aktivitas yang menjemukan, bukan menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Nabi sebagai
tempat istirahatnya jiwa dan tubuh, sebagaimana sabda beliau: "Wahai Bilal jadikanlah shalat sebagai istirahatmu". Berbeda dengan
prinsip yang telah kita jalani selama ini, bahwa shalat merupakan sesuatu yang membebani. Kita akan merasa lega dan terbebas
dari beban itu setelah kita mengucapkan salam di akhir shalat. Terkadang jadi amat lucu mendengar seseorang ketika diajak shalat
mengatakan: "Ah nanti saja shalatnya kalau pikiranku sudah tenang". Hal ini menunjukkan bahwa shalat sudah merupakan bagian
rutinitas yang amat membebani hidup. Shalat bukan lagi bagian dari kebutuhan ruhani selayaknya orang butuh istirahat (rileks) di
gunung, di pub atau rekreasi di pantai untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Barangkali pelatihan shalat yang akan saya
utarakan nanti akan bisa membantu memasuki pengalaman (experience) yang menyenangkan dan bisa dirasakan manfaatnya
secara langsung. Insya Allah.
Kita tidak pernah
menyadari untuk
memanfaatkan shalat
sebagai alat penolong,
sumber hidup, penerang
jiwa & tempat kita
bertanya tentang
persoalan yang sulit
dipecahkan.
Mencoba konsentrasi
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah (HR Abu Daud)
Kita terbiasa menggunakan istilah konsentrasi untuk setiap melakukan pekerjaan yang serius sehingga tergambar di raut muka,
wajah penuh ketegangan dan kening mengkerut menambah kesan, bahwa kita sedang berkonsentrasi.
Keluhan pertama yang kita rasakan selama shalat adalah sulit berkonsentrasi! Upaya kita untuk menempuh kekhusyu'an dengan
menggunakan konsentrasi dalam shalat hampir selalu gagal. Ketika shalat, pikiran tetap melayang-layang tidak bisa dikendalikan.
Padahal segala tata cara syariat telah terpenuhi, baik bacaan maupun raka'atnya. Namun lagi-lagi pikiran pergi tanpa kompromi.
Tahu-tahu shalat sudah usai tanpa disadari.
Otak seperti bekerja sendiri-sendiri. Yang satu bekerja mengeluarkan memori bacaan dan gerakan yang telah biasa dilakukan
setiap shalat secara refleks, sedangkan pikiran yang satu berjalan memikirkan pekerjaan di luar shalat yang dirasa belum selesai.
Hal ini disebabkan karena otak memiliki dua belahan, otak kiri dan otak kanan, dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Kemampuan otak kiri atau left cerebral hemisphere adalah melakukan proses berpikir yang bersifat logis, sekuensial, linear dan
rasional. Sisi ini sangat teratur walaupun, berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara
berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas yang teratur seperti ekspresi verbal dalam menulis, membaca, mengartikan pendengaran/
menempatkan detail dan fakta fenotik serta simbolik. Di dalam shalat, otak kiri berkaitan dengan syariat shalat seperti hitungan
raka'at, bacaan dan berurutan (tertib).
Di sisi lain, otak kanan atau right cerebral hemisphere berpikir secara acak, tidak tidak teratur, intuitif dan holistik (spiritual). Cara
berpikirnya sesuai dengan hal-hal yang bersifat non verbal seperti mengetahui perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan
dengan perasaan, merasa kehadiran suatu benda atau orang lain, kesadaran ruang, pengenalan bentuk dan pola, musik,seni,
kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Acuan utama otak kiri adalah memorisasi, hafalan. Para peserta pendidikan formal di seluruh tingkatan, dituntut untuk mampu dan
mahir di dalam hafalan serta memiliki sistem memorisasi yang baik. Itulah parameter keberhasilan yang saat ini dipakai dalam sistem
pendidikan Seseorang yang tidak memiliki kemampuan memorisasi cukup tinggi akan dinilai sebagai kurang berhasil di dalam
pendidikannya. Ini suatu vonis yang akan berlangsung seumur hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupannya kelak.
Memorisasi dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan seseorang di masa depan. Ini sudah
menjadi semacam hukum tak tertulis di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah
dan terhitung primitif. Itulah yang menurut Dr Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit cyber yang menjadikan pikiran manusia modern
berubah menjadi pikiran mekanis dan digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebutkan sebagai HIV dan AIDS di dunia
inteligensi/ pikiran, Human Intellingence Virus yang menimbumbulkan Acquired Intellingence Deficiency Syndrome. Inteligensi
manusia bisa lenyap karena virus sehingga intelligence-nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational intelligence, tidak
lain dari pada digital intelligence 8. Orang seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah dan
penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang dengan hukum hukum positif sajal
8 Dr Hidayat Nataatmaja ,intelligence spiritual .Perenial Press 2001
Barangkali ini soal cara berpikir yang efektif meskipun tidak lengkap, tetapi sudah menjadi kebiasaan kita karena pengajaran
agama atau pendidikan di sekolah yang lebih memfungsikan potensi otak kiri. Cara berpikir ini, membuat pikiran kita hanya terarah
pada satu tujuan tertentu yang memang sudah dipolakan. Kita tidak memiliki alternatif selain mengulang pola tersebut. Bila pola itu
tidak bisa dipakai, yang terjadi adalah kita terpaksa mengulangi proses dari awal lagi, setahap demi setahap. Orang akan sangat
efektif, tetapi sekaligus juga kaku dan tidak berkembang. Inilah permulaan kita memahami penyebab mengapa kekhusyu'an sulit
diperoleh. Karena kita hanya mengaktifkan fungsi otak kiri sementara potensi otak kanan dibiarkan liar melayang secara tidak teratur.
Sebagai contoh, mari kita lihat dalam ilustrasi di bawah ini:
Seorang ibu memberikan arahan di saat-saat yang sangat penting, yaitu di kala anaknya akan duduk di pelaminan dalam acara
resepsi pernikahannya: "Kalian harus bersikap ramah dan tampak sumringah (ceria) dihadapan para tamu".
Undangan telah disebar untuk sekitar empat ribu orang. Acara diselenggarakan di sebuah gedung yang cukup mewah dengan
sentuhan adat Jawa yang menambah kesan sakral. Acara dimulai, irama musik Kebo Giro sudah mengalun. Satu persatu tamu
undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Sesuai dengan pesan ibunya, keduanya harus menjaga penampilan yang
iebih dari biasanya. Untuk seratus tamu undangan pertama, wajah mempelai mampu mempertahankan keramahan dengan
senyumannya yang bersih dan bersinar penuh pesona. Namun setelah lima ratus undangan, otaknya mulai bekerja, memerintahkan
syaraf bibirnya untuk terus tersenyum, agar sorot matanya tetap bersinar, pundaknya tetap rileks, namun si mempelai tampak
kewalahan dan kecapaian.
Itulah batasan otak kiri di dalam melakukan aktivitasnya yang sekuensial, digital, linier, teratur dan logis. Namun ia tidak memiliki
kemampuan abstraksi, imajinasi, intuisi dan holistik (spiritual). Akibatnya, berpikir dengan otak kiri akan mudah mengalami
kejenuhan karena tidak adanya wilayah yang luas di dalam pikirannya. la telah dipola untuk tersenyum sebagaimana yang telah
dijadikan pola-pola dalam sekolah kepribadian pada dunia modeling maupun pramugari. Mereka diharuskan untuk bersikap ramah
dan tampil menarik. Sementara sikap ini muncul bukan dari inner beauty yang berasal dari aktivitas otak kanan yang tidak bersifat
rasional tetapi relasional, emosional dan spiritual.
Hal ini telah diperingatkan oleh Nabi kepada para peshalat yang hanya mengarah kepada aktivitas syariat yang logis. Hanya
teratur dalam bacaan dan raka'at tanpa memperhatikan hakikat rasa ihsan dan keyakinan yang muncul dari emosional dan bersifat
relasional. Akibatnya timbul rasa jenuh dan capek.
Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan leah.
Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa shalat malah menjadi beban bukannya sebagai obat penenang? Ketika pola berpikir rasional
menyebabkan jenuh dan stress, orang-orang di Barat menggunakan meditasi sebagai alternatif terakhir untuk mencapai pencerahan
dan ketenangan. Bagi orang yang tidak memahami akan hal ini, agama akan menjadi beban hidupnya. Allah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
(Al Bagarah, 2:185)
Awareness adalah kata lain untuk berpikir secara seimbang dan lengkap dengan memakai otak Kiri dan kanan secara sadar dan
efektif. Selama ini kita gagal untuk melakukannya. Ketidakseimbangan cara berpikir ini akan berpengaruh kepada tubuh, secara fisik
maupun psikis, sehingga langsung berpengaruh terhadap cara beribadah kita yang dinamakan tidak khusyu'. Kita menjadi tidak bisa
berkonsentrasi karena terasa pikiran pecah (berjalan terpisah). Akibatnya shalat menjadi menjemukan dan capek. Sebagaimana
yang sering kita rasakan, pekerjaan yang paling menjemukan adalah pekerjaan menunggu. Namun, kita akan bisa berlama-lama
kalau berdua dengan seorang kekasih sehingga putaran jam terasa berjalan begitu cepat. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Pada saat shalat, otak kiri telah bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menghitung, mengatur raka'at, dan membaca secara
verbal setiap kalimat yang telah dipola serta mengulang-ulangnya. Di sisi lain, otak kanan telah lari kemana-mana sesuai dengan
potensinya yang acak, melayang mencari inspirasi dan intuisi. Dan karena sifat holistik memiliki loncatan quantum yang lebih cepat
dari pada apa yang kita pikirkan, maka ia mampu masuk ke dalam ruangan tak terbatas. Apabila pikiran dan cara berpikir sudah
seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat
kita secara optimal. Setiap orang berhak atas pencerahan ini, walaupun barangkali ukuran dan intensitasnya tidak sama dengan
para wali dan nabi. Paling tidak, untuk merasakan sentuhan Ilahi secara langsung bukan lagi sebuah utopia yang sulit diraih.
Khusyu' bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Sering kita mendengarkan penjelasan metode
yang menyatakan tentang pembelajaran kecerdasan emosional spiritual. Padahal yang dilakukan dengan metode tersebut tetap saja
merupakan unsur pembelajaran kognitif yang dimodifikasi dan tetap berkonsep matematis (otak kiri). Metode yang lainnya juga
sering berbicara tentang masalah shalat khusyu' tetapi pembicaraannya hanya di sekitar masalah karakteristik. Caranya tidak pernah
beranjak ke arah suatu pelatihan atau pemahaman yang mampu menggerakkan atau mengaktifkan bagian otak kanan, sehingga
shalat khusyu' hanya menjadi bagian dari impian saja.
Kamis, 09 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar